Merindukan Pemimpin yang Orator
Kalau lingkup nasional, sepertinya kondisi negeri ini sedang amat gonjang-ganjing, meskipun secara mental masyarakat Indonesia, saya percaya, adem ayem guyup rukun tertawa sentosa.
Dalam lingkup nasional, berbagai persoalan muncul, baik bidang ekonomi garam, budaya suasana sejuk anak-anak madrasah diniyyah yang sedang terancam, maupun malaysia yang usil nggawe goro-goro. Untuk yang terakhir, saya tidak tahu motifnya, tetapi jika diamati kok ya sepertinya ia kerap ngajak gegeran.
Atau kalau tidak, masih ada persoalan abadi dalam negeri: korupsi, perjuangan para petani atas ketenteraman tanahnya, orang-orang pinggiran yang setia kelaparan, penggundulan hutan, merebaknya sampah, dst dst.
Saya tentu tidak ingin menyalahkan pemimpinnya dengan persoalan-persoalan tersebut, karena saya masih percaya sebenarnya itu tugas bersama untuk saling bertekad memperbaikinya. Tetapi saya teringat pula wejangan Gus Dur tentang esensi pendidikan, guru kepada muridnya, atau pemimpin dengan segenap elemen yang dipimpinnya dalam konteks ini. Yaitu “yang paling penting dalam mendidik adalah seorang guru (maupun pemimpin) yang menjadi contoh, alias teladan.”
Sekilas tampak remeh memang, tapi percayalah, ini akan sangat berbeda dan teramat susah ketika diaplikasikan. Karena untuk bisa menjadi contoh yang baik, butuh konsistensi atau istiqomah yang panjang. Dari sini saya berpikir, “Rasa-rasanya kalau pemimpin kita seorang orator ulung, mungkin naskah cerita kepemimpinannya akan semakin menarik.”
Tentu saja ini terucap bukan tanpa alasan. Selama ini, saya amat bosan dengan penyikapan persoalan nasional yang hanya “retoris” dan terkesan membuat kita “menunggu”. Ha mbok sekali-kali itu pencilaan. Misalnya soal malaysia itu, disikapi dengan pernyataan semacam “gertakan balasan” yang dinyatakan dengan gaya orasi. Kan, asik, tho? Bhahaha.
Lebih-lebih kalau pemimpin kita juga gemar menulis. Setidaknya belio ikut menulis juga di media, entah cetak atau digital. Bukan apa-apa, karena sejauh saya lihat akun resmi para pemimpin kok ya isinya hanya informasi singkat dan yang nulis pun sekretaris, humas, atau lainnya yang notabene bukan belio sendiri.
Saya tidak menuntut pak presiden untuk menulis setiap hari. Tidak. Saya tahu belio sangat sibuk. Mengurusi wilayah Ibu Pertiwi ini tidak semudah dan sesederhana yang dibayangkan. Hanya saja, kalau sesekali belio menulis, meskipun sekadar menyangkut pandangan tentang sesuatu, atau bahkan keluh kesah dan curhatan sekalipun, ndak apa-apa. Karena saya rasa, dengan itu, melalui tulisan-tulisannya, saya akan merasa lebih dekat dan mengenal belio.
Bahkan kalau ini terjadi, saya tidak keberatan jika, misalnya, kolom komentar dihilangkan. Karena tentu biasanya beribu bahkan berjuta komentar akan langsung nyangkut di sana. Dihilangkan saja ndak apa-apa.
Jadi, tahun 2019 nanti, adakah sosok seperti itu? Terlepas dari semuanya, ada yang lebih penting dari itu semua: anda masih percaya tanah kita adalah tanah surga, kan?
