Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Tahlil dan Kearifan Lokal

Gambar
Oleh HB. Arafat - “ Laa IlaHa IllaAllah ” kami lantunkan sampai banyak kali, sebanyak kali di Kabupaten Demak. Barangkali karena banyak kalinya, banyak pelaku ngising di kali. Maka tak mengherankan jika bupatinya bikin baliho besar yang isinya sudah saya bahas di esaimini sebelumnya. Kalau engkau bingung maksudnya, saran saya, coba engkau buka atau tengok-tengok judul lainnya. Intinya, “ ojo ngising sembarangan ”. “ Laa IlaHa IllaAllah ”, jangan jijik dengan kata “ ngising ” ya, karena “ ngising ” itu salah satu proses yang religius juga. Coba engkau pikir deh, siapa yang mengatur jadwal ngising -mu? Bapakmu, Ibumu, Istrimu, atau engkau sendiri? Kalau engkau tidak bisa menjawab, mari kita pikir lagi, siapa yang menjadwal ngising-nya Prabu Hayamwuruk? Patih Gajah Mada? Istrinya atau staf kerajaan-nya? Tidak bisa jawab kan? Kalau engkau bisa menjawab, pastilah jawabannya Allah. Jadi “ Laa IlaHa IllaAllah ” adalah persetujuan bahwa tidak ada apa-apa selain Allah. Hanya Allah yan...

Puisi untuk Gus Dur

Gambar
Oleh HB. Arafat - Selain kenangan-kenangan itu, sebenarnya ada banyak kenangan lain dengan keluarga dan sahabatnya Gus Dur, yang kemudian mengantarkan saya untuk teringat Gus Dur. Dan hari ini, adalah lebaran bagi saya, setelah berpuasa sejak 2009 —ketika Gus Dur sedho — sampai hari ini untuk berziarah ke makam beliau. Ada suatu rasa yang tak bisa saya bahasakan ke dalam kata dan bahasa apa, tapi yang jelas duduk berdekatan dengan beliau saya teramat nyaman. Selain itu, ada sedikit isak tangis yang menetes dari mata, air mata syukur, air mata bahagia, air mata penyesalan, air mata mata air lainnya, yang entah sejatinya rasa apa. Tiba-tiba saya ingin menuliskan puisi, begini: Di Pusara Pejuang Kemanusiaan : Gus Dur adakah yang lebih dalam dari persaudaraan untuk mewujudkan kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, kesatriaan dan kearifan lokal. yang engkau rajut dalam langkah-langkahmu yang gontai tapi tegar kemanusiaan lahir dari persaudaran yang kua...

Persaudaraan dan Kenangan

Gambar
Oleh HB. Arafat - Dari persaudaraan, kita mesti menyadari bahwa urgensinya dalam kehidupan sangat sentral. Bahkan ayat-ayat mengenai persaudaraan, hubungan, silaturrahim begitu banyak. Sampai-sampai berdosalah manusia jika mendiam-dinginkan saudaranya selama lebih dari tiga hari tiga malam tanpa harus lapor pada RT setempat. Engkau sendiri tahu, bahwa dari Gus Dur, persaudaraan tidak sebatas pada satu ormas, satu agama, satu negara dan satu jenis makhluk saja. Lebih dari itu, persaudaraan harus kita laksanakan meluas pada alam semesta seisinya. Hal itu sebenarnya sudah di-laku-kan oleh manusia-manusia zaman old Nusantara. Sementara manusia zaman now, persaudaraan hanya sebatas pada media sosial saja. Malangnya lagi, dalam media sosial tidak menjalin persaudaraan malah menjalin pertengkaran. Maka demi terwujudnya persaudaraan lintas makhluk, kami berziarah ke makam-makam, sebagaimana yang Gus Dur laku-kan sebelum kematian menghampiri beliau. Sesampainya di hadapan pusara Gus ...

Dari Persaudaraan Kebangsaan dan Kemanusiaan Hingga Persaudaraan dengan Nyi Roro Kidul

Gambar
Oleh HB. Arafat - Jadi kalau dia itu saudara setanah air dan sebangsa, yang dalam istilahnya disebut ukhuwah wathaniyyah, engkau tak akan mengaggap saudaramu itu akan makar terhadap bangsamu, anti pancasila, lalu engkau perangi dan benci sejadi-jadinya. Masak ada orang yang memiliki Tuhan dikatakan anti pancasila? Kan tidak logis toh? Kalau pun dia tidak sesuai pandangan mengenai sistem negara yang baik dan yang direstui Allah, janganlah engkau kafir-kafirkan, thagut-thagutkan, haram-haramkan, lalu engkau jauhi sebagai najis dan seolah dia itu bukan saudara sebangsa dan setanah airmu. Kalau bukan saudaramu, mengapa engkau masih menetap di tanah air dan bangsa yang sama? Sudahlah, tak perlu saling membenci, memerangi, menjauhi, memfitnah satu sama lain. Ada hal yang lebih besar dari sekadar sudut pandang dan pemahaman yang sifatnya masih subjektifitas, yakni persaudaraan, khususnya persaudaraan kebangsaan. Persaudaraan yang berdasarkan kesamaan bahwa mencintai tanah air itu s...

Melanjutkan Persaudaraan

Gambar
Oleh HB. Arafat - Saya kok malah ngelantur kepada sahabat saya yang bernama asli Umar Afiq, seorang warga PSHT. Padahal kita sedang serius membahas persaudaraan ya cuk! “Cuk” sendiri adalah bentuk kemesraan sesama saudara, bukan begitu cuk? Jadi jangan marah dan jangan lantas memakai pasal 335 Ayat (1), sebab pasal itu sudah dihapus. Jangan marah ya cuk, kita kan saudara—sembari dikasih emot yang pipinya merah merona tanpa banteng moncong putih—. Kalau engkau marah saya panggil “cuk”, saya panggil “akh” saja ya, sebab engkau sukanya “akhi” toh? Mari kita kembali bahas soal persaudaraan yang adil dan beradab, yang diwarisi Gus Dur. Loh, saya kok malah menistakan pancasila, sila ke-2, ampun ya “akh” jangan laporkan pada Abu Janda—kapan perawannya ya?—. Eh, tunggu dulu, saya tidak menistakan pancasila kok, apalagi sila kedua berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, jadi berbeda dengan yang saya katakan tadi kan? Saya kok tambah ngelanturnya ya, mari kembali kepada persaudara...

Terbukanya Gerbang Persaudaraan

Gambar
Oleh HB. Arafat - Setelah satu jam kami menunggu terbukanya pintu makam, tepatnya pukul 14.15 WIB. Kami langsung bergegas masuk ke makam Baginda Maulana Abdurrahman Wahid. Selain Gus Dur, di tempat ini juga berbaring kakeknya yang mendirikan NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan ayahanda Gus Dur, Alkarim ibnal Karim Abdul Wahid Hasyim. Selain ketiga tokoh tersebut yang sudah terlanjur mempengaruhi jutaan manusia Nusantara dalam ajaran Islam Moderat—bukan suatu ajaran baru, namun Islam itu memang moderat—, terbaring seluruh keluarga besar dan abdi ndalem Mbah Hasyim Asy’ari. Mereka adalah pejuang hidupnya islam yang ramah, bukan islam yang marah. Tapi sejak kapan islam marah? Sejak lahirnya front mantan yang tak lekas move on dari peradaban dan perubahan zaman. Islam sendiri berasal dari kata salam yang berarti damai. Maka tidak mengherankan bila Islam menganjurkan setiap pemeluknya untuk menebar salam kepada setiap makhluk—khususnya manusia, lebih khusus lagi kepada umat Is...

Dari Gus Dur, Keberanian itu Teplek yang Kadang Menang Kadang Kalah

Gambar
Oleh HB. Arafat - Untuk menegakkan ketauhidan di tanah yang pemimpin dan pejabatnya tidak menyertakan Tuhan dalam kebijakannya, dibutuhkan nilai keberanian. Untuk melaksanakan kemanusiaan di tanah yang tidak memanusiakan manusia dengan praktik buruk pelayanan publiknya dibutuhkan nilai keberanian. Untuk menyatakan keadilan di tanah yang menjunjung tinggi manipulasi dan kedzaliman, nilai keberanian lah yang harus tampil di garda terdepan. Untuk menciptakan kesetaraan di tanah yang tidak menghargai hak dan kewajiban rakyat secara menyeluruh, dibutuhkan juga nilai keberanian. Untuk menghidupi pembebasan, di tanah yang me-makar-kan sedikit usul, gebuk komunitas yang memiliki gagasan perubahan, nilai kesatriaan dan keberanian lah yang dibutuhkan. Nilai keberanian itu hadir pada Gus Dur. Sebab selain beliau, tidak ada yang berani istiqomah dalam nilai itu. Apa engkau temui seorang begawan pasca reformasi yang berani bersikap sederhana selain beliau? Tidak ada kan? Ada kok, nyatany...

Belajar Kesederhanaan dari Gus Dur

Gambar
Oleh HB. Arafat - Dari nilai keadilan, kesetaraan dan pembebasan, manusia setidaknya akan menumbuhkan nilai kesederhanaan dalam dirinya. Demikian juga Gus Dur, yang sejak dahulu sampai akhir hayatnya selalu bertarekat pada kesederhanaan. Mari kita ingat kisah-kisah beliau sebagai bukti kesederhanaannya. Sesuai apa yang mbak Alissa Wahid alami ketika SMP, Gus Dur pernah hutang sisa uang saku putrinya tersebut. Hal tersebut bukan berarti Gus Dur itu miskin —apalagi fakir, sehingga harus hutang pada putrinya. Menurut saya, dalam kasusnya mbak Alissa, Gus Dur ingin mendidik putri-putrinya agar selalu hidup dengan gaya hidup miskin, meski nantinya akan kaya. Sehingga uang saku mbak Alissa waktu SMP cuma empat puluh ribu per bulan artinya per hari uang sakunya sekitar seribu empat ratus. Kalau di jaman sekarang, hanya bisa membeli gorengan dua dan permen—untuk standar harga Demak. Andai pun beliau miskin, miskin juga hal yang baik sebagaimana kanjeng Nabi Muhammad yang berdoa semo...

Dari Gus Dur: Keadilan, Kesetaraan dan Kebebasan

Gambar
Oleh HB. Arafat - Setelah kemanusiaan hadir di dalam jiwa dan lakumu, maka lambat laut akan tercipta sendiri nilai keadilan, kesetaraan dan pembebasan. Begitulah Gus Dur, selain kemanusiaan yang tampak lahir dari dirinya, keadilan juga hadir. Dalam Islam, khususnya kalangan nahdliyin, tak asing lagi dengan istilah al ‘adalah yang berarti adil, bersikap obyektif, proporsional dan taat asas kemanusiaan —baik hak maupun kewajiban. Menurut Gus Dur, konsep keadilan bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Maka, Qur’an bisa dikatakan sebagai sumber pemikiran tentang keadilan. Gus Dur juga menyebutkan bahwa wawasan keadilan itu qisth, hukm hingga ‘adl sendiri. Kalau ada anak bernama Aceh dan Yogya dibelikan baju yang sama, itu namanya tidak adil. Lantaran kebutuhan anak Aceh adalah baju linto baro, sementara anak Yogya butuh memakai baju surjan. Kalau engkau menjadi orang tua diantara mereka dan engkau memenuhi itu, maka engkau telah adil. Sebagaimana kasus tersebut, tak...

Ketauhidan dan Kemanusiaan Gus Dur

Gambar
Oleh HB. Arafat - Bicara Gus Dur, kita akan disuguhi banyak sudut pandang, diantaranya soal pemikiran. Pemikiran merupakan predikat atau kata kerja yang dalam proses dan hasilnya masih memiliki ikatan erat dengan nilai. Sesuai yang saya ketahui dari catatan Jaringan Gusdurian soal nilai-nilai yang lahir dari pemikiran beliau, setidaknya ada sembilan hal yang perlu kita teladani. Kesembilan nilai itu yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, kesatriaan, persaudaraan dan kearifan lokal. Sementara lahirnya nilai itu tidak lantas sekadar sampai pada buah ide semata sebagaimana para penulis yang melahirkan buah karya dan buah ide, melainkan nilai-nilai itu sudah menjadi laku keseharian Gus Dur. Nilai ketauhidan yang dipegang erat beliau dapat kita lihat dari ceramah-ceramahnya yang tiap beda tempat dan waktu, beliau pun berbeda dalam menyebut nama Allah. Bahwa tauhid sesungguhnya tidak terletak pada sesering apa engkau menyebutNya dengan satu...

Beberapa Alasan dan Do'a Malaikat Mengenai Gus Dur

Gambar
Oleh HB. Arafat - Dalam waktu menunggu terbukanya pintu masuk ke makam, saya kembali teringat cerita kiai-kiai NU mengenai Gus Dur. Konon sampai detik ini Gus Dur belum pernah ditanyai malaikat, lantaran syarat malaikat untuk menanyai manusia yang habis di kubur belum terpenuhi. Yakni selama belum ada yang manusia meninggalkan kubur orang yang meninggal itu—entah hitungan langkahnya berapa tidak pasti lantaran ada perbedaan mengenai hitungan langkah—, tidak akan ditanyai malaikat. Sampai-sampai kalau malaikat sebagaimana manusia, memiliki rasa lelah, mungkin sang malaikat akan beli jamu atau ke tukang pijat, sampai capeknya hilang. Gegara menunggui peziarah yang tak lekas-lekas pulang dari makamnya Gus Dur. Namun, dengan kejadian menunggu terbukanya pintu, saya berpikir bahwa mungkin saja malaikatnya teramat capek, sehingga berdoa kepada Allah untuk memberikan waktu selekas-lekasnya menanyai Gus Dur. Permohonan malaikat dengan alasan agar prestisius malaikat tidak jatuh lant...