Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dinamis

Nasi Kucing, Gorengan, dan Semesta Pengetahuan

Gambar
Sebagian mahasiswa percaya bahwa kuliah yang sesungguhnya terjadi tidak dalam kelas, melainkan di luar. Kuliah dalam kelas hanya serupa pintu-pintu. Hanya membuka, memantik pengetahuan. Di luar kelas, eksplorasi pengetahuan tersedia di mana-mana, sebanyak-banyaknya. Salah satu medium eksplorasi pengetahuan yang populer adalah Angkringan. Tempat yang akrab dengan nasi kucing dan gorengannya. Angkringan menjadi tempat istimewa di hati para pecintanya. Sambal pedas yang memaksa dahi berpeluh gairah, ditambah gorengan yang renyah- kriyuk -gurih saat dikunyah, menjadi ritmis dengan sepoi angin malam yang membelai tubuh mesra. Luruh menetes segar, bersama glek-glek es teh manis yang ditenggak secara sporadis-memesona. Belum lagi jika didampingi secangkir kopi, yang aromanya selalu saja memantik diskusi. Wueeess pokoknya tooppp markonahh, eh, markotop! (Tetapi perlu anda percaya, bahwa saya tidak sedang endorse atau promosi apapun. Karena angkringan, nyatanya emang ngangenin!) - Bungkus...

Perubahan Budaya adalah Koentji

Gambar
Oleh Abdur Rozaq - ... Karena pada dasarnya, budaya bersifat dinamis (selalu berubah-ubah sesuai kebutuhan). Ini adalah koentji. Lebih tepatnya kebutuhan masyarakat, karena pemilik kebudayaan adalah masyarakat (bukan individu). Fenomena perubahan pakaian, bahasa, dst., belum bisa dikatakan perubahan budaya jika 'pelaku'nya individu. Belum bisa disebut masyarakat jika tidak ada beberapa unsurnya, termasuk individu. Maka kebudayaan, merupakan kesepakatan kebutuhan masing2 individu dalam lingkup masyarakat secara luas. Karena kebudayaan adalah "kebutuhan", maka "boleh" untuk setiap individu menggunakan kebudayaan yang dianggap mampu memenuhi kebutuhannya (dalam ranah ini, boleh berkesimpulan bahwa kebudayaan adalah kebutuhan primer individu). - Dalam perkembangannya, banyak terjadi fenomena dimana suatu kebudayaan mulai ditinggalkan karena kebutuhan zaman. Pun terjadi di mana-mana, suatu kebudayaan yang sudah mati dihidupkan kembali ...

Teman Imajinasi dan Sajak Sebatang Lisong

Gambar
Banyak orang memiliki teman imajinasi. Teman yang tidak ada kemudian diada-adakan untuk menemani. Baik sekadar bermain, maupun membantu berkarya. Teman imajinasi sangat membantu terutama bagi pribadi-pribadi yang gemar menyendiri. Tentu saja tidak semua orang punya teman imajinasi. Tapi saya yakin semua orang pernah memikirkannya, baik ketika masih kecil maupun sampai remaja. Tentang pribadi yang suka menyendiri, teman imajinasi menjadi pilihan yang teramat kuat. Tingkat ke-ada-annya berbeda setiap orang. Ada yang sekadar berbicara dengan diri sendiri sebagai refleksi, ada yang sampai mempercayai dalam skala nyata. Yang menarik adalah yang kedua. Teman imajinasi yang mendekati nyata. Terutama dalam dunia tulis menulis, yang kedua ini kerap kali menjadi titik tumpu. Teman imajinasi menjadi tokoh yang responsif terhadap persoalan utama, sehingga tulisan seolah hidup dengan adanya komunikasi dua arah. Ini hanya pengamatan saya pribadi, tentu saja. Penulis yang terbiasa menggunak...