Segitiga Cinta: Telinga, Mulut dan Mata
Oleh: HB. Arafat - Saya tidak berani menyimpulkan tangan siapa tadi yang aromanya tak pernah saya temui dalam kehidupan saya. Sebab mata saya tertutup, mulut saya katup, telinga pun luput. Kalau Rasulullah masak iya, Rasul yang begitu suci berkenan menyalami makhluk yang selalu berusaha menjadi manusia, manusia yang selalu berusaha menjadi muslim seperti saya. Masak iya, beliau baginda Nabi Muhammad yang menyalami, bisa iya, bisa tidak. Iya dan tidaknya tidak perlu dipertentangkan dan dipertarungkan meski dalam konstelasi para calon (n)guber-nur Jawa bagian tengah. Bisa iya, kalau yang (n)guber-nur itu memiliki marwa n h serta ia diganjar kemampuan menyayangi sebagaimana musthofa. Bisa tidak, kalau-kalau konstelasinya menjadi suatu kontestasi yang mencari menang dan kalah personal. Kok malah ngelindur sampai (n)guber-nur , semoga mereka benar-benar nguber nur yang cahaya akan terpancar pada seluruh umat dan masyarakat. Nur sendiri adalah penciptaan pertama yang dilakukan...