Beberapa Alasan dan Do'a Malaikat Mengenai Gus Dur
Oleh HB. Arafat
-
Dalam waktu menunggu terbukanya pintu masuk ke makam, saya kembali teringat cerita kiai-kiai NU mengenai Gus Dur. Konon sampai detik ini Gus Dur belum pernah ditanyai malaikat, lantaran syarat malaikat untuk menanyai manusia yang habis di kubur belum terpenuhi. Yakni selama belum ada yang manusia meninggalkan kubur orang yang meninggal itu—entah hitungan langkahnya berapa tidak pasti lantaran ada perbedaan mengenai hitungan langkah—, tidak akan ditanyai malaikat. Sampai-sampai kalau malaikat sebagaimana manusia, memiliki rasa lelah, mungkin sang malaikat akan beli jamu atau ke tukang pijat, sampai capeknya hilang. Gegara menunggui peziarah yang tak lekas-lekas pulang dari makamnya Gus Dur.
Namun, dengan kejadian menunggu terbukanya pintu, saya berpikir bahwa mungkin saja malaikatnya teramat capek, sehingga berdoa kepada Allah untuk memberikan waktu selekas-lekasnya menanyai Gus Dur. Permohonan malaikat dengan alasan agar prestisius malaikat tidak jatuh lantaran gagal dalam menjalankan kewajibannya, apalagi kurun waktunya teramat lama. Apalagi Gus Dur merupakan tokoh yang nakal, sehingga malaikat khawatir nanti Gus Dur pergi disaat tidak ada peziarah. Di waktu malaikat bisa menanyai Gus Dur, beliau malah jalan-jalan ke Israel. Gawat kan kalau begitu. Gawatnya bukan lantaran Gus Dur pergi Israel, melainkan prestise malaikat yang hancur karena kegagalan menanyai beliau.
Alasan kedua malaikat yakni alasan personal. Mungkin saja malaikat benar memiliki rasa capek, apalagi harus menunggu bertahun tahun untuk hanya sekadar bertanya pada Maulana Gus Dur. Apalagi Gus Dur kan sudah wafat semenjak 31 Desember 2009, coba hitung berapa tahun malaikat harus menunggu. Nanti malah malaikatnya nyanyi lagunya Zhifilia berjudul Aishiteru. “Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku, saat ku harus bersabar dan terus bersabar.” Kalau tambah bosan, bisa-bisa, Munkar dan Nakir mengundang malaikat-malaikat lain untuk main gitar, drum, kendang, ketipung, organ, keyboard, piano, saron, gamelan dan alat-alat musik lainnya untuk berdendang dan bergoyang. Bisa ramai Jombang, dengan fenomena malaikat bergoyang dan berdendang. Tentu akan mengundang media-media untuk datang meliputnya, sebagai headline berita dan acara mereka. Para malaikat pun tentu akan tenar, setelah tenar bisa-bisa para malaikat lupa dengan tugasnya untuk menanyai Gus Dur. Gus Dur pun akan tertawa melihat malaikat yang mudah dibuat bingung oleh masyarakat bangsa Nusantara.
Alasan ketiga, tentunya masih personalnya malaikat. Berhubung yang ditanyai Munkar dan Nakir adalah seseorang yang punya banyak akal dan banyak nakalnya. Bukan sedikit nakal banyak akal. Nakal kok sedikit ya, aneh kan situs sebelah itu. Nakal ya banyak sekalian, nanggung bro. Kembali kepada kekhawatiran malaikat ya Bro. Berhubung yang ditanyai Munkar dan Nakir adalah seseorang yang punya banyak akal dan banyak nakalnya. Maka mungkin malaikat sedikit menaruh kekhawatiran pada akal dan nakalnya Gus Dur ketika ditanyai. Pertama, kalau Gus Dur ditanya “Man Rabbuka”, bisa saja beliau menjawab “Kok sampeyan malah tanya saya, emangnya sampeyan enggak tahu Kat? Jangan-jangan sampeyan bukan malaikat, kok masih tanya sama saya.”
Ketika malaikat bertanya “Man Nabiyyuka”, bisa saja Gus Dur menjawab “Loh. Loh. Loh. Katanya sampeyan itu bersholawat kepada baginda Muhammad, kok masih tanya kepada saya. Jangan-jangan sholawat sampeyan itu bukan untuk baginda Muhammad, melainkan pada baginda Jokowi atau baginda Suharto.”
Ketika malaikat melanjutkan pertanyaan “Ma Dinuka”, bisa-bisa Gus Dur akan menjawab “Kat, sampeyan iki dudu HRD, gausah kakean interview nyang aku lah. Jelas-jelas nang KTPku tulisane Islam kok yo isih ditakoni maneh. Opo sampeyan durung tahu dolan nyang Disdukcapil karo Kemendagri? Goblok kok nemen toh Kat. Wis gausah sok-sokan koyok guru sing kakean takok nyang muride. Wis ngene wae, nekh aku ahli neroko ndang lebokno neroko. Tapi mosok yo, gusti Allah tego ngelebokno aku nyang neroko, mesti dilebokno nyang suwargo.”
Atas kekhawatiran tersebut, malaikat yang statis mungkin saja khawatir kalau-kalau harus bolak-balik Jombang-‘Ars untuk mendapat legitimasi kelulusan dari jawaban Gus Dur. Coba bayangkan akan secapek apa, kalau tiap pertanyaan yang diajukan malaikat kepada Gus Dur di Jombang, dijawab Gus Dur dengan jawaban semacam itu, malaika harus menanyakan kembali jawabannya kepada Allah atas kelulusan Gus Dur. Lantaran bagi malaikat, jawaban semacam itu tidak termasuk dari kunci jawaban yang diberikan Allah, sehingga perlu konfirmasi ketepatannya lagi. Apalagi pertanyaannya sekitar sepuluh yang harus diajukan.
Coba bayangkan secapek apa malaikat kalau harus bolak-balik Jombang-‘Ars sebanyak pertanyaannya. Apalagi sebelumnya sudah terlalu lama menunggu Gus Dur untuk selesai peziarah hadir di makamnya. Maka ada kemungkinan, jika Gus Dur berhasil ditanyai malaikat, lantaran do’a malaikat kepada Allah untuk memberi jeda penziarah pergi ke makam Gus Dur. Kalau tidak begitu mana bisa malaikat membendung hasrat masyarakat Nusantara yang ingin dekat dengan Wali Kesepuluh versi Travel, AlMukarrom Maulana Gus Dur Abdurrahman Wahid adDakhil alHumanity.
—
HB. Arafat, santri Ust. Sujadi, Kudus
