Melanjutkan Persaudaraan

kerja kerja esaimini

Oleh HB. Arafat
-

Saya kok malah ngelantur kepada sahabat saya yang bernama asli Umar Afiq, seorang warga PSHT. Padahal kita sedang serius membahas persaudaraan ya cuk! “Cuk” sendiri adalah bentuk kemesraan sesama saudara, bukan begitu cuk? Jadi jangan marah dan jangan lantas memakai pasal 335 Ayat (1), sebab pasal itu sudah dihapus. Jangan marah ya cuk, kita kan saudara—sembari dikasih emot yang pipinya merah merona tanpa banteng moncong putih—. Kalau engkau marah saya panggil “cuk”, saya panggil “akh” saja ya, sebab engkau sukanya “akhi” toh? Mari kita kembali bahas soal persaudaraan yang adil dan beradab, yang diwarisi Gus Dur. Loh, saya kok malah menistakan pancasila, sila ke-2, ampun ya “akh” jangan laporkan pada Abu Janda—kapan perawannya ya?—. Eh, tunggu dulu, saya tidak menistakan pancasila kok, apalagi sila kedua berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, jadi berbeda dengan yang saya katakan tadi kan? Saya kok tambah ngelanturnya ya, mari kembali kepada persaudaraan.

Persaudaraan yang kedua yakni persaudaraan Islam atau yang biasa kita kenal dengan istilah arabnya ukhuwah islamiyyah. Persaudaraan sesama pemeluk agama Islam. Gus Dur sendiri dalam hal ini bisa kita lihat kiprahnya dalam jejaringnya di Nahdlatul Ulama’ sebagai ormas Islam terbesar di bangsamu. Jejaringnya sangat luas jangkauangnya. Meski acapkali terjadi benturan dengan beberapa ormas, semisal front yang tak bisa move on dari budaya arab, namun Gus Dur sebenarnya tetap menganggap mereka saudara. Hanya saja, terkadang sikap orang tua terhadap anak, dianggap anak tidak memiliki rasa kekeluargaan dan kasih sayang, namun sejatinya sikap itu lebih dari saudara-saudara yang lain dalam menyayangi. Kasih sayang sendiri tidak melulu soal lemah lembut, terkadang sikap keras pun itu adalah kasih sayang yang mendalam. Hanya saja si anak belum baligh untuk memahami pandangan bapaknya. Selain itu ada pandangan Gus Dur yang bertentangan dengan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), meski begitu kedekatan beliau dengan tokoh ICMI diantaranya B.J. Habibie dan Nurcholis Majid tetap mesra-mesra saja.

Terlepas dari pro-kontra yang menyelimuti Gus Dur mengenai persaudaraan Islam, namanya Gus Dur, kalau tidak ada kontroversi bukan beliau. Kata sahabatnya, Gus Mus, “Gus Dur itu diutus Tuhan, untuk mengajarkan Indonesia agar pandai berbeda dengan yang lain. Karena itu, Gus Dur sangat kontroversial, setiap sikap dan ucapannya menimbulkan kontroversi.” Jadi sudah tahu kan siapa Gus Dur? Selain itu, hakikat persaudaraan itu bukan lantaran persamaan. Kalau yang engkau cari persamaan, itu namanya komunitas, bukan persaudaraan atau paseduluran. Ngomong-ngomong, diantara kami berempat anak-anaknya ibu dan bapak saya, tidak ada hal secara ideologi yang sama. Namun kami selalu menjaga persaudaraan agar tetap terjaga diantara kami berempat.

Begitu pun Gus Dur, meski dalam ideologi terkadang berbeda pandangan, bahkan dengan Gus Sholah, adiknya, berbeda visi dan sudut pandang. Namun keduanya tetap merawat persaudaraan. Saya ingat dahulu, di pesantren saya, PP. Raudlatul Muta’allimin, asuhan Kiai Ma’ruf Irsyad, ada kang pondok, kalau enggak salah namanya Gus Tiwul, berpesan pada saya, “Meski diantara kita memiliki beda pandangan dan ideologi, persaudaraan haruslah terjaga. Apalagi kita adalah saudara dalam satu kamar, satu almamater pesantren, satu nahdliyyinnya, satu islamnya, satu negaranya dan seterusnya.”

Jadi meski engkau itu Abu Janda yang perawannya entah dihabisi siapa saya tidak tahu. Tolong, persaudaraan sesama umat Islam tetap dijaga ya. Jangan tuding-tuding orang lain anti pancasila, anti NKRI, antimo obat mabuk juga, kalau engkau sendiri seenaknya menghakimi. Meskipun engkau itu ustadz boleh, kokoh juga boleh, muallaf juga boleh, Feli-x silau. Tolong, persaudaraan sesama umat Islam tetap dijaga ya, please ya koh, tadz, laf. Jangan salahkan demokrasi, jangan salahkan sistem, jangan salahkan tahlilan, jangan bid’ahkan sarungan, jangan haramkan maulidan ya. Karena belum tentu yang kalian anggap salah itu benar-benar salah. Meski kalian berbeda pandangan, jangan saling serimpung, jangan saling menghancurkan satu sama lain. Saya takut kalau benar-benar terjadi nantinya, tulisan sahabat Gus Dur, Cak Nun berjudul “Musyawarah Darurat Ummat Islam Indonesia” benar-benar terlaksana. Kasihan kan bangsa dari negerimu koh, kasihan juga kan kang Abu, engkau tak bisa lagi vlog-vlog lagi. Marilah, melanjutkan persaudaraan itu jauh lebih penting guys, daripada presidenmu sukanya nuding “makar”, padahal yang makar kan dia ya.



HB. Arafat, santri Ust. Abdul Ghofur, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Merindukan Pemimpin yang Orator

(Mat)Realisme Rizki