Kebhinnekaan Angkringan, Pemersatu Umat Manusia
Oleh HB. Arafat
-
Lek Teguh yang daritadi di sebelah kirinya kang Dul, sedikit-sedikit mulai meminta penjelasan kepada kang Dul mengenai "Hubungan Tidak Tersenyum dengan Benci Seseorang Dilihat Dari Perspektif Ilmu Katuranggan". Ia juga menyentil "Pengaruh Kebhinnekaan Nasi Kucing Terhadap Perdamaian dan Persatuan Pelanggan di Kedai Kopi Garuda". Namun yang dipertanyakan lek Teguh bukanlah untuk tujuan memberi pencerahan masyarakat, khususnya mahasiswa, agar hal tersebut digunakan sebagai judul-judul skripsi, tesis atau karya ilmiah anda semua. Sebab kalimat lek Teguh bisa saja dicopy paste oleh siapa saja yang tak bertanggung jawab.
Lek Teguh orangnya kurus, kulitnya hitam, rambutnya gondrong, dan ahli tirakat. Berbeda dengan kang Dul yang penampilannya agak nyentrik, perpaduan antara modern dan tradisional, perpaduan antara kota dan desa. Kalau ukuran tubuhnya kang Dul diantara kurus dan gemuk. Rambutnya kang Dul tidak lurus, juga tidak kriting, sama seperti lek Teguh. Bedanya, lek Teguh istiqomah dengan rambutnya yang gondrong, sementara kang Dul, sering update gaya rambut. Kalau bingung nyari tempat update gaya rambut, alangkah baiknya di Adam Barbershop saja. Kang Dul lebih sering gaya rambut gondrong ala lek Teguh.
Anehnya, mereka berdua tidak saling mengenal, kecuali hanya pelanggan setia kedai kopi Garuda. Maka selayaknya tulisan kali ini jangan sampai tertangkap media massa nasional. Bisa-bisa akan jadi trending topik dengan judul Kebhinekaan Angkringan dan Pemersatu Umat Manusia. Sebab telah ia ciptakan berbagai macam rasa nasi kucing, gorengan, serta wedhang agar para pelanggan paham rasa menikmati suatu hidangan tanpa menjelekkan hidangan lainnya. Sebab, telah ia ciptakan hidangan untuk saling mengenalkan para pelanggan dengan berbagai macam rasa.
-
HB. Arafat, Ketua Kelas 1 MI Darussalam 2 Jetak Wedung Demak
