Pergunjingan yang Ngawur


Oleh HB. Arafat
-

Keempat, yang kami pertanyakan adalah ini pesantren atau masjid. Kalau pesantren dimana santrinya, kalau masjid dimana sujudnya? Pada akhirnya, di akhir perjalanan kami menemukan jawaban bahwa ini pesantren. Di akhir jalan-jalan di PP. SBBAFR, kami menemui bedhes di kamarnya masing-masing. Engkau tahu kan teori evolusi, bahwa manusia bermula dari bedhes. Barangkali mereka lah santri PP. SBBAFR. Lantaran sejatinya manusia itu bedhes, maka bedheslah engkau sekalian yang membaca tulisan ini. Sehingga tidak perlu manusia yang saat ini lebih bedhes dari bedhes asli, cukup bedhes saja yang jadi santri, sebab mereka tidak rakus sebagaimana manusia. Tapi santri kalau tidak rakus bukan santri. Manusia menjadi santri lantaran merasa banyak nilai-nilai negatif yang terkandung di dalam dirinya, maka mendaftarlah dirinya sebagai bagian dari santri untuk meminimalisir nilai-nilai negatif yang terkandung dalam dirinya. Kalau nilainya positif, hamil dong. Tapi sekarang kan sudah tersedia kondom di minimarket yang menjamur di setiap sudut dan gang bangsamu. Apalagi bu menterinya melegalkan juga pil KB. Jadi tetap negatif kan bedhes-bedhes sekalian yang dibedhesi oleh bedhes berdasi.

Pertama setengah dua (dalam bagian keempat), kok bedhes malah saya jadikan bedhes hitam. Padahal sejatinya tanpa adanya bedhes, dahulu kala nenek moyang makhluk hidup, Setan sudah memberitahu Allah—Allah kok diberitahu makhluknya ya?—ketika Adam diciptakan, maka itulah awal dari kehancuran alam semesta. Padahal alam semesta sudah tentram sebelum datangnya A hoox di ibu kota, eh maksudnya manusia di alam semesta. Maka itulah kemungkinan mengapa santri di PP. SBBAFR bukan manusia dan jin—manusia dan jin adalah paket penciptaan yang menjadi PR permasalahan bangsamu—, melainkan bedhes. Ada juga, burung, katak, ikan, kelelawar dan santri dari makhluk berjenis binatang, selain bedhes. Ada juga tanaman yang jumlahnya ratusan, ribuan. Kedua (bagian empat), PP. SBBAFR juga masjid, lantaran engkau tahu sendiri bahwa seluruh alam semesta bersujud kepada Allah. Jadi dimana pun tempatnya selama ada proses persujudan dari makhluk kepada Khaliq, disanalah masjid namanya. Flora dan fauna di PP. SBBAFR barangkali yang menjadi jamaah sujud kepada Allah.

Kelima, menurut saya, secara teori penamaan tempat dari ilmu kampus-kampus yang ayamnya pada berkokok untuk mencari duit buat bayar semesteran, bahwa PP. SBBAFR tidak layak disebut masjid atau pun pesantren. Namun lebih condong kepada plaza, karena yang namanya plaza tentu menyediakan segala kebutuhan manusia secara materil. Di PP. SBBAFR, terdapat kantin makan, toko souvenir, kebun, wisata arsitektur, wisata jalan-jalan di gedung luas dan 10 lantai, wisata pemandangan alam Ngalam, kebun binatang, wisata religi ziarah kubur dan fasilitasnya masjid, toilet dan AC alami. Mungkin begitulah kiranya menurut saya yang banyak salahnya. Tapi kan sudah memenuhi untuk dikategorikan sebagai plaza.

Sudah itu saja ya guys, lantaran kalau saya perpanjang gunjingannya, nanti dikira kami kontra terhadap kehadiran PP. SBBAFR. Padahal aslinya kami bahagia dengan hadirnya PP. SBBAFR meski santrinya itu jin, bedhes dan manusia yang hanya kami temui segelintir saja. Kami bahagia sekali karena bisa berkunjung ke PP. SBBAFR, meski ketika ziarah, saya malah menziarahi diri sendiri, bukan Kyai Ahmad. Kami bahagia, khususnya saya yang puas selfie dengan eksotisnya bangunan dalamgambar-gambar di smartphone saya. Kami bahagia, merefleksi diri dengan alam semesta yang hadir di PP. SBBAFR. Mungkin inilah surga yang terjatuh di tanah Ngalam.

Sebelumnya, saya ingin memperjelas bahwa segala pergunjingan kami hanya berdasar pada kengawuran seorang manusia yang banyak salahnya. Bukan analisa yang menggunakan data dan fakta yang benar dan ilmiyah. Oleh sebab itu, jangan sampai catut nama saya, ketika munkar dan nakir bertemu engkau, ketika raqib dan atid berkunjung ke rumahmu. Saya menegaskannya lantaran redaksi esaimini sangat lemah mental dan syahwatnya, sehingga tidak akan ngaceng ketika ditemui wanita permasalahan. Maka mari kita pulang, mari kita kembali ke bus yang telah disewa ibu-ibu jam’iyyah al Masyithoh. Kembali melanjutkan perjalanan menuju Jombang.



HB. Arafat, santri Ust. Ulil Farich, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator