Persaudaraan dan Kenangan

kenangan esaimini

Oleh HB. Arafat
-

Dari persaudaraan, kita mesti menyadari bahwa urgensinya dalam kehidupan sangat sentral. Bahkan ayat-ayat mengenai persaudaraan, hubungan, silaturrahim begitu banyak. Sampai-sampai berdosalah manusia jika mendiam-dinginkan saudaranya selama lebih dari tiga hari tiga malam tanpa harus lapor pada RT setempat. Engkau sendiri tahu, bahwa dari Gus Dur, persaudaraan tidak sebatas pada satu ormas, satu agama, satu negara dan satu jenis makhluk saja. Lebih dari itu, persaudaraan harus kita laksanakan meluas pada alam semesta seisinya. Hal itu sebenarnya sudah di-laku-kan oleh manusia-manusia zaman old Nusantara. Sementara manusia zaman now, persaudaraan hanya sebatas pada media sosial saja. Malangnya lagi, dalam media sosial tidak menjalin persaudaraan malah menjalin pertengkaran. Maka demi terwujudnya persaudaraan lintas makhluk, kami berziarah ke makam-makam, sebagaimana yang Gus Dur laku-kan sebelum kematian menghampiri beliau.

Sesampainya di hadapan pusara Gus Dur, saya langsung duduk di depan yang tepatnya sangat dekat dengan pusara beliau. Hanya saja ada pagar tralis yang menghalangi diantara kita. Namun persaudaraan, meski ada jarak, tetap lah dekat bagi yang merasakan persaudaraan. Saya sampai lupa bahwa ziarah kali ini harus dipimpin kang Nur Hamid. Kemudian disusul mbah Ta’ib, mbah Ali dan kang Nur Hamid di samping saya. Di belakang, ibu-ibu duduk, termasuk Mamak, mengikuti duduknya tiga sesepuh kampung.

Selain berziarah, menjalin persaudaraan dengan Gus Dur, saya ke pusara beliau juga menyowankan buku-buku yang saya miliki, baik kepemilikan dengan cara membeli, dihadiahi saudara dan sahabat maupun pinjam sahabat namun tidak saya kembalikan—kata Gus Dur, orang yang bodoh itu mengembalikan buku pinjaman, lantaran saya tidak mau bodoh, maka tidak saya kembalikan. Buku yang saya bawa totalnya 9 buah.

Hadrah sudah dibaca kang Nur Hamid, pertanda ritual tahlil sudah dimulai. Ayat demi ayat dilantunkan, surat demi surat dilafadzkan. Selain itu ada beberapa hadits dan bacaan yang saya tidak tahu siapa yang meramu dibacakan juga. Bahkan sampai detik ini ketika saya mengabarkan padamu, saya belum tahu siapa yang menyusun tahlil yang diawali dengan surat al ikhlas, dilanjut surat al falaq sampai pada bacaan “Allahumma sholli ‘ala habibika sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad”. Siapapun itu, patut kita ikut serta dan hadirkan dalam ruang-ruang dzikir, tahlil, sholawat, silaturrahim, persaudaraan dan kemesraan kita. Sebab di majlis mulai semacam ini, pastinya kanjeng Nabi, yang sarungnya kita gondeli kelak di yaumil akhir, hadir. By the way, saya sudah persis seperti habib-habib benaran tidak? Saya kan habib juga. Shollu ‘ala Nabi.

Bicara soal majlis atau ruang dzikir, tahlil, sholawat, silaturrahim, persaudaraan dan kemesraan yang biasa kita sebut sebagai pengajian umum atau apalah, saya jadi teringat lima belas tahun lalu ketika ada pengajian umum bersama Gus Dur di tetangga desa saya. Tapi yang membuat saya ingat bukan pengajiannya, melainkan momentum ketika saya pertama kali melihat beliau dengan jarak kurang dari satu meter. Berhubung waktu itu banyak paspampres dan banser yang menjaganya, sehingga teknik mencuri salaman tiap kali pengajian tidak berlaku. Untuk teknik agar bisa salaman dengan tokoh ketikadi suatu acara khususnya pengajian, lain kali akan saya bagikan kepada engkau sekalian. Meski tidak bisa bersalaman dengan Maulana Gus Dur, setidaknya saya bisa mencuri momentum bersentuhan dengan beliau, pasnya menyentuh pundak beliau.

Bicara Gus Dur, selain momentum menyentuh pundak beliau, ada kenangan lain dari beliau, yakni empat tahun lalu, ketika ada acara sastra bertajuk Puisi untuk Gus Dur di Kudus. Meski beliau tidak ada, namun ruh dari Gus Dur saya rasakan waktu itu. Dalam wujud materilnya kehadiran Mbak Alissa Wahid mewakili, dalam wujud energi kebhinekaan peserta yang hadir sama persis apa yang beliau ajarkan selama ini. Dalam acara tersebut, selain sebagai peringatan haulnya Gus Dur, sebagai launching buku berjudul “Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel” yang kebetulan di dalam buku terselip nama saya. Saya juga bersyukur waktu itu bisa berbincang sedikit dengan mbak Alissa Wahid. Tak lupa pula foto bareng sebagai ritual wajibnya, apalagi sampai hari ini saya masih mempercayai “like daughter, like father”. Jadi ritual foto bareng itu sudah mewakili foto bareng dengan Gus Dur.



HB. Arafat, santri Ust. Arif Murtandho, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Merindukan Pemimpin yang Orator

(Mat)Realisme Rizki