Belajar Kesederhanaan dari Gus Dur


Oleh HB. Arafat
-

Dari nilai keadilan, kesetaraan dan pembebasan, manusia setidaknya akan menumbuhkan nilai kesederhanaan dalam dirinya. Demikian juga Gus Dur, yang sejak dahulu sampai akhir hayatnya selalu bertarekat pada kesederhanaan. Mari kita ingat kisah-kisah beliau sebagai bukti kesederhanaannya. Sesuai apa yang mbak Alissa Wahid alami ketika SMP, Gus Dur pernah hutang sisa uang saku putrinya tersebut. Hal tersebut bukan berarti Gus Dur itu miskin —apalagi fakir, sehingga harus hutang pada putrinya. Menurut saya, dalam kasusnya mbak Alissa, Gus Dur ingin mendidik putri-putrinya agar selalu hidup dengan gaya hidup miskin, meski nantinya akan kaya. Sehingga uang saku mbak Alissa waktu SMP cuma empat puluh ribu per bulan artinya per hari uang sakunya sekitar seribu empat ratus. Kalau di jaman sekarang, hanya bisa membeli gorengan dua dan permen—untuk standar harga Demak.

Andai pun beliau miskin, miskin juga hal yang baik sebagaimana kanjeng Nabi Muhammad yang berdoa semoga hidupnya tetap pada gaya hidu miskin, meninggal dalam keadaan miskin dan berkumpul dengan orang miskin. Gus Dur sebenarnya kaya, lantaran jabatannya sebagai ketua umum PBNU dan penulis, meski keduanya tidak memiliki fee yang jelas. Namun biasanya undangan kesana kemari akan banyak menghampiri. Dari undangan itu, biasanya pengundang menyisipkan beberapa rejeki dalam amplop untuk yang diundang. Kalau Gus Dur miskin, mungkin kok wagu sebagai ketua PBNU dan Presiden RI. Tapi kalau beneran miskin, kan keren, ada seorang pemimpin negara yang miskin, dan beliau memiliki pengaruh kuat di masyarakat —baik lokal, nasional, internasional dan bahkan dunia akhirat serta alam semesta. Bisa masuk rekor muri kalau gitu.

Selain itu, dulu sewaktu Gus Dur menjabat ketua tanfidziyyah PBNU, beliau sering memilih naik angkot dan membaur dengan masyarakat daripada diantar pakai mobil. Selain itu, beliau lebih sering memakai sandal daripada sepatu. Bahkan dari ujung kaki hingga ujung rambut beliau, mulai sandal, celana, baju dan peci, bisa dikatakan sederhana. Lantaran beliau selalu saja cuek terhadap penampilan yang dikenakan meski dalam acara apapun. Pernah juga, suatu ketika Gus Dur lebih memilih makan nasi bungkus atau biasa kita kenal nasi kucing sebagai menu pilihannya, daripada makanan yang mewah dan mahal, meski posisinya sudah menduduki sebagai ketua tanfidz PBNU. Kesederhanaan itu disaksikan oleh para sahabatnya Gus Mus, Fahmi Dja’far Saifuddin, Kiai Tolhah Hasan, dan sahabat-sahabat lainnya. Bahkan Kiai Husein Muhammad menulis Gus Dur sebagai Sang Zahid, lantaran terlalu sederhananya beliau. Barangkali puncak kesederhanaan adalah hidup zuhud.

Tidak sampai disitu saja kesederhanaan Gus Dur berlaku. Ketika beliau menjabat sebagai Presiden, banyak fasilitas kepresidenan yang sekiranya tidak diperlukan, tidak akan diambil beliau. Agar anggaran pengeluaran negara lebih banyak dinikmati rakyat, daripada beliau. Kedua, beliau lebih memilih tinggal di Istana daripada tinggal di Ciganjur. Karena lebih hemat anggaran pengeluaran dalam hal biaya pengawalan dari rumah pribadi ke istana negara. Ketiga, ketika plesiran, baik ke dalam maupun luar negeri, beliau lebih memilih menumpang pesawat milik TNI AU. Lantaran memakai pesawat TNI AU, paling-paling hanya mengeluarkan biaya bahan bakar dan sedikit memberi jajan kepada krunya. Sementara kalau memakai pesawat swasta biayanya akan lebih mahal, apalagi kalau sampai membeli pesawat kepresidenan. Sungguh mungkin rasa tidak tega kepada rakyat itu hadir pada diri Gus Dur —yang tanpa citra dan awak media sudah dekat dengan rakyat— kalau anggaran negara habis untuk keperluan dan fasilitas presiden saja. Padahal banyak rakyat masih miskin dan tidak menikmati kekayaan negara.

Selama Gus Dur menjabat sebagai presiden, kesederhanaan itu tetap tinggal dalam dirinya. Demi terwujudnya nilai kemanusiaan pada nilai keadilan, kesetaraan dan kebebasan, Gus Dur rela, hak dan fasilitasnya sebagai presiden tidak diambil guna memaksimalkan anggaran belanja untuk kepentingan rakyat banyak. Meski sebelumnya, Gus Dur sudah terkenal dengan kesederhanaan, sehingga segala kebijakannya —baik yang bersangkutan dengannya maupun menteri dan staf pembantunya juga para wakil di Senayan— dalam koridor kesederhanaan. Namun banyak juga yang mencoba menjadi lawan politiknya untuk menjatuhkannya dari jabatan presiden. Wal hasil pada 23 Juli 2001, Gus Dur lengser dengan bumbu kedzaliman politik dan keluar istana hanya memakai pakaian sederhana, sandal jepit, celana kolor dan kaos oblong.

Kesederhanaan Gus Dur terus berlaku hingga akhir hayatnya, tidak sekedar citra yang dituangkan dalam vlog dan akun sosmednya, melainkan kesederhanaan pada realitas hidup beliau. Kesederhanaan itu tidak saja pada kebutuhan dan gaya hidup, serta keuangan saja, bahkan secara pemikiran beliau terkenal sangat sederhana. Selain itu, dalam penyelesaian permasalahan, beliau juga sederhana dalam bertindak, hingga akhirnya terlahir frasa “Gitu Saja kok Repot”. Prinsip sederhananya Gus Dur salah satunya yang menjadikannya awet dalam bertindak dan berpikir ialah “guru spiritual saya adalah realitas, dan guru realitas saya adalah spiritual”.

Meski tampaknya, banyak politisi yang gagal paham dengan beliau, lantaran dalam dirinya hanya ada kerakusan —yang terkadang dibalut busana blusukan, busana keperempuanan. Ingatlah Pak Joko dan Bu Mega, Gus Dur itu sederhana sejak dalam pikiran, sehingga tolong pertimbangkan segala kebijakan kalian yang jauh dari kesederhanaan. Jadi jangan ngomong tentang beliau, kalau kerakusan meikarta, reklamasi, dan proyek-proyek lainnya masih kalian jalankan. Lihatlah, kesederhanaan itu masih bercahaya dari dalam pusara bertuliskan “Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan”.



HB. Arafat, santri Ust. Moh. Miqdad, Nalumsari, Jepara

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Merindukan Pemimpin yang Orator

(Mat)Realisme Rizki