Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dogma

Lupa Berpikir Positif

Gambar
Sejak dulu saya sering dinasihati untuk berbaik sangka. Oleh sebab itu, saya selalu berusaha mencoba menerapkannya. Nggrundel-nggerundel sedikit ndak apa-apa lah, namanya juga usaha. Kalau ada anak-anak mencuri, berpikir positif saja kondisinya betul-betul terpepet. Kalau ada orang menggunjing, berpikir positif saja ia sedang menghadapi stres luar biasa, sehingga menggunjing menjadi satu sarana dimana ia merasa mampu meredakan tingkat stresnya. Begitu pula dengan banyaknya sosialisasi menjadi muslim/muslimah kaffah secara 'cepat' hari ini. Berpikir positif saja, mereka sudah jenuh dengan moralitas yang makin hari makin terdegradasi, sehingga butuh revolusi atau bahkan reformasi secepat mungkin. Ada lagi yang gencar memperdebatkan penampilan. Dari tema tahlilan dan maulidan, penganjuran menjaga jenggot karena sunnah, sampai pemilihan memakai sarung atau celana. Saya tetap berpikir positif, bahwa kondisi ini adalah ikhtiar dalam mencapai kebaikan bersama. Saling diskusi untuk ...

Berjalan ria Menyusuri Taman di Pualam Senja: Bukan Sebuah Judul

Gambar
Pemuda itu selalu berjalan. Dari dukuh ke dukuh, desa ke desa, kota-kota, dimensi ke dimensi, ia terus berjalan. Apa yang sebenarnya dilakukannya, tak ada yang tahu. Semua orang melihatnya sebagai usaha yang sia-sia. Kakinya akrab dengan terik udara siang, berteman dinginnya tengah malam, sampai membersamai pagi yang masih mengintip dibalik mega. Pemuda itu masih berjalan. Ya, hanya berjalan. Sesekali menepi di bawah pohon beringin, sekadar minum dari botol kusamnya. Pernah ia ditawari banyak hal. Mulai menjadi atlet maraton sampai direktur pengembang sepatu. Tapi ia tidak mau. Bahkan hal remeh seperti diberi tupperware agar mengganti botol kusamnya, tetap ia menolaknya. Alasannya sederhana. Apa? Sengaja tidak disertakan alasannya, supaya anda sekalian penasaran . - Ia terus berjalan. Sudah tak terhitung berapa kilometer jarak yang sudah ia lalui. Itu artinya, tak terhitung pula waktu yang sudah ia buang sia-sia, menurut banyak orang. Makan dan minum seadanya...

Perubahan Budaya adalah Koentji

Gambar
Oleh Abdur Rozaq - ... Karena pada dasarnya, budaya bersifat dinamis (selalu berubah-ubah sesuai kebutuhan). Ini adalah koentji. Lebih tepatnya kebutuhan masyarakat, karena pemilik kebudayaan adalah masyarakat (bukan individu). Fenomena perubahan pakaian, bahasa, dst., belum bisa dikatakan perubahan budaya jika 'pelaku'nya individu. Belum bisa disebut masyarakat jika tidak ada beberapa unsurnya, termasuk individu. Maka kebudayaan, merupakan kesepakatan kebutuhan masing2 individu dalam lingkup masyarakat secara luas. Karena kebudayaan adalah "kebutuhan", maka "boleh" untuk setiap individu menggunakan kebudayaan yang dianggap mampu memenuhi kebutuhannya (dalam ranah ini, boleh berkesimpulan bahwa kebudayaan adalah kebutuhan primer individu). - Dalam perkembangannya, banyak terjadi fenomena dimana suatu kebudayaan mulai ditinggalkan karena kebutuhan zaman. Pun terjadi di mana-mana, suatu kebudayaan yang sudah mati dihidupkan kembali ...