Postingan

Menampilkan postingan dengan label Common Sense

Tiga Hal yang Membuat Manusia Layaknya Manusia

Gambar
Seorang bijak pernah berkata, "Kebijaksanaan manusia terletak pada kejernihan hati dan akalnya." Keseimbangan akal-pikiran dan hati sangat penting. Ketika akal dalam kondisi jernih dan 'sehat', menyikapi suatu persoalan tidak perlu dengan ilmu yang tinggi-tinggi dan rumit, karena sejak kecil, manusia sudah dibekali dengan common sense . Menggunakan common sense saja kiranya sudah cukup. Common sense itu semacam mikir piye umume , berpikir sebagaimana banyak orang. Misalnya, pikiran tentang kalau mencuri itu tidak baik, fitnah itu buruk, korupsi itu memalukan dan tercela, kepada orang yang lebih tua harus hormat, FDS itu tidak baik bagi anak-anak yang gampang lelah fisik dan pikirannya, dst dst. Atau lebih mudahnya, misalnya, Anda tentu seketika mengecap buruk saat melihat pasangan remaja laki-laki dan perempuan, malam-malam, masuk kamar hotel dan cuma berdua. Itu common sense, meskipun sebenarnya Anda juga belum tahu pasti apa yang mereka lakulan di dalam...

Manusia Earphone

Gambar
Oleh HB. Arafat - Penak jamaku tenan to? Jamanku adalah jaman kebebasan setiap suara untuk berkoar-koar. Jaman dahulu, ketika ada sedikit perbedaan, maka akan ada evaluasi secara berjamaah agar kesepakatan kebudayaan tidak dilanggar. Hanya saja kesepakatan kebudayaan dahulu masih ikut campur pada persoalan religiusitas personal. Ketika ada yang berwudlu tetapi tidak membasuh telinga, maka seseorang itu dianggap berkhianat pada konsepsi agama. Sementara di jaman ini, manusia-manusianya sudah sadar bahwa membasuh telinga hanya sebuah sunnah yang baik dilakukan tapi tidak bersalah jika ditinggalkan. Bahkan jaman ini, jaman dimana kewajiban personal adalah tanggung jawab personalnya, manusia disekelilingnya haram mengevaluasi kesalahan orang lainnya. Penak jamanku tenan to? Jamanku itu jaman kebebasan, ketika engkau mengajak pacarmu ke kos-kosanmu, ke kontrakan atau rumahmu, maka engkau akan terbebas dari yang namanya razia, grebek dan kontrol sosial. Kalau jaman dahulu, e...

Bukan FDS, Tapi FYS

Gambar
"Dari pada Full Day School, Full Year School di Ponpes akan lebih berkesan ." Itu inti tulisan ini. Otomatis sampeyan sudah tahu kalau tulisan ini cukup-amat-sangat tendensius. Jadi, mau langsung ditutup atau melanjutkan baca, terserah sampeyan sendiri. - Full Day School, atau disingkat FDS, akan diberlakukan di sekolah mulai tahun ajaran baru 2017/2018. Kebijakan ini mungkin semacam 'gebrakan baru' atas terpilihnya Mendikbud yang baru. Bukan apa-apa, karena kalau sekadar ganti kurikulum, itu sudah biasa .~ Dan berhasil. Semua perhatian tertuju pada belio. Dua golongan abadi, yaitu pro-kontra, mulai sibuk membahas kebijakan baru yang nyentrik ini. Golongan pro mengindikasi adanya usaha perbaikan moral yang efektif dari FDS. Sedang golongan kontra, membantah adanya efektivitas perbaikan moral pada kebijakan tsb. Kenapa efektivitas perbaikan moral dalam FDS dibantah? Asumsi dasarnya tentu saja: yang namanya moral berangkat dari pembiasaan. Dan pembiasaan, sangat erat...