Postingan

Menampilkan postingan dengan label Manusia

Kisah Biasa dari Manusia-Manusia Biasa [1]

Gambar
Oleh HB. Arafat - Ke dua temanten sudah duduk di singgasana yang telah dirancang sedemikian rupa oleh tukang dekorasinya. Tukang dekorasi itu bagian penting dari suatu acara pernikahan yang senasib dengan tukang asah-asah, tukang masak, tukang traktat, tukang soundsystem , yang sering dilupakan oleh para tamu undangan. Pastinya para tamu hanya mengingat manusia-manusia yang mendapatkan posisi sebagai peng- ular-ular , naib, saksi dan mereka yang memegang mikrophon . Bicara mikrophon , saya jadi teringat oleh kejadian seorang kiai yang nyerobot mikrophon kiai lainnya yang sedang memberi wejangan pada para jamaah yang terjadi di desa saya. Kembali pada ke dua temanten anyar , sebab waktu ini dunia hanya milik mereka ber dua . Saya, lek Shobirin, Mamak serta tamu-tamu lainnya sekadar numpang ngekos. Ah, lupakanlah dua kalimat sebelumnya, sebab sudah klise , sudah mainstream , diucapkan banyak manusia berbagai level hidup untuk menyinggung pasangan yang sedang kasmaran—bukan ...

Manusia Earphone

Gambar
Oleh HB. Arafat - Penak jamaku tenan to? Jamanku adalah jaman kebebasan setiap suara untuk berkoar-koar. Jaman dahulu, ketika ada sedikit perbedaan, maka akan ada evaluasi secara berjamaah agar kesepakatan kebudayaan tidak dilanggar. Hanya saja kesepakatan kebudayaan dahulu masih ikut campur pada persoalan religiusitas personal. Ketika ada yang berwudlu tetapi tidak membasuh telinga, maka seseorang itu dianggap berkhianat pada konsepsi agama. Sementara di jaman ini, manusia-manusianya sudah sadar bahwa membasuh telinga hanya sebuah sunnah yang baik dilakukan tapi tidak bersalah jika ditinggalkan. Bahkan jaman ini, jaman dimana kewajiban personal adalah tanggung jawab personalnya, manusia disekelilingnya haram mengevaluasi kesalahan orang lainnya. Penak jamanku tenan to? Jamanku itu jaman kebebasan, ketika engkau mengajak pacarmu ke kos-kosanmu, ke kontrakan atau rumahmu, maka engkau akan terbebas dari yang namanya razia, grebek dan kontrol sosial. Kalau jaman dahulu, e...

Manusia Nasi Kucing

Gambar
Oleh HB. Arafat - " Lah kok sak unine lambeku, kang? " tanya kang Dul setelah lama terdiam tak menyahut balasanku. Ia ikut mengambil nasi kucing dan gorengan. Membukanya, memakannya perlahan-lahan. Mungkin ia takut cepat habis nasinya, sebab nasinya hanya sekepalan tangan para pendemo aksi bela-belaan ( sing penting ora bela mantan , tapi bela jomblowan ). Mungkin saja ia mengikuti sunnah rasul, yakni satu suapan ia kunyah sampai tiga puluh tiga minimalnya. wa Allahu au kang Dul 'alam . "Maksudku begini, kang. Aku hanya ingin mengidentifikasi identitas per nasi kucing tersebut saja serta pelanggannya. Lantaran para pelanggan pastilah akan nyari rasa yang ia sukai, kecuali ia tergolong manusia nasi kucing kaffah ." lanjut kang Dul, sambil mengunyah nasi kucing suapan keduanya. Saya hanya mendengarkan secara seksama, namun tidak dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bukan juga Soekarno-Hatta, 17 Agustus 1945, tapi kang Dul-saya, 10 Agustus 2017. ...