Puisi untuk Gus Dur

gusdur esaimini

Oleh HB. Arafat
-

Selain kenangan-kenangan itu, sebenarnya ada banyak kenangan lain dengan keluarga dan sahabatnya Gus Dur, yang kemudian mengantarkan saya untuk teringat Gus Dur. Dan hari ini, adalah lebaran bagi saya, setelah berpuasa sejak 2009 —ketika Gus Dur sedho— sampai hari ini untuk berziarah ke makam beliau. Ada suatu rasa yang tak bisa saya bahasakan ke dalam kata dan bahasa apa, tapi yang jelas duduk berdekatan dengan beliau saya teramat nyaman. Selain itu, ada sedikit isak tangis yang menetes dari mata, air mata syukur, air mata bahagia, air mata penyesalan, air mata mata air lainnya, yang entah sejatinya rasa apa.

Tiba-tiba saya ingin menuliskan puisi, begini:

Di Pusara Pejuang Kemanusiaan
: Gus Dur

adakah yang lebih dalam dari persaudaraan
untuk mewujudkan kemanusiaan, keadilan,
kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, kesatriaan
dan kearifan lokal. yang engkau rajut dalam
langkah-langkahmu yang gontai tapi tegar

kemanusiaan lahir dari persaudaran
yang kuat laksana rantai-rantai di dada
Garuda. keadilan lahir dari kemanusiaan
yang berdiri pada nilai kesetaraan.
pembebasan lahir dari kemanusiaan
yang disapih nilai kesatriaan. kesederhanaan
dilahirkan oleh kemanusiaan, yang taat
pada ketauhidan yang benar dan tepat

persaudaraan adalah jawaban
dari persoalan yang hinggap di pundak
Garuda, selain sebagai langkah awal
yang sumbernya dari ketauhidan
kearifan lokal adalah hasil dari persaudaraan

Gus, di pusaramu, aku membaca nilai-nilai
yang engkau petik dari kebun tahlil,
lalu engkau sajikan tidak dalam bentuk saji
yang siap disantap para santri


Sekian saja ya, puisinya. Tidak enak kalau panjang-panjang puisinya, sementara ritual tahlil masih berjalan. Tidak enak sama kang Nur Hamid dan jama’ah lainnya. Apalagi, peziarah sudah berjubel mengerumuni makam, kalau dihitung, sekitar 300-an peziarah yang memadati siang ini. Sementara itu ritual tahlil kami sudah sampai pada bacaan “Laa IlaHa IllaAllah”, yang kami lantunkan dengan ritme yang cepat tapi jelas.



HB. Arafat, santri Ust. Arif Budianto, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Merindukan Pemimpin yang Orator

(Mat)Realisme Rizki