Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Seusainya Malang, Sesampainya Jombang

Gambar
Oleh HB. Arafat - Seusai berkeliling di pondok pesantren yang didirikan Kyai Ahmad, kami kembali menuju parkiran bus. Di jum’at pagi yang semoga mabruk, sebagaimana penjaja buah apel Malang yang riang menawarkan dagangannya yang ada tulisan “ Rp. 10.000 ,-”. Sebagian ibu-ibu membelinya, sebagian lainnya terus berjalan menuju parkiran. Saya menemani kang Toha menanyakan harga pasar, lokasi dan hal-hal mengenai usaha buah yang ditekuni penjaja itu. Sementara itu, saya memegang-megang buah apel yang hijau muda kulitnya. Saya tidak membelinya, lantaran sisa uang saku, saya simpan untuk menuntaskannya di Jombang dan Tuban. Selain itu, saya tadi sudah membeli kripik apel yang murah harganya, 10.000,-dapat empat bungkus sedang. Namun mengecewakan lantaran isinya hanya beberapa potong per bungkusnya. Seusainya bertanya-tanya, kami pun bergegas menuju parkir bus. Jam smartphone menunjukkan pukul 07.45 WIB, bus berjalan meninggalkan parkir PP. SBBAFR. Sebagaimana perjalanan sebelumnya...

Pergunjingan yang Ngawur

Gambar
Oleh HB. Arafat - Keempat, yang kami pertanyakan adalah ini pesantren atau masjid. Kalau pesantren dimana santrinya, kalau masjid dimana sujudnya? Pada akhirnya, di akhir perjalanan kami menemukan jawaban bahwa ini pesantren. Di akhir jalan-jalan di PP. SBBAFR, kami menemui bedhes di kamarnya masing-masing. Engkau tahu kan teori evolusi, bahwa manusia bermula dari bedhes . Barangkali mereka lah santri PP. SBBAFR. Lantaran sejatinya manusia itu bedhes , maka bedhes lah engkau sekalian yang membaca tulisan ini. Sehingga tidak perlu manusia yang saat ini lebih bedhes dari bedhes asli, cukup bedhes saja yang jadi santri, sebab mereka tidak rakus sebagaimana manusia. Tapi santri kalau tidak rakus bukan santri. Manusia menjadi santri lantaran merasa banyak nilai-nilai negatif yang terkandung di dalam dirinya, maka mendaftarlah dirinya sebagai bagian dari santri untuk meminimalisir nilai-nilai negatif yang terkandung dalam dirinya. Kalau nilainya positif, hamil dong. Tapi sekarang ka...

Masjid dari Bangsa Jin

Gambar
Oleh HB. Arafat - Dalam perjalanan berkeliling di tiap sudut ponpes Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rohmah, —kemudian saya singkat PP. SBBAFR, meski sedikit lebih rumit dari nama tim sepak bola negaramu antara lain PSMS, PSMP, Persekabpas, PSIR, PSPS, hingga PS TNI. Namun apalah daya daku, sebab bukan tukang akronim— saya dan kang Toha sempat menggunjingkan pesantren yang secara arsitektur modern mestinya membutuhkan biaya anggaran yang besar dan butuh SDM yang sangat banyak. Lalu apa saja yang kami gunjingkan selama mengelilingi PP. SBBAFR, mari simak ulasan saya yang agaknya lebih cenderung pada pengawuran. Meminjam frasanya mbah Tejo, “Ngawur karena Benar” yang saya dan Toha lakukan. Cekidot, mari simak: Pertama, menurut penuturan penjaga pintu masuk, PP. SBBAFR, bukan masjid yang diyakini masyarakat sekitar, melainkan pondok pesantren salaf sebagaimana ponpes salaf lainnya. Kalau memang benar pesantren salaf, kok sepanjang kami mengelilingi PP. SBBAFR tidak menj...

Komunikasi Kebudayaan [2]

Gambar
Oleh HB. Arafat - “Kok yowis? Emangnya ada yang memulai?” Lelaki lain itu agaknya mulai naik pitam, meski pitam sendiri tidak bisa dinaikin, lantaran pitam sudah naik belalang tempur, itu mah baja hitam. “Pikirmu, piye, jal?” Sahabat saya mulai agak jengkel di level garis tengah. Meski tetap ia menyisipkan sedikit tawa. Tertawa kok sedikit, pelit amat ya. “Aku cuma berpikir tentang mengomentarimu. Dalam komentar itu berpikir soal pendapat Mbah Nun. Itu saja. Kok tiba-tiba panjenengan ngidul, sementara aku ngalor.” Lelaki itu mulai menyadari bahwa percakapannya dengan sahabat saya tidak nyambung. Ia pun sedikit tertawa mengikuti sedikit tertawanya sahabat saya. Sahabat saya pun tertawa juga, melihat lelaki di hadapannya itu tampak tertawa. “Ketua tim seleksi apa layak tertawa disaat menjaring calon pemimpin?” Lanjut lelaki itu sembari raut mukanya berubah sedikit serius. Sahabat saya hanya tertawa, dan kali ini tidak sedikit tertawa, namun tertawa banyak atau terbahak. “A...

Komunikasi Kebudayaan [1]

Gambar
Oleh HB. Arafat - Seusai Sholeh pergi entah kemana, di sebelah kiri saya terdengar suara dari seorang lelaki—yang belum laku— yang tak asing bagi saya, sedang memaparkan ketentuan dan syarat bagi calon ketua dewan kesenian daerahnya. Sementara anak kecil yang asik bermain gadjet masih nyaman duduk di dekat saya. Sekitar lima sampai sepuluh menit, lelaki itu terus ngedumel soal syarat dan ketentuan. Lelaki itu sahabat saya yang konon rumahnya di kramatwatu. Seorang sastrawan kelas Asia Tenggara, yang masih suci dari godaan virginisme . Virginisme adalah paham bahwa kemestian seorang wanita itu masih utuh perawannya untuk dihaturkan kepada Penguasa Semesta Raya. “Pemimpin yang tidak punya harga diri ialah yang mencalonkan diri sendiri. [1] ” Sergah lelaki lain yang tidak saya kenal di hadapannya, rambutnya panjang dan ikal, kulitnya kuning kecokelatan. “ Peyan iki loh .” Jawab lelaki yang mengaku sebagai sahabat saya, padahal ia sudah saya anggap saudara, sembari tertawa sin...

Datang Perginya Sholeh

Gambar
Oleh HB. Arafat - Sahabat saya seorang supir rental mobil di Semarang, Sholeh namanya, tiba-tiba datang di hadapan saya, kemudian saya tanyai. “Leh, kok tumben tidak narik?” Ia pun menjawab, “Emange robot.” Jawabannya kalau dikaji secara ilmiyah dan tinjauan akademik bukanlah jawaban yang tepat untuk mendapatkan nilai A atau B. Tapi begitulah komukasi masyarakat jawa, yang hidupnya sudah diatas linier, sudah melewati batas statis, sehingga secara ilmiyah dan tinjauan akademik instansi pendidikan manapun tak akan bisa mengikuti budaya komunikasi leluhurnya. Alih-alih merasa belum sampai pada tingkatannya, instansi pendidikan yang tidak dilahirkan dari budaya bangsanya malah ngecap bahwa komunikasi kami atau jawaban dari Sholeh adalah kesalahan menjawab dalam berkomunikasi. Sebagaimana anak-anak TK yang tahunya hanya huruf, angka akan kebingungan ketika mengetahui hubungan intim antara bapak dan ibunya di atas ranjang. Oleh sebabnya, masyarakat kita selalu menjaga agar informa...

Selfie, Zaman Now dan Mbah Luroh

Gambar
Oleh HB. Arafat - Tidak hanya saya yang termasuk dalam zaman now. Ibu-ibu ternyata mengidap salah satu penderitaan zaman now, yakni selfie. Ketika sedang asik-asiknya selfie, mbah Luroh yang mestinya terhindar dari godaan zaman now memanggil saya, meminta untuk mengambil gambar beliau. Meski sebenarnya saya terganggu, lantaran nikmat mana selain selfie yang akan (pemuda zaman now seperti) saya dustakan. Namun ketergangguan saya kalah oleh etika seorang murid harus patuh dengan gurunya selama tidak melakukan kejahatan. Etika sesama manusia yang harus saling menghormati, disitulah kekalahan saya. Maka kali ini maafkan saya yang zaman now ini, tak bisa mengunggah foto-foto saya kepada engkau-engkau. Terlepas mbah Luroh itu guru ngaji alif ba ta tsa jim , photography merupakan bidang yang saya gemari meski dengan alat jepret seadanya. Sehingga dalam keadaan terganggu pun, saya menikmati mengambil gambar beliau, apalagi beliau juga mengajak Mamak untuk berswafoto. Meski usia mba...

Ponpes Zaman Now

Gambar
Oleh HB. Arafat - Kami melaksanakan sholat shubuh di transit dekat parkir bus, lantaran kami minim informasi mengenai masjid Tiban, Ngalam. Sementara masyarakat sekitar menuturkan bahwa masjidnya dibuka sekitar pukul 05.30 WIB. Seusainya sholat shubuh dengan paket wiridan yang tak boleh ditinggalkan, kami kemudian bergegas menuju masjid. Berjalan kaki sepanjang 300 meter, bagi kami yang orang desa, orang kampung yang ndeso , jarak tersebut teramat pendek, apalagi bagi saya yang terbiasa bonek. Bonek itu akronim dari bondo nekat, secara definisi adalah aktifitas seseorang yang menempuh jalan panjang tanpa ada bekal kecuali kenekatan itu. Meski bonek sudah menjadi ikonik masyarakat Surabaya, khususnya pendukung kesebelasan Persebaya, tak ada salahnya bagi saya Aremania memakainya kan? Jam smartphone menunjukkan pukul 06.00, sementara jam digital di pintu masuk masjid Tiban menunjukkan 06.03 WIB. Soal perbedaan jam saya dengan jam masjid tidak perlu kita perdebatkan, lantaran j...

Kepada Engkau di Duduk Tasyahud

Gambar
Oleh HB. Arafat - “ Allahu Akbar ” seusai sujud, duduk iftorsy dan sujud. “ Attahiyatul mubarakatus sholawatut thayyibatu lillah, assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh, assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis sholihin. Asyhadu an laailaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shollaita ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima fil ‘alamina innaka hamidum majid. Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabil qobri wa min ‘adzabin nar wa min fitnatil mahya wal mamat wa min fitnatil masihid dajjal, Allahummagfirly ma qoddamtu wa ma akhkhortu wa ma asrartu wa ma a’lantu wa ma asraftu wa ma anta a’lamu bihi minni antal muqoddimu wa anta muakhkhiru ya muqallibal qulubi tsabbit qolby ‘ala dinika wa ‘ala tha’atika innaka ‘ala kulli sya...

Qunut

Gambar
Oleh HB. Arafat - “ Sami’a Allahu liman hamidah .” “ Rabbana lakal hamdu mil ‘us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil ‘u maa syi’ta min syai’in ba’duh .” Stop, jangan keburu takbir dan sujud dahulu. Lantaran di rekaat kedua ada do’a qunut yang mesti kita “ amini ” yang dilantunkan mbah Ta’ib. Do’a qunut mesti dijalankan ketika sholat Shubuh berlangsung, sebab dahulu kanjeng Nabi Muhammad juga melaksanakannya. Meski di beberapa sumber lain mengatakan, Beliau Nabi tidak melaksanakan do’a qunut dalam sholat shubuhnya. Sumber lain mengatakan, Beliau Nabi hanya melaksanakan do’a qunut ketika terjadi bencana yang melanda daerahnya. Jadi untuk engkau yang tidak do’a qunut lantaran memakai sumber lain itu atau lantaran tidak sholat shubuh, janganlah kalian mengatakan kepada kami bahwa yang kami lakukan itu salah. Jika pun yang benar adalah kanjeng Nabi tidak melakukan do’a qunut, semoga yang batal hanya do’a qunutnya saja, tidak keseluruhan sholat kami. Jika pun yang benar adalah k...

Jomblo dan Gerakan Shubuh Berjamaah

Gambar
Oleh HB. Arafat - Di rekaat kedua, mbah Ta’ib membaca surat Al Insyiroh seusainya al fatihah. Lupakanlah shaf dan LGBT sebelumnya, lantaran sebelah kanan saya, mbah Ali dan sebelah kiri saya, kang Toha. Mereka berdua tidak memiliki rekam jejak perLGBTan atau perbungaan, baik ketika di pesantren maupun di kampung. Meski kang Toha masih memiliki kecenderungan untuk dikatakan bagian dari LGBT, lantaran di usia yang siap nikah, ia belum menikah. Oh ya, saya kan senasib. Jangan-jangan saya juga. Maka baiknya saya tidak berpikir soal LGBT, kalau-kalau ada yang mendengar dan mengetahui akan mempertegas kejombloan saya. Definisi jomblo tidak sebatas pada ketidakmemilikinya kekasih atau pacar saja. Lebih dari itu, meski saya memiliki kekasih atau pacar, selama saya belum berani membelikannya cincin dan menaruhnya di jemari manisnya. Lalu dalam tempo selekas-lekasnya memberi undangan kepada pak Naib untuk mencatat kami berdua sebagai sepasang suami dan istri. Maka bisa dikatakan saya...

Shaf, LGBT dan Setan

Gambar
Oleh HB. Arafat - Di rekaat kedua, konsentrasi saya mulai goyah. Kekhusyukan saya agaknya mulai rapuh oleh khayalan, imajinasi, bayangan dan teman-temannya. Meski shaf sudah dirapatkan, ternyata masih ada setan yang berhasil masuk tiap sel-sel, nadi, urat, saraf, aliran darah saya. Sehingga, terkadang kalau ada imam sholat berujar “ jamaah sekalian, tolong shafnya dirapatkan ” dengan tujuan agar kekosongan itu tidak diisi oleh setan perlu ditinjau ulang oleh sang imam. Lantaran yang sebenarnya perlu dirapatkan bukan shaf materil berupa barisan jamaah yang tumit kakinya saling bersentuhan. Kalau engkau merasakan gesekan kulit sesama lelaki, apa yang engkau bayangkan selain LGBT? Sudahlah engkau jangan berimajinasi terlampau jauh, sebab untungnya di desa saya tidak pernah terjadi imam yang berlaku sebagaimana imam tadi dan saya sendiri belum pernah mengalami tumit kaki saya bergesekan saat sholat. Kalau kelak saya mengalami itu, bisa jadi tidak segan-segan saya akan injak langsu...

Untung Tidak ke Istri Kedua

Gambar
Oleh HB. Arafat - “ Sami’a Allahu liman hamidah ” Allah telah mendengar pujian dari para pemujiNya. Maka ketika tubuh sudah tegak, seraya kita berucap “ Rabbana lakal hamdu mil ‘us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil ‘u maa syi’ta min syai’in ba’du ”. Barangkali sebagian ada yang sekadar “ Rabbana lakal hamd ”. Perbedaan itu tidak lantas menjadikan kita bersitegang, adu kebenaran. Kalau dalam memuji saja masih berurusan dengan benar dan salah, kita tidak akan sampai pada subtansi pujian itu. Sebagaimana ketika engkau bertemu kekasihmu, benar-salah adalah hal yang akan terabai dalam pujian yang engkau berikan pada kekasihmu. Allah Tuhan kami, bagi dan kepadamu segala puji, seluruh langit dan bumi dan segala sesuatu yang tidak sanggup kami jangkau, yang telah kau kehendaki setelahnya. “ Allahu Akbar ”. Lalu sujud, menyatukan pikiran dengan bumi yang dipijak sembari mengucap “ Subhana Rabbiyal a’la wa bihamdih ”. Maha suci Tuhan yang begitu luhur dan bersama pujiNya. Keluhuran ad...

Gajah Bukan Penunggang Gajah

Gambar
Oleh HB. Arafat - Mbah Taib sebagai imam membaca surat al Fiil—kalau diterjemahkan artinya gajah. Dalam bayangan saya terlintas segerombolan gajah Thailand masuk ke negaramu, melewati Aceh. Tapi, bagaimana caranya gajah menyeberangi samudera Hindia? Kedalaman samudera berapa meter dan tinggi gajah berapa meter, tidak akan sebanding, kalau gajah Thailand masuk ke negaramu melewati samudera Hindia. Namun bisa jadi teknologi lorong waktu dipakai oleh mereka. Kalau dipakai oleh mereka, pak haji yang sekarang jadi wakil gubernur Jawa Barat mengapa tidak memakainya? Karena Zidane sudah melatih Real Madrid, sehingga pak Haji tidak ada partner untuk melorongi waktu-waktu. Yang saya bayangkan bukanlah negaramu saat ini, melainkan ketika negaramu dan negara saya masih menjadi satu: Nusantara. Ketika datarannya masih sambung-menyambung, tidak sekadar dari sabang sampai merauke. Ketika negaranya bukan berupa negara kesatuan, melainkan negara persemakmuran. Negara Demak, Negara Aceh, Neg...

Kasih Sayang Takbir [2]

Gambar
Oleh HB. Arafat - “ Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in ”, hanya kepada Allah kita mengabdi dan hanya kepada Allah juga kita meminta pertolongan. Kepasrahan semacam ini merupakan wujud membesarkan Allah tanpa perlu memakai timbangan, ukuran-ukuran ilmiyah dan ekonomi yang biasa digunakan akademisi, ilmuwan dan ekonom bangsamu. Hanya kepada Allah kita mengabdi dan hanya kepada Allah juga kita meminta pertolongan. Kepada siapa selain Allah yang akan engkau abdi? Perusahaan, presiden, kapitalisme, iluminati, ulama’, habaib, ketua partai, artis atau kah engkau mengabdi dirimu sendiri, mengabdi pada nafsumu? Kepada siapa selain Allah yang akan engkau mintai pertolongan? Partai I, ormas N, perusahaan D, pabrik O, bos N, presiden E, habib S, kiai I, artis A atau engkau meminta tangan yang bukan milikmu, kaki yang hanya dipinjami, mata yang hanya ijin pakai saja? Kepada siapa coba engkau akan mengabdi dan meminta pertolongan? Maka mintalah “ ihdinas shirotol mustaqim ”, agar hidup kit...

Kasih Sayang Takbir [1]

Gambar
Oleh HB. Arafat - “ Allahu akbar ” sesungguhnya Allah lah yang besar. Saya dan dunia teramat kecil dari Akbarnya Allah, sehingga kalau saya tidak sholat betapa bodohnya saya yang masih berkutat dengan hal-hal yang kecil, sementara besarnya Allah saya lupakan. Begitupun kalau engkau takbir, namun dalam hatimu belum bisa membesarkan Allah, sama halnya engkau sedang menistakan Allah—melebihi mantan gubernur yang katamu menistakan agama saja. Akbarnya Allah tidak bisa diukur dengan timbangan bakul buah, bakul ikan, bakul penganan , lantaran besarnya Allah tidak terletak pada berat material, letaknya pada seberapa engkau merasa tak berdaya dan tak bisa apa-apa. Kebesaran Allah adalah “ Bismillahirrahmanirrahim ”, dengan pemahaman Allah yang penuh kasih sayang. Maka permulaan dari kebesaran Allah dan puncaknya adalah engkau mesti memahami kasih sayang terlebih dahulu. Kasih sayang bukan sebatas lelaki menyayangi wanita, wanita mengasihi lelakinya saja, namun kasih sayang kepada se...

Cinta Not Citra

Gambar
Oleh HB. Arafat - Citra itu sangat penting jika engkau ingin menjadi seorang politisi. Lantaran kalau engkau menjadi politisi hanya dengan kejujuran dari kehidupanmu yang biasa-biasa saja—bahkan mungkin saja ada kebohongannya— engkau tidak akan laku dalam pemilihan umum nanti. Praktik citra politisi sebenarnya sudah dipraktikkan oleh ekonom muda bangsamu dengan mengemas cantik gorengan harga seribu yang biasa dijual nyai Suki dengan harga dua ribu hingga dua ribu lima ratus. Selain itu, dengan pengemasan, tingkat jual akan semakin tinggi daripada ditaruh loyang, nampan, papahan dan alas lainya oleh nyi Suki. Makanya, banyak politisi yang berangkat dari teori market citra, yang mulanya batu kerikil yang berlumut dicat serupa emas dan berlian. Mereka akan diam, sebab kalau mereka bicara akan melakukan kebohongan ganda—setelah memalsukan batu kerikil berlumut sebagai emas dan berlian. Namun setelah beberapa tahun, banyak pembeli, banyak rakyat yang merasa dibohongi dengan prak...

Pertandingan Besar

Gambar
Oleh HB. Arafat - “Kita baru saja selesai dari pertandingan kecil menuju pertandingan besar.” Seusainya pertandingan berakhir, kang Toha berujar pada saya. “Apa pertandingan besar itu kang? Pertandingan melawan tim besar semisal Barcelona, Real Madrid kah?” Saya balik bertanya dan terperangah lantaran kang Toha tidak biasanya bertutur keren semacam itu. “Pertandingan menaklukkan diri sendiri.” Jawabnya sembari menikmati rokok produksi Kediri. “Bukankah saya itu hanya satu. Lalu pertandingannya bagaimana kalau tidak ada lawannya kang?” Saya mencoba nguber dengan pertanyaan agar ia kembali menjawab dengan pernyataan kerennya lagi. “Sampeyan itu tidak hanya satu aslinya. Ada sampeyan yang ruhul idhofi . Ada sampeyan yang jasad , yang ruhul ‘aql , yang ruhun nafs . Ruhul idhofi saja ada yang bernama ruhul quds dan ruhul hayat . Kita yang berada pada zona ruhul hayat . Selain itu, ruhul idhofi juga ada yang bernama roh rabani , roh nurani dan roh rahmani .” “Apa itu k...

Pritttt, Pertandingan Berakhir

Gambar
Oleh HB. Arafat - Disaat ibu-ibu sedang melanjutkan istirahatnya, menunggu waktu shubuh tiba, saya dan kang Toha menikmati rokok, kopi dan tempe goreng sembari menyaksikan pertandingan mendebarkan antara Manchester United Vs Fc. Basel. Tentunya cara nonton kami tidak seperti orang jadul yang hanya nonton via televisi. Kami harus mencari alamat “url”—cara bacanya “url” saja atau “u-er-el” kami masih bingung— yang siap menanyangkan pertandingannya. Kang Toha sepertinya mengalah untuk tidak memilih pertandingan, ia manut dengan pilihan saya. Lantaran gadjet yang dipakai itu milik saya. Selain itu, barangkali kang Toha tidak memiliki klub kebanggaan yang perlu untuk ditonton. Asalkan sudah nonton bola, nikmatlah hidup. Begitu yang saya tangkap dari kang Toha dan beberapa manusia yang saya kenali. Kebanyakan manusia Inidinesia adalah manusia yang tidak sampai mendewakan tim sepak bola sebagaimana suporter-suporter eropa, yang sampai kenashranian , keyahudian , keagamaannya akan s...

Tadabbur Keluarga Bangsa

Gambar
Oleh HB. Arafat - “ Nang, tangi nang. Wes tekan masjid Tiban .” Bisik mbah Maskiyah sembari menepuk pundak saya agar terbangun dari tidur. Ternyata wanita yang sedang menciptakan kemesraan dengan prianya, lelaki tua yang dimaki menantunya dan saya yang sedang menyamar menjadi ustadz hanya sebuah mimpi yang terbangun dari beberapa bagian yang terpisah. Meski itu mimpi, saya akan berusaha mentadabburi mimpi, kalau menafsirkan biarkan nabi Yusuf saja yang ahlinya. Saya tidak mengenal ketiga manusia yang hadir dalam mimpi, saya hanya mengenal diri sendiri diluar tiga manusia itu. Lelaki muda adalah simbolisme semangat yang mesti dikobarkan oleh setiap rakyat yang selanjutnya di dalam hadits disebutkan memiliki kewajiban menjaga harta orang tuanya atau yang saya tadabburi sebagai sebuah bangsa. Rakyat harus memiliki jiwa demonstran dan kritis jika bapak tidak lagi melaksanakan kewajibannya dan tidak bertanggung jawab. Selain itu, ia adalah simbol suami yang melindungi istrinya d...