Kisah Biasa dari Manusia-Manusia Biasa [1]
Oleh HB. Arafat
-
Kedua temanten sudah duduk di singgasana yang telah dirancang sedemikian rupa oleh tukang dekorasinya. Tukang dekorasi itu bagian penting dari suatu acara pernikahan yang senasib dengan tukang asah-asah, tukang masak, tukang traktat, tukang soundsystem, yang sering dilupakan oleh para tamu undangan. Pastinya para tamu hanya mengingat manusia-manusia yang mendapatkan posisi sebagai peng-ular-ular, naib, saksi dan mereka yang memegang mikrophon. Bicara mikrophon, saya jadi teringat oleh kejadian seorang kiai yang nyerobot mikrophon kiai lainnya yang sedang memberi wejangan pada para jamaah yang terjadi di desa saya.
Kembali pada kedua temanten anyar, sebab waktu ini dunia hanya milik mereka berdua. Saya, lek Shobirin, Mamak serta tamu-tamu lainnya sekadar numpang ngekos. Ah, lupakanlah dua kalimat sebelumnya, sebab sudah klise, sudah mainstream, diucapkan banyak manusia berbagai level hidup untuk menyinggung pasangan yang sedang kasmaran—bukan bukunya gus Usman Arrumy. Saya sekadar mengingatkan engkau-engkau semua, jangan lupakan jasa-jasa tukang yang tidak memegang mikrophon, yang jasanya justru sangat besar bagi keberlangsungan pernikahan mereka berdua. Sementara kedua temantennya sedang asyik bercengkrama, memadu kisah baru pada hari ini. Tradisi disini, seluruh acara resepsi dilangsungkan di tempat mempelai putri saja. Sementara di tempat mempelai pria hanya dilangsungkan proses amplopisasi untuk temanten prianya.
Mamak sudah memberi sandi “mari pulang nak”, sandinya tidak menggunakan sandi morse, sandi semapor, sandi akun sosmed, melainkan hanya pergerakan mata beliau yang bergerak-gerak cepat. Secepat pula saya menemui temantennya, melaksanakan proses amplopisasi, tapi yang terpenting bagi saya yakni ngalap barokah, getok tular, semoga selekasnya Gusti Allah kang murbeng ing dumadi mengakadkan saya. Selain amplop, masyarakat sini senang jika diucapkan sesuatu yang masih beraroma pernikahannya, saya pun basa-basi mengucapkan selamat, agar sah syarat rukun kondangannya. Prosesi amplopisasi sudah tunai, waktunya pulang dengan membawa berkat yang belum bisa saya identifikasi secara persis isinya, sebab masih dalam plastik hitam yang dibawa Mamak.
Kami pulang dengan hal yang biasa-biasa saja, apalagi ini musimnya orang menikah. Jadi biasa-biasa saja, sebagaimana putra Pak Joko yang biasa-biasa saja menjadi anak Pak Presiden. Biasa saja, kalau uang tabungan saya harus dibongkar untuk menyelipkannya ke dalam amplop tanpa nama. Sebab kebiasaan teman-teman memberi nama pada amplopnya tidak saya lakukan. Saya malu jika harus ketahuan jumlah yang sama berikan, padahal uangnya warnanya biru. Kalau dikalkulasi pengeluaran untuk tradisi amplopisasi dengan pendapatan yang saya peroleh, akan terjadi krisis moneter dalam ekonomi hidup saya. Tapi nyatanya biasa saja itu terjadi pada saya, sebab tradisi itu sudah bisa menimpa saya. Apalagi seminggu ini full dengan jadwal kondangan penikahan teman, saudara dan tetangga, coba hitung berapa budjet yang harus saya keluarkan. Jawaban bisa dikirim ke akun sosial media bapak Presiden, jawaban yang benar akan dikasih hadiah sepeda onthel dari bapakmu masing-masing.
Kami sudah sampai rumah dengan rasa yang biasa saja. Adzan maghrib sudah diputar dari pita suara muadzinnya. Meski pick-controlnya kurang pas, cengkoknya kurang memuaskan serta nadanya terlalu banyak treble dan minim bass alias cempreng, namun kami biasa-biasa saja dan menerima panggilan ke masjid plus penanda waktu tersebut secara legowo. Saya biasa ke masjid, biasa pula tidak ke masjid, namun sudah terbiasa dengan sholat lima waktu. Saya jadi teringat waktu kecil pernah ditantang almarhum bapak, kalau saya sanggup jamaah di masjid selama sebulan 30 hari tanpa bolong satu pun, akan beliau belikan sepeda, waktu itu masih terbilang barang mewah. Syukurlah saya bisa mendapatkan sepedanya dengan komitmen yang sesuai kesepakatan awal antara saya dan almarhum bapak. Biasa saja kan cerita-ceritanya? Biasakanlah mendengar kisah yang biasa-biasa dari manusia biasa.
—
HB. Arafat, murid Bapak Muftil Umam, Welahan-Jepara
