Dari Gus Dur, Keberanian itu Teplek yang Kadang Menang Kadang Kalah


Oleh HB. Arafat
-

Untuk menegakkan ketauhidan di tanah yang pemimpin dan pejabatnya tidak menyertakan Tuhan dalam kebijakannya, dibutuhkan nilai keberanian. Untuk melaksanakan kemanusiaan di tanah yang tidak memanusiakan manusia dengan praktik buruk pelayanan publiknya dibutuhkan nilai keberanian. Untuk menyatakan keadilan di tanah yang menjunjung tinggi manipulasi dan kedzaliman, nilai keberanian lah yang harus tampil di garda terdepan. Untuk menciptakan kesetaraan di tanah yang tidak menghargai hak dan kewajiban rakyat secara menyeluruh, dibutuhkan juga nilai keberanian. Untuk menghidupi pembebasan, di tanah yang me-makar-kan sedikit usul, gebuk komunitas yang memiliki gagasan perubahan, nilai kesatriaan dan keberanian lah yang dibutuhkan.

Nilai keberanian itu hadir pada Gus Dur. Sebab selain beliau, tidak ada yang berani istiqomah dalam nilai itu. Apa engkau temui seorang begawan pasca reformasi yang berani bersikap sederhana selain beliau? Tidak ada kan? Ada kok, nyatanya ada Gus Mus, ada Cak Nun. Keduanya masih memosisikan nilai-nilai yang dialami Gus Dur dalam laku hidupnya. Oke lah, kalau beliau berdua memiliki nilai yang sama dimiliki Gus Dur, tapi Gus Dur sudah jelas final, lantaran Gus Dur sudah di alam lain. Sementara Gus Mus dan Cak Nun masih memiliki perjalanan di dunia ini, sebagaimana pertandingan belum ditiup peluit panjang, yang semoga keduanya“ihdinas shirotol mustaqim” sebagaimana Gus Dur.

Keberanian adalah partner nilai dari kesederhanaan dalam me-laku-kan nilai ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan pembebasan. Sementara buah dari itu terwujudnya persaudaraan dan kearifan lokal. Meski kedua nilai itu juga sebagai kendaraan untuk mewujudkan lima nilai tadi. Jadi bagaimana keberanian Gus Dur selama hidupnya, perlu kita saksikan bersama bahwa beliau ksatria, beliau begawan, beliau pejuang, beliau pemberani dalam menegakkan ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan pembebasan.

Kisah-kisah keberanian Gus Dur diantaranya di masa orde baru(orba), tanpa beban beliau mengatakan “Soeharto dalang segala bencana”. Padahal waktu itu banyak aktifis yang kritis terhadap orba, tiba-tiba mati tertembak dan hilang tanpa kabar. Gus Dur pernah menulis “meskipun intlektualitasnya mumpuni, namun saya tidak setuju dengan penembakan misterius (petrus)” dalam pengantar buku biografi LB. Moerdani. Engkau tahu sendiri kan, siapa LB. Moerdani, sosok perwira TNI di zaman orba. Bicara soal orba, saya jadi teringat Cak Nun, selain Gus Dur. Keduanya merupakan manusia yang berani melawan gelombang, berani melawan kedzaliman, berani melawan arus pemerintahan. Sayangnya keduanya sudah menghindar dari wilayah politik bangsamu. Gus Dur berjalan di alam sunyi, Cak Nun berjalan di jalan sunyi. Kalau zaman orba, pemimpinnya Jokowi, bisa jadi keduanya akan dianggap makar serta mengganggu stabilitas dan keamanan negara. Tapi anehnya, yang proaktif dalam pencegahan pemakaran bukan panglima TNI tetapi jendral Polri, aneh bukan? Begitulah negara dan bangsamu akhir-akhir ini.

Kisah keberanian Gus Dur lainnya yakni mengkritisi pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat melainkan menjadi perpanjangan tangan bank dunia, IMF, dan WTO dalam kebijakan-kebijakan ekonominya. Lalu keberanian Gus Dur memberi kesempatan bagi keturunan tionghoa berkiprah menjadi bagian penting berlangsungnya bangsa dan negaramu. Padahal hari ini, satu keturunan tionghoa sedang dipenjara di rutan mako brimob dengan kasus yang kriuk-kriuk krupuk.

Terakhir yang paling mengesankan bagi saya yakni, keberanian beliau selama Maret hingga Juli 2001, mencopot menteri-menterinya. Menteri yang dicopot diantaranya, Yusril Irza Mahendra, yang akhir-akhir ini menjadi pengacara pembelaan pembubaran HTI. Menteri lainnya yakni, Nur Mahmudi Ismail, kala itu sebagai presiden Partai Keadilan—kemudian memanipulasi diri dengan Kesejahteraan. Menteri lainnya yang dicopot ialah Raden Ngabehi Susilo Bambang Yudhoyono, mantanmu yang sampai hari ini belum bisa move on sebagai Raden Ngabehi. Meski di akhir kepemimpinannya, beliau rekaman lagu. Agar kalau ia tidak dikenang sebagai kepala negara, ia dikenang sebagai penyanyi, barangkali begitu.

Selain ketiga menteri tersebut, masih ada empat menteri lainnya yang dicopot Gus Dur hanya dalam rentang waktu lima bulan. Padahal hal tersebut tidak mungkin dilalukan oleh seseorang, khususnya pemimpin zaman now, kecuali atas nama kebenaran dalam keberaniannya. Gus Dur yang berani melakukan, meski akhirnya ia harus turun tahta presiden dengan pemerkosaan yang dilakukan Cak Amin dan Ning Mega. Dan ada hal yang membuat saya sangat senang ketika Mbah Nun berkisah mengenai Gus Dur. Ketika Gus Dur ditanyai Cak Nun perihal dilengserkannya dari Istana. Jawab Gus Dur hanya: jenenge teplek yo kadang menang, kadang kalah.



HB. Arafat, santri Ust. Heri Purwanto, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator