Kisah Biasa dari Manusia-Manusia Biasa [1]
Oleh HB. Arafat - Ke dua temanten sudah duduk di singgasana yang telah dirancang sedemikian rupa oleh tukang dekorasinya. Tukang dekorasi itu bagian penting dari suatu acara pernikahan yang senasib dengan tukang asah-asah, tukang masak, tukang traktat, tukang soundsystem , yang sering dilupakan oleh para tamu undangan. Pastinya para tamu hanya mengingat manusia-manusia yang mendapatkan posisi sebagai peng- ular-ular , naib, saksi dan mereka yang memegang mikrophon . Bicara mikrophon , saya jadi teringat oleh kejadian seorang kiai yang nyerobot mikrophon kiai lainnya yang sedang memberi wejangan pada para jamaah yang terjadi di desa saya. Kembali pada ke dua temanten anyar , sebab waktu ini dunia hanya milik mereka ber dua . Saya, lek Shobirin, Mamak serta tamu-tamu lainnya sekadar numpang ngekos. Ah, lupakanlah dua kalimat sebelumnya, sebab sudah klise , sudah mainstream , diucapkan banyak manusia berbagai level hidup untuk menyinggung pasangan yang sedang kasmaran—bukan ...