Tahlil dan Kearifan Lokal

tahlil esaimini

Oleh HB. Arafat
-

Laa IlaHa IllaAllah” kami lantunkan sampai banyak kali, sebanyak kali di Kabupaten Demak. Barangkali karena banyak kalinya, banyak pelaku ngising di kali. Maka tak mengherankan jika bupatinya bikin baliho besar yang isinya sudah saya bahas di esaimini sebelumnya. Kalau engkau bingung maksudnya, saran saya, coba engkau buka atau tengok-tengok judul lainnya. Intinya, “ojo ngising sembarangan”. “Laa IlaHa IllaAllah”, jangan jijik dengan kata “ngising” ya, karena “ngising” itu salah satu proses yang religius juga. Coba engkau pikir deh, siapa yang mengatur jadwal ngising-mu? Bapakmu, Ibumu, Istrimu, atau engkau sendiri? Kalau engkau tidak bisa menjawab, mari kita pikir lagi, siapa yang menjadwal ngising-nya Prabu Hayamwuruk? Patih Gajah Mada? Istrinya atau staf kerajaan-nya? Tidak bisa jawab kan? Kalau engkau bisa menjawab, pastilah jawabannya Allah. Jadi “Laa IlaHa IllaAllah” adalah persetujuan bahwa tidak ada apa-apa selain Allah. Hanya Allah yang ada.

Maka tidak mengherankan ritual yang kami jalani disebut tahlil. Lantaran isi dari beberapa ayat, beberapa bacaan, beberapa surat yang paling banyak diulangi hanya kalimat tahlil. Tahlil sendiri merupakan produk asli dari bangsa yang pernah menguasai sepertiga dunia, Nusantara. Tidak akan engkau temui di Saudi Arabia, Libanon, Suriah, Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Kalau pun ada yang mengadakan tahlil, paling-paling orang Nusantara yang tinggal disana atau paling mentok ya cabang istimewanya NU. Tahlil merupakan kearifan yang diciptakan oleh orang-orang old Nusantara, khususnya walisongo. Kearifan lokal adalah nilai terpenting dalam menikahkan suatu kebudayaan dan hubungan kemasyarakatan. Tanpa nilai kearifan lokal, manusia tidak akan hidup sesuai dengan karakteristik tanah yang dipijaknya. Maka tidak mengherankan jika nilai kesembilan Gus Dur adalah kearifan lokal.

Bicara kearifan lokalnya Gus Dur, engkau bisa menjumpai Gus Dur yang meyakini dan menunjukkan pada dunia mengenai Islam Traditional —yang kemudian di Muktamar Jombang 2015 menjadiIslam Nusantara. Islam dikenalkan Gus Dur bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamisasi adalah ekspresi dari Islam yang adaptif dan fleksibel. Tapi saya yakin bahwa ada sendi-sendi dalam Islam yang bagi beliau itu statis, sebagaimana tauhid dan konsesi dari Allah pasti statis dan tidak berubah.

Dalam kearifan lokalnya Gus Dur, kita tidak akan bisa melepaskannya dengan budaya Nusantara dan Islam. Budaya dan Islam bagi beliau merupakan kelengkapan proses yang harus saling melengkapi dan saling membelajari. Gus Dur juga mengajak kita untuk memahami agama sebagai suatu penghayatan —dan akhirnya penghayat kepercayaan masuk ke dalam kolom KTP— yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Maka jalan tengah yang diambil Gus Dur, agar Islam tetap pada jalan yang dibangun walisongo dan para pendahulunya, yakni dengan Pribumisasi Islam dilahirkan kembali, ditengah genjatan senjata Asingisasi Islam dan Asengisasi Islam.

Puncak keberhasilan Gus Dur mengenai pribumisasi islam bisa kita rasakan ketika muktamar NU 2015 melahirkan Islam Nusantara. Selain itu, di tahun ini, HTI —singkatan Hizbut Tahrir Indonesia— juga dibubarkan pemerintah. Entah pembubaran HTI merupakan produk kegagalan dari kearifan lokalnya kita atau sebaliknya. Setahu saya, dahulu sempat HTI melarang-larang tahlilan. Padahal saya punya produk Hizbut Tahlil Indonesia. Masak HTI melarang HTI?

Laa IlaHa IllaAllah” sudah sampai diangka 100, dalam hitungan saya. Dilanjutkan “Laa IlaHa IllaAllah Muhammadur Rasulullah.”, lalu sholawat, tasbih dan shalawat lagi. Kemudian surat Al Fatihah.



HB. Arafat, santri Ust. Moh. Charits, Kudus