Manusia Nasi Kucing
Oleh HB. Arafat - " Lah kok sak unine lambeku, kang? " tanya kang Dul setelah lama terdiam tak menyahut balasanku. Ia ikut mengambil nasi kucing dan gorengan. Membukanya, memakannya perlahan-lahan. Mungkin ia takut cepat habis nasinya, sebab nasinya hanya sekepalan tangan para pendemo aksi bela-belaan ( sing penting ora bela mantan , tapi bela jomblowan ). Mungkin saja ia mengikuti sunnah rasul, yakni satu suapan ia kunyah sampai tiga puluh tiga minimalnya. wa Allahu au kang Dul 'alam . "Maksudku begini, kang. Aku hanya ingin mengidentifikasi identitas per nasi kucing tersebut saja serta pelanggannya. Lantaran para pelanggan pastilah akan nyari rasa yang ia sukai, kecuali ia tergolong manusia nasi kucing kaffah ." lanjut kang Dul, sambil mengunyah nasi kucing suapan keduanya. Saya hanya mendengarkan secara seksama, namun tidak dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bukan juga Soekarno-Hatta, 17 Agustus 1945, tapi kang Dul-saya, 10 Agustus 2017. ...