Lupa Berpikir Positif


Sejak dulu saya sering dinasihati untuk berbaik sangka. Oleh sebab itu, saya selalu berusaha mencoba menerapkannya. Nggrundel-nggerundel sedikit ndak apa-apa lah, namanya juga usaha.

Kalau ada anak-anak mencuri, berpikir positif saja kondisinya betul-betul terpepet. Kalau ada orang menggunjing, berpikir positif saja ia sedang menghadapi stres luar biasa, sehingga menggunjing menjadi satu sarana dimana ia merasa mampu meredakan tingkat stresnya.

Begitu pula dengan banyaknya sosialisasi menjadi muslim/muslimah kaffah secara 'cepat' hari ini. Berpikir positif saja, mereka sudah jenuh dengan moralitas yang makin hari makin terdegradasi, sehingga butuh revolusi atau bahkan reformasi secepat mungkin.

Ada lagi yang gencar memperdebatkan penampilan. Dari tema tahlilan dan maulidan, penganjuran menjaga jenggot karena sunnah, sampai pemilihan memakai sarung atau celana. Saya tetap berpikir positif, bahwa kondisi ini adalah ikhtiar dalam mencapai kebaikan bersama. Saling diskusi untuk kemajuan peradaban Islam.

Tentu tidak saya pungkiri, tingkat berpikir positif saya itu prosesnya berbeda-beda. (1) Ada yang cepat, ‘mak sliwer’ langsung ketemu aspek positifnya, (2) ada yang butuh mengerutkan dahi sedikit lama, (3) ada juga yang lambat. Meskipun di akhir tetap sebisa mungkin saya temukan korelasi positifnya.

Untuk yang ketiga, saya ingat ketika muncul kabar telah tersedianya deterjen bersertifikat halal. Meskipun sedikit nggerundel dan kaget setengah teriak saat mendengarnya, sebisa mungkin saya tetap berpikir positif. Betapa tidak, saya pikir label halal hanya ada di makanan, karena memang menyangkut kesehatan jasmani dan rohani. Ternyata tidak demikian adanya.

Akhirnya pikiran positif saya tertuju pada kemungkinan: agar kita lebih mantap menggunakannya. (Meskipun sempat terbesit: berarti deterjennya bisa dimakan, lha wong halal je. Lumayan, cemilan baru dengan cita rasa baru.)

-

Jemuran

Sampai sekarang, saya masih berusaha agar sikap itu tetap terjaga. Kalau perlu, sebisa mungkin saya tingkatkan ke yang pertama: secara cepat dan ‘mak sliwer’ dalam menemukan aspek positifnya. Sekali lagi, ndak apa-apa cela sedikit, yang penting tetap berusaha.

Seperti saat itu, ketika teman saya bercerita tentang pengalaman pribadinya. Begini ceritanya:

“Di sebuah negeri antah berantah, tepatnya di Kota Sennukarta, ada bangunan yang kita menyebutnya kos-kosan. Di dalamnya tampak seorang perempuan yang khusyuk belajar. Ternyata penghuni kos di sana. Wajahnya manis, bersih, senyumnya bikin anak sholeh sontak membayangkan masa depan. Agar lebih memudahkan cerita, sebut saja perempuan ini Ukhti.”

“Terus-terus?” Ujar saya tanpa ba-bi-bu meminta teman saya melanjutkan ceritanya, karena penasaran dengan cerita Ukhti idaman kita ini. Ia mengambil napas, mengeluarkannya perlahan sembari melanjutkan cerita.

“Di suatu siang yang tanpa purnama, sayup-sayup terdengar ibu-ibu ngerumpi di tengah khidmatnya makan siang saya. Salah satu ibu yang turut bercerita, menyebut Ukhti idaman kita ini. Mau tidak mau, saya pun diam-diam mendengarkan ceritanya.

Jadi, usut diusut, ibu yang sedang bercerita adalah ibu kosnya Ukhti. Dan, ndilalahnya, agamanya termasuk yang tidak mewajibkan mengucap dua kalimat syahadat. Sebut saja Kristen. Singkat cerita, suatu waktu, hujan membasahi kos-kosan. Hanya kos-kosan ini saja, bangunan di sampingnya terang dan cerah berawan (ini memang sengaja terjadi agar anda tahu mana yang fiksi mana yang ndak).

Di tengah hujan, dilihatnya jemuran Ukhti masih tergantung. Ternyata, Ukhti kita ini sedang tidak berada di kos. Sang ibu kos bergerak. Dengan penuh keyakinan keteladanan Kasih Yesus bagi sesama, ia pun mengangkatnya. Jemuran selesai diangkat, terselamatkan dari basahnya air mata, eh, air hujan. Ibu kos pun kembali pada aktivitasnya.

Detik berlalu, menit berderit. Ukhti kita pulang. Sesampai di kamar, ia teringat jemurannya. Belum sampai berjalan ke tempat jemuran, ia sudah menemukannya. Jemurannya sudah diangkat. Ia lalu berkeliling pelan, bertanya pada tetangga siapa yang mengangkat jemurannya, tapi tak ada yang tahu. Ia panggil ibu kos, menanyakan siapa yang mengangkat jemurannya.

Ibu kos menjawab bahwa ia yang mengangkat jemuran itu. Ukhti kita mengulang pertanyaannya, sekadar memastikan. Tentu saja ibu kos menjawab dengan jawaban yang sama. Setelah tahu, Ukhti kembali ke kamarnya. Ia mengangkat jemuran yang sudah kering, dibawanya ke kamar mandi. Ibu kos yang setengah bingung ikut mengamati apa yang dilakukan Ukhti.

Lalu, apa yang Ukhti kita ini? Jemuran yang sudah kering ia cuci kembali.” terang teman saya itu sembari mengambil sebatang rokok di sakunya. Ia sumet, isap, kebul, … lalu mengakhiri ceritanya. Tindakannya seolah bikin ending cerita terdengar dramatis.

-

Saya sempat terbengong. Sebenarnya saya tidak habis pikir. Tetapi ketika teman saya melihat saya dengan tatapan meminta respons, sontak saya berlagak santai.

Saya hela napas, membenarkan posisi duduk, lalu menanggapi, “Hufhh. (sedikit jeda)… Ha njur pas ibu kose menehi sarapan, menehi duit nggo jajan, kiro-kiro ditampani opo dibuang yo. Opo gek-gek dikumbah sik? whahaha nyenengke tenan si mbak e iki.”

Teman saya tidak kalah gaya. Dengan santai, ia menanggapi, “Tapi… tadi itu asline cerita karanganku dewe, bhahaha.” Ia mengkresendokan tawa bahaknya.

"Setan alas," batin saya. Sudah percaya sepenuh hati ternyata cuma karangan. Saya lupa kalau teman saya satu ini paling suka mengerjai, dengan segala manuvernya. Dan lagi, saya terlanjur sengit dan lupa kalau saya sedang berusaha berbaik sangka. Duh!

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Kebhinnekaan Angkringan, Pemersatu Umat Manusia

Perubahan Budaya adalah Koentji