Terbukanya Gerbang Persaudaraan


Oleh HB. Arafat
-

Setelah satu jam kami menunggu terbukanya pintu makam, tepatnya pukul 14.15 WIB. Kami langsung bergegas masuk ke makam Baginda Maulana Abdurrahman Wahid. Selain Gus Dur, di tempat ini juga berbaring kakeknya yang mendirikan NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan ayahanda Gus Dur, Alkarim ibnal Karim Abdul Wahid Hasyim. Selain ketiga tokoh tersebut yang sudah terlanjur mempengaruhi jutaan manusia Nusantara dalam ajaran Islam Moderat—bukan suatu ajaran baru, namun Islam itu memang moderat—, terbaring seluruh keluarga besar dan abdi ndalem Mbah Hasyim Asy’ari.

Mereka adalah pejuang hidupnya islam yang ramah, bukan islam yang marah. Tapi sejak kapan islam marah? Sejak lahirnya front mantan yang tak lekas move on dari peradaban dan perubahan zaman. Islam sendiri berasal dari kata salam yang berarti damai. Maka tidak mengherankan bila Islam menganjurkan setiap pemeluknya untuk menebar salam kepada setiap makhluk—khususnya manusia, lebih khusus lagi kepada umat Islam. Lantaran kalau engkau sudah silmi—menyelami perdamaian— terhadap islam, engkau pasti menebarkan salam kepada siapa saja dan terkadang salam itu berupa senyum. Itulah langkah awal sebelum menjalin persaudaraan.

Sementara itu, nilai kedelapan dari sembilan yang Gus Dur tinggalkan untuk kita urai sebagai bekal hidup di dunia adalah persaudaraan. Persaudaraan itu kepanjangan-tangan dari lita’arafu-nya syu’uban wa qabail. Sebelum memasuki ruang persaudaraan, kita mulanya adalah manusia independen dengan latar belakang dan karakter yang berbeda. Kemudian kita dengan insting, naluri dan rasa, kita saling mengenal independensi antar manusia. Dalam perkenalan itu terwujudlah persaudaraan, yang kadang membudaya menjadi suku dan bangsa. Dalam ruang suku dan bangsa, kita dipertemukan dengan suku dan bangsa, kemudian menjadi perkenalan dan berlanjut pada persaudaraan skala besar. Jadi persaudaraan adalah sesuatu yang terdalam dari diri manusia yang memang sudah dititahkan seperti itu.

Sepengetahuan saya, persaudaraan yang dipelajari di pesantren itu ada empat macam, yakni: persaudaraan nahdliyin (ukhuwah nahdliyyah), persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyyah) dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah). Sementara menurut saya, empat macam persaudaraan itu hanya pondasi dasar untuk menuju persaudaraan yang lebih luas dan Gus Dur telah menjalin persaudaraan yang tidak hanya empat macam tadi. Dalam hal persaudaraan nahdliyyin, Gus Dur sejak lahir sudah mendapatkan tempat di hati nahdliyyin, yang pada akhirnya Gus Dur harus rela mendapat mandat memimpin jam’iyyah Nahdlatul Ulama’. Itulah bukti persaudaraan nahdliyyin beliau kuat. Kalau bukan karena persaudaraan, bagaimana bisa beliau diamanahi untuk mengemban amanah yang sentral bagi nahdliyyin.

Konon, dulu sewaktu beliau hendak dimakzulkan oleh Cak Amin Rais, banyak masyarakat nahdliyyin yang rela datang dari pelosok untuk membela Gus Dur dari kedzaliman itu. Namun Gus Dur tidak mengijinkan itu terjadi, demi terjaganya persaudaraan kebangsaan. Selain sebagai wujud dari nilai persaudaraan nahdliyyin, itu pun wujud persaudaraan kebangsaan yang diperlihatkan Allah melalui Gus Dur. Sejatinya nilai-nilai yang Gus Dur ajarkan pada kita bukan nilai-nilai yang diciptakan Gus Dur, melainkan nilai sejati dari Allah yang diwujudkan melalui diri Gus Dur.

Bicara soal persaudaraan, saya jadi teringat sahabat saya, mas Warga, yang akan saya temui di Tuban nanti, sehabis ziarah di Makam Gus Dur. Selain kami sudah menalikan persaudaraan satu sama lain, yang membuat saya semakin teringat, lantaran dia salah satu warga Persaudaraan Setia Hati Terate atau yang biasa disingkat PSHT. PSHT sendiri merupakan persaudaraan yang berwajah seni bela diri asli bangsamu, Indonesia, pencak silat. Meski PSHT lebih tua ketimbang bangsamu, cuk! Tenanglah engkau. Kata “cuk” adalah salah satu wujud persaudaraan diantara kita loh! Selain teringat mas Warga, banyak sahabat-sahabat di pesantren yang jadi warga, khususnya kang Dul, tapi dia hanya sampai pada sabuk hijau saja.



HB. Arafat, santri Ust. Iskandar Dinoto, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator