Berjalan ria Menyusuri Taman di Pualam Senja: Bukan Sebuah Judul


Pemuda itu selalu berjalan. Dari dukuh ke dukuh, desa ke desa, kota-kota, dimensi ke dimensi, ia terus berjalan. Apa yang sebenarnya dilakukannya, tak ada yang tahu. Semua orang melihatnya sebagai usaha yang sia-sia.

Kakinya akrab dengan terik udara siang, berteman dinginnya tengah malam, sampai membersamai pagi yang masih mengintip dibalik mega. Pemuda itu masih berjalan. Ya, hanya berjalan. Sesekali menepi di bawah pohon beringin, sekadar minum dari botol kusamnya.

Pernah ia ditawari banyak hal. Mulai menjadi atlet maraton sampai direktur pengembang sepatu. Tapi ia tidak mau.

Bahkan hal remeh seperti diberi tupperware agar mengganti botol kusamnya, tetap ia menolaknya. Alasannya sederhana. Apa? Sengaja tidak disertakan alasannya, supaya anda sekalian penasaran.

-

Ia terus berjalan. Sudah tak terhitung berapa kilometer jarak yang sudah ia lalui. Itu artinya, tak terhitung pula waktu yang sudah ia buang sia-sia, menurut banyak orang. Makan dan minum seadanya. Sangat seadanya sampai dedaunan dan air sungai pun terharu padanya.

-

Tetapi, sungguh ia tak tahu diri. Sepanjang perjalanan yang ia lalui, tak pernah sedikitpun ia ikut campur pada masalah sekitar. Ia tetap berjalan. Meski kemiskinan dan penderitaan melukis suara-suara sumbang di depannya. Meski seorang nenek tampak kesakitan diseret warga karena kedapatan mencuri daun singkong tetangganya, terjadi di sampingnya.

Aku kesal melihatnya terus berjalan. Betapa tidak, beberapa kali melewati daerah yang tak pernah diperhatikan para bangsawan, tetapi ia hanya berjalan. Logika mana yang dapat menjelaskan perilaku semacam itu.

Bahkan, ia sama sekali tidak menganggapku, yang sudah dua hari mengikutinya. Kali ini aku tak tahan. Langkahku terhenti. Aku muak melihat ketidakwarasannya. Aku berbelok ke arah warga, melerai nenek yang kesakitan karena diseret dengan cukup jauh.

Aku melepas tangan yang memcengkeram nenek itu. Karena kalah jumlah, aku berakhir lebam, turut dipukuli warga. Kami berdua terkulai lemas di atas tanah, hanya berjarak beberapa meter.

Di tengah rasa sakit yang menimpa sekujur tubuh, aku menyaksikan nenek disampingku itu masih memunculkan ekspresi terima kasih padaku, meski sangat lemah dan pasrah.

Ia tampak ingin mengucapkan sesuatu. Aku mendekatkan telingaku ke arahnya, sekuat tenaga. Samar-samar, ia berkata dengan cukup tenang, meski nada dan intonasinya teramat memprihatinkan.

"Tinggalkan aku, anak muda. Aku tak apa. Ikutilah pemuda yang terus berjalan itu. Kau tak bisa mengatasi keadaan seperti sekarang ini sendirian. Kau tak boleh berhenti berjalan dari sebuah perjalanan yang tanpa ujung ini."

"Hah? Pemuda itu? Sial," gumamku dalam hati. Dan Lebih sialnya lagi, aku kaget menyaksikan pemandangan sekitar. Kosong. Tak ada siapa pun. Termasuk nenek yang kesakitan itu.

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator