Perubahan Budaya adalah Koentji
... Karena pada dasarnya, budaya bersifat dinamis (selalu berubah-ubah sesuai kebutuhan). Ini adalah koentji. Lebih tepatnya kebutuhan masyarakat, karena pemilik kebudayaan adalah masyarakat (bukan individu).
Fenomena perubahan pakaian, bahasa, dst., belum bisa dikatakan perubahan budaya jika 'pelaku'nya individu. Belum bisa disebut masyarakat jika tidak ada beberapa unsurnya, termasuk individu. Maka kebudayaan, merupakan kesepakatan kebutuhan masing2 individu dalam lingkup masyarakat secara luas.
Karena kebudayaan adalah "kebutuhan", maka "boleh" untuk setiap individu menggunakan kebudayaan yang dianggap mampu memenuhi kebutuhannya (dalam ranah ini, boleh berkesimpulan bahwa kebudayaan adalah kebutuhan primer individu).
-
Dalam perkembangannya, banyak terjadi fenomena dimana suatu kebudayaan mulai ditinggalkan karena kebutuhan zaman. Pun terjadi di mana-mana, suatu kebudayaan yang sudah mati dihidupkan kembali oleh sekelompok individu (Era Romantisme, misalnya) karena merasa dibutuhkan lagi.
Tetapi uniknya, sifat kodrati ke-ingin-tahu-an manusia tidak jarang membawa individu/masyarakat menggunakan kembali budaya yang sudah ditinggalkan masyarakat yang lain. Ini bisa jadi bukti Firman Allah bahwa manusia diciptakan berbeda-beda, adalah agar saling mengenal (mengenal kebudayaan misalnya).
Para budayawan tentu sudah sangat paham dengan konsep tersebut. Namun ironisnya, banyak kalangan (individu/kelompok) yang sering menentang adanya perubahan budaya. Bahwa perubahan budaya adalah hal tabu; bahwa budaya leluhur harus dipertahankan sampai akhir zaman; dan lain seterusnya.
Faktanya, kita berbicara soal Budaya, yang bersifat dinamis. Bukan soal Agama yang bersifat statis dogmatis.
