Manusia Earphone


Oleh HB. Arafat
-

Penak jamaku tenan to? Jamanku adalah jaman kebebasan setiap suara untuk berkoar-koar. Jaman dahulu, ketika ada sedikit perbedaan, maka akan ada evaluasi secara berjamaah agar kesepakatan kebudayaan tidak dilanggar. Hanya saja kesepakatan kebudayaan dahulu masih ikut campur pada persoalan religiusitas personal.

Ketika ada yang berwudlu tetapi tidak membasuh telinga, maka seseorang itu dianggap berkhianat pada konsepsi agama. Sementara di jaman ini, manusia-manusianya sudah sadar bahwa membasuh telinga hanya sebuah sunnah yang baik dilakukan tapi tidak bersalah jika ditinggalkan. Bahkan jaman ini, jaman dimana kewajiban personal adalah tanggung jawab personalnya, manusia disekelilingnya haram mengevaluasi kesalahan orang lainnya.

Penak jamanku tenan to? Jamanku itu jaman kebebasan, ketika engkau mengajak pacarmu ke kos-kosanmu, ke kontrakan atau rumahmu, maka engkau akan terbebas dari yang namanya razia, grebek dan kontrol sosial.

Kalau jaman dahulu, engkau boncengan dengan yang bukan mahrommu saja, maka pengadilan sosial akan berlaku padamu, seminimalnya engkau akan dianggap sebagai manusia amoral yang sangsi sosialnya engkau akan dikucilkan. Untunglah jamanku tidak melaksanakan sangsi sosialnya engkau dikucilkan, sebab kalau benar-benar dikucilkan bisa nyicil surga engkau. Surga yakni yang sebagaimana dimaksud ustadz televisi, pesta seks. Selain itu pesta narkoba, pesta miras akan menjadi kemungkinan lainnya yang terjadi.

Penak jamanku tenan to? Engkau tidak perlu lagi mendengarkan omongan-omongan nyinyir tetangga, sebab telingamu sudah engkau sumpal dengan earphone, headset, kalau jaman saya kecil walkman.

Telingamu sudah penuh oleh suara streaming, youtube, list lagu-lagu bahkan bisa jadi seperti saya, untuk menutupi suara desahan miyabi, keezmovies atau tube8. Maka sebab itulah dalam setiap wudlu saya berusaha membasuh telinga saya. Eh, siapa tahu telinga saya sudah melakukan kejahatan berupa sudah tidak lagi mendengarkan suara tetangga saya. Siapa tahu telinga saya terlalu sering mendengar suara oh-yes, oh-no, oh my god, oh baby, despacito, fuck, oh-oh-oh, yugi-oh-yugi. Siapa tahu, lo. Sebab bisa saja tanpa terasa telinga saya sangatlah kotor dijadikan jalan bagi kemaksiatan menuju keabadiaanya.

Jadi permasalahan wudlu membasuh telinga bukan soal wajib atau sunnah atau bid'ah atau sesat atau mubah atau haram atau dlolalah atau musyrik atau khilafah atau sunni atau syiah atau wahabi atau nashrani atau china atau kafir atau jokowa atau ahuk atau mega. Persoalannya adalah kesadaran diri bahwa telinga itu fungsi penting dalam bersosial. Mendengarkan itu lebih penting daripada berbicara. Manusia-manusia yang memfungsikan dirinya sebagai pendengar --menurut saya lo, sesekali saya memakai pasal kebebasan berpikir dan berekspresi-- jauh lebih hebat daripada manusia yang memfungsikan dirinya sebagai pembicara.

Selain itu engkau akan sanggup menampung segala pengetahuan, pemahaman, pengalaman dari manusia yang menjadi pembicara itu. Pendengar dan pembicara itu tidak melulu soal pengajian, seminar, dialog, diskusi dan debat. Njagong yang fasilitasnya hanya kopi dan rokok saja merupakan ruang bagi pendengar dan pembicara juga. Maka pilih mana engkau menjadi earphone atau microphone? Kalau saya lebih senang menjadi earphone, sebab saya sedang membasuh kedua telinga saya agar bisa mendengar evaluasi kekasih yang nun jauh disana.

-

HB. Arafat, murid Bapak Ali Ahyadi, Pasir Mijen Demak

Postingan populer dari blog ini

Merindukan Pemimpin yang Orator

Ya Kin(i)

(Mat)Realisme Rizki