(Mat)Realisme Rizki
Oleh HB. Arafat
-
Kalau guru-guru madrasah yang menyebabkan matrealisme orang-orang hari ini, dengan mendidik anak-anak dengan doa "Wa rizki fahma wasiaa", rasa-rasanya kok tidak tepat. Lantaran guru-guru madrasah hanya mendidik selama 6 jam, selebihnya orang tua masing-masing. Sementara guru-guru tentu memberikan wacana mengenai doa tersebut dengan arti semacam karuniailah pemahaman dengan cakrawala yang luas. Kira-kira begitu seingat saya. Bisa jadi orang tua lah yang menyebabkan paham matrealisme pada anak-anak yang kini menjadi orang dewasa.
Kalau matrealisme itu kesalahan paham orang tua, lagi-lagi kok kurang pas juga ya. Apa mungkin orang tua kita mengajarkan suatu yang salah pada anak-anaknya? Bisa iya, bisa tidak, selama bukan acara televisi yang seringnya mengajarkan iya-iya-iya, tidak-tidak-tidak. Kalau di jepang, ada acara yang mengajarkan oh yes, oh no, oh my god, fick, dan kata-kata lainnya yang pasti disensor kalau dibicarakan. Oke, kembali pada orang tua.
Ketika orang tua kita, khususnya bapak, pergi bekerja, sementara kita menanyakan akan kemanakah beliau pergi, seringnya mereka menjawab: pergi mencari rejeki, mengais rejeki, golek rizki, goleti rizki, dan kata-kata lainnya yang memiliki persamaan makna yang sama. Berarti yang salah orang tua kita. Tapi jangan terburu-buru memvonis dialektika orang tua yang semacam itu. Jangan-jangan kita yang belum paham asbabun nuzul dan sanepan orang tua kita. Kita terlalu disibukkan dengan modernisme, sehingga lupa belajar pada orang tua sendiri.
Orang tua dulu, ketika mengatakan hal yang tabu pasti akan menggunakan kata yang indah, yang sopan dan yang baik untuk didengarkan orang lain. Berarti mencari uang itu hal yang tabu? Iya. Dalam kebudayaan orang tua kita, kalau kita sadar bahwa kita orang Nusantara, orang-orang yang masih sibuk dengan dunia, salah satunya uang, ialah orang yang masih level Sudra. Sementara Sudra adalah level terendah dan terburuk dalam kebudayaan kita, di bawah Ksatria dan Brahmana. Sementara orang-orang tua yang lebih tua lagi, ketika menyebut bekerja sebagai makaryo, nyambut gawe, nyambut damel.
Jadi tidak mungkin guru-guru dan orang tua kita yang mengajarkan matrealisme pada orang-orang macam kita ini. Sebab dengan sebaik mungkin mereka mengusahakan agar kita tidak berpikiran mengenai uang, dunia, dan segala yang fana. Meski begitu saya tetap memikirkanmu, iya kamu, kamu yang kupikirkan dan ku tunggu. Meski begitu tetap saja ada kemungkinan segelintir orang tua dan guru yang dalam hati dan pikirannya sudah dijajah matrealisme, sehingga dengan tulus mengajarkannya. Sebab matrealisme adalah musuh nyata bagi manusia yang aslinya bukan penduduk dunia.
Saya jadi teringat ucapan Gus Mus, bahwa yang mengajarkan manusia-manusia Indonesia seneng ndunya adalah Pak Harto. Sehingga, setelah Pak Harto mundur dari presiden dan kemudian taubat bersama Mbah Nun, manusia-manusia Indonesia mulai keroyokan ndunya, rebutan harta, korupsi.
Anehnya, kalau dulu hanya lingkaran istana saja yang seneng ndunya, sekarang semua lapisan masyarakat podo seneng ndunyane. Sementara saya masih di balai depan rumah, menikmati bakwan terakhir dari 3 bakwan yang disediakan mamak.
-
HB. Arafat, murid bu dhe Anisah
-
HB. Arafat, murid bu dhe Anisah
