Mertamu Nabi dan Pertaubatan Iblis
Oleh HB. Arafat - Sehabis shalat isya’—beserta wirid dan doanya— kami tunaikan, anak-anak berduyun-duyun menuju masjid. Ada yang membawa rebana, ada yang membawa jidur, ada yang membawa bass, ada yang membawa marawis, sebagian lainnya membawa jajanan, minuman, jajan. Sebagian lainnya mulai menata microphone dibantu mas Aris—beliau menjabat sebagai marbot, untuk mengeraskan suara rutinan malam senin, mertamu kepada baginda Agung Nabi Muhammad. Syukur-syukur nanti yang diluar masjid ikut mendengarkan dendangan cinta, lantunan rindu, suara-suara kangen, dan bisikan dalam hati, lalu bergegas ke masjid untuk merapatkan barisan-barisan pecinta yang sedang di mabuk asmara. Mas Arinal keluar dari dalam masjid, maulid sudah saatnya dipentaskan sebagai persembahan cinta dan rindu manusia-manusia yang tak pernah berjumpa dengan kekasihnya Muhammad. Mas Arinal merupakan putra mursyid tarekat di desa kami. Meski beliau termasuk anggota jam’iyyatul gawagis—merupakan jama’ dari kata “Gu...