Ahlu Chat wa Sosmed
Oleh HB. Arafat
-
Kata om Eko Tunas, merdeka yo turu, sehingga dalam keadaan semacam ini saya bisa dikatakan belum merdeka. Apalagi matahari sudah mulai beranjak menyinari. Ayam-ayam sudah mulai bersahutan, membangunkan orang-orang yang tengah tertidur. Sebentara lagi adzan akan berkumandang mengajak orang-orang untuk sholat shubuh, tentunya di masjid. Namun biasanya jamaah shubuh paling banyak hanya dua shaf saja dan itupun jarang sekali. Belum sempat ngerasani lainnya, adzan sudah mulai dikumandangkan, "Allahu akbar, Allahu Akbar". Sementara mata masih belum merdeka dari kemerdekaannya.
Saya sesegera ke masjid, bukan lantaran saya senang pergi ke masjid, melainkan hanya ingin membuat hati ibu saya senang. Kalau ibu saya senang, pastinya Allah senang dan ini peluang bagi saya untuk naruh proposal agar selekas-lekasnya diijabahiNya. Selain itu, kalau saya ke masjid ikut berjamaah kan bisa njagong dengan tetangga sehabis sholat, itupun kalau banyak yang berangkat jamaah. Sayangnya, kali ini orang-orang yang berjamaah hanya 9 orang, ditambah imam masjid Mbah Dul Haq. Kalau di shaf wanita saya tidak tahu, sebab dihalangi satir.
Hari mulai sedikit cerah, saya sudah di rumah. Dari depan rumah, saya melihat ibu-ibu berangkat ke sawah. Kebanyakan ibu-ibu pergi untuk ngulur bawang di desa sebelah. Saya nikmati kopi, rokok dan gorengannya lek Kholidah sembari menatap ikan-ikan di aquarium peninggalan ayah.
Tiba-tiba ada chat What'sApp mengabarkan bahwa wanita yang dibuang di dekat kedai kopi Garuda itu selingkuhan pembunuh yang membunuhnya. Wajah saya agak kaget, wajah kok kaget ya, tapi menyebutkan ekspresi wajah saya yang kaget itu dengan kata apa saya juga bingung. Tapi kok bisa, pak pol dengan waktu yang singkat bisa menemukan pelaku tanpa ada satupun identitas korban maupun pelaku.
Hebat benar ya, pak pol negeri ini, atau kehebatan mereka itu karena ada divisi khusus ghaib dan penerawangan? Itu kalau pak pol negeri ini tempo dulu, saat mesin-mesin belum menjadi rakyat. Saat jaringan selular dan internet belum menjadi penjalin silaturrahim yang paling efisien dan simple. Saat orang-orang belum mengenal hoax, alay, lebay, eta terangkanlah, instakram, fahri hamzih, sosmed, basuki cahyo kumolo, bela ulama, aksi aksi baju putih dan lain-lain yang lahir tanpa bapak tanpa ibu.
Ada beberapa kemungkinan yang sedang didalami pak pol kita mengenai alasan pembunuhan tersebut, pertama motif lantaran pria tersebut tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan korban. Kedua, motif lantaran korban pernah meminjam BPKB--entah makhluk apa ini? Siapa yang tahu akan dikasih bapak presiden inidinesia sepeda motor bodong, sebab banyak anggota pemerintah dan parlemen yang suka nyuri motor, eh bukan motor tapi uang buat beli motor. Kembali pada BPKB. Korban yang meminjam BPKB buat digadaikan dengan alasan orang tua korban sakit dan buat pembiayaan. Malangnya korban enggak pernah nyicil angsuran kreditannya, akhirnya motor pelaku disita dan pelaku membunuh korbannya karena emosi. Anehnya, ketika saya telusuri, korban belum ditangkap dan sumber yang dia kemukakan hanya berasal dari chat ke chat.
Saya heran juga, mengapa bangsa hebat sekelas bangsa Nusantara, melahirkan anak-anak chat dan sosmed semacam itu yang dalam pikirannya hoax dianggapnya kebenaran. Misalkan informasi tersebut benar, pak pol dapat informasi semacam itu dari mana? Dari divisi ghaib dan penerawangan kah? Bukankah lebih nikmat makan gorengan lek Kholidah disertai rokok dan kopi di pagi hari, daripada menyebar informasi yang belum jelas kebenarannya.
-
HB. Arafat, murid Ny. Lilis Tho'atun Shonhaji
