Dering Telponku Membuatku Tersenyum di Pagi Hari
Saya tidak sengaja berpikir macam-macam ketika playlist lagu itu terus berputar. Satu lagu selesai, dilanjutkan lagu lain.
Dari intro musiknya, sudah bisa saya tebak lagu kali ini: Ran - Dekat di Hati. Secara 'mak sliwer', perhatian saya tertuju pada larik pertama bait lagu ini.
--- Dering telponku membuatku tersenyum di pagi hari. ---
Benar, berpikir macam-macam yang saya katakan adalah pada lirik itu. Secara umum, dapat dibayangkan perihal sebuah pagi yang senyum karena dering sebuah ponsel. Tentu ini menjadi bekal yang baik untuk mengawali hari.
-
Ada beberapa kondisi yang berbeda. Meskipun sama-sama tersenyum, rasa senyumannya nanti berbeda. Di sini inti pembahasan terletak pada, dering ponsel -> memunculkan senyuman.
Ada yang berdering ponselnya, karena sapaan pagi dari sang kekasih. Ini baik untuk membuat mood kian cerah.
Ada yang berdering ponselnya karena setting alarm. Bisa diasumsikan berdering untuk ibadah Shubuh. Hal ini tentu berdampak kelapangan hati dan pikirannya dalam menyambut hari.
Ada yang berdering karena candaan teman. Karena konteksnya senyuman, tentu menjadi pengakrab perkawanan. Sehingga hari menjadi ringan untuk dilalui.
Ada yang berdering karena pemberitahuan sosial media. Senyuman terkembang karena rasa penasaran. Terjadi sesuatu semalam, entah apa saja. Ini ada dua kemungkinan. Pertama, chatting yang belum usai. Kedua, rasa lega. Karena konon, usai update di sosial media, perasaan akan lebih resah, karena selalu ingin tahu siapa saja yang 'menyukai' maupun merespons update-annya.
Ada yang berdering karena mendapat pesan dari orang tua. Tentu membahagiakan rasanya dalam konteks "Dering telponku membuatku tersenyum di pagi hari."
Ada yang ... ah, lupa. Saya memang sering lupa jika tidak segera menuliskannya. Tentu saja sebab utamanya adalah karena momen 'mak sliwer'. Jadi, segera tulis uneg-uneg anda jika dapat momentumnya.
-
Tapi tunggu dulu. Jangan tergesa merenungkannya, karena pesan moral tulisan ini bukan dimaksudkan seperti itu.
Baik saya ulangi. Pesan moral tulisan ini adalah dalam hal apapun, silakan tentukan posisimu, sesuai kapasitas dan kebutuhanmu. Dalam contoh kecil di atas, mau jadi yang mana, hanya dirimu sendiri tentu saja yang melakukannya.
Kalau sudah begitu, saya tidak tahan untuk tidak mengatakan, 'butuh' berbeda dengan 'ingin'. Dengan tanda seru pula.~
