Ketauhidan dan Kemanusiaan Gus Dur
Oleh HB. Arafat
-
Bicara Gus Dur, kita akan disuguhi banyak sudut pandang, diantaranya soal pemikiran. Pemikiran merupakan predikat atau kata kerja yang dalam proses dan hasilnya masih memiliki ikatan erat dengan nilai. Sesuai yang saya ketahui dari catatan Jaringan Gusdurian soal nilai-nilai yang lahir dari pemikiran beliau, setidaknya ada sembilan hal yang perlu kita teladani. Kesembilan nilai itu yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, kesatriaan, persaudaraan dan kearifan lokal. Sementara lahirnya nilai itu tidak lantas sekadar sampai pada buah ide semata sebagaimana para penulis yang melahirkan buah karya dan buah ide, melainkan nilai-nilai itu sudah menjadi laku keseharian Gus Dur.
Nilai ketauhidan yang dipegang erat beliau dapat kita lihat dari ceramah-ceramahnya yang tiap beda tempat dan waktu, beliau pun berbeda dalam menyebut nama Allah. Bahwa tauhid sesungguhnya tidak terletak pada sesering apa engkau menyebutNya dengan satu nama saja dan sekencang apa engkau meneriakkan namaNya. Namun terletak pada keyakinanmu bahwa ada yang Satu, yang menciptakan kehidupan dan tujuan persembahan. Maka itu sudah cukup melegetimasi ketauhidan, meski pada nilai kemanusiaan, definisi mengenai tauhid akan berbeda satu manusia dengan manusia lainnya. Lantaran kodratnya manusia memang diciptakan untuk menemukan Dia.
Sementara ketauhidan Gus Dur—meski aslinya manusia tidak memiliki kapasitas menilai ketauhidan manusia lainnya— pondasi utamanya bisa kita lihat dari masa kecil beliau yang ditempa di lingkungan Islam, baik di Jombang maupun Magelang. Sehingga pemikiran nilai ketauhidan Gus Dur tidak akan jauh dari teologi ahlussunnah waljamaah, khususnya ajaran-ajaran Nahdlatul Ulama’. Juga dalam proses pendidikan di Mesir dan Irak pastinya memiliki kontribusi dalam mengukuhkan nilai ketauhidan beliau. Nilai ketauhidan beliau bisa juga engkau jumpai dalam tulisannya “Pribumisasi Islam”. Apalagi, kakek beliau merupakan pendiri organisasi NU. Sementara NU di Muktamar terakhir, di Jombang, melahirkan gagasan “Islam Nusantara”.
Dari nilai ketauhidan, lahirlah nilai kemanusiaan. Kalau ketauhidan seseorang benar, maka menegakkan kemanusiaan akan benar juga. Maka tak mengherankan kalau laku-laku Gus Dur selalu dalam lingkaran laku memanusiakan manusia, bahwa seorang manusia harus menyadari manusia harus diperlakukan secara manusiawi. Sebab Allah sendiri memuliakan manusia. Apakah engkau tahu bagaimana cara Gus Dur menerapkan nilai kemanusiaan dalam lakunya? Engkau tentu tahu ketika proses Gus Dur dimakzulkan—meski menurut Gus Dur, beliau didzalimi oleh DPR yang tenaga Aminnya berjuta Mega watt— oleh angket DPR. Disaat itu, ribuan hingga jutaan Banser, kemudian beralih nama menjadi Pasukan Berani Mati yang dikomandoi Gus Nuril, siap menyerbu Jakarta untuk membela Gus Dur.
Demi tidak terjadinya pertumpahan darah yang akan berlangsung di Ibu kota, beliau rela menanggalkan jabatan—yang entah itu amanah sebagai khalifatullah fi ardl atau cobaan lantaran diberi beban—. Beliau menyatakan mundur sebagai Kepala Negara, tanpa membawa dendam kepada ibu moncong putih tanduk hitam dan bapak beraut biru mentari. Tidak hanya segala kesakitan—itupun jika beliau merasa sakit dikhianati wakilnya—, dendam—kalau pun membawa dendam juga—, dan luka-luka yang ditinggalkan di dalam istana saja. Lebih dari itu, pakaian dinas kepresidenan ditanggalkannya juga. Beliau keluar istana hanya memakai kaos oblong dan celana kolor saja, sembari melambaikan tangan kepada seluruh rakyat Indonesia—baik yang datang langsung, yang nonton via televisi maupun yang tidak tahu menahu.
Begitulah laku tanpa citra dari seorang The Real President Indonesia after King Soekarno and King Soeharto—digantikan sebentar Mr. BJ.Habibie—, mengenai kemanusiaan tanpa beliau sidak kantor kelurahan atas nama pelayanan manusia. Tanpa harus blusukan atas nama kebersamaan, meski Gus Dur suka plesiran dari satu makam ke makam lainnya. Tanpa bagi-bagi buku dan sepeda, sebab beliau itu tidak punya uang serupiah pun untuk membeli buku dan sepeda.
Ketauhidan dan kemanusiaan adalah satu paket nilai yang mesti kita—bagi yang merasa manusia saja— pahami sebagai kewajiban asasi manusia(KAM), sebelum menuntut hak asasi manusia(HAM). Ketauhidan dan kemanusiaan adalah bekal seorang pemimpin untuk mengemban amanah. Bahwa tiap berdo’a kepadaNya, ada rakyat dalam tiap-tiap do’anya dan tiap memutuskan kebijakan untuk rakyat, ada Allah sebagai titik berat keputusannya. Barangkali simbol yang pas untuk melambangkan ketauhidan dan kemanusiaan adalah salib. Salib itu dua garis vertikal(garis tauhid) dan horizontal(garis manusia) yang saling bersinggungan. Garis vertikal harus lebih panjang dan tajam ke dalam atau ke bawah alias tidak tampak. Sementara garis vertikal yang tampak diatas garis horizontal harus sedikit, cukup pengenal di KTP saja, bahkan kalau perlu KTPnya dikosongi saja. Sementara garis horizontal yang melintang pada garis vertikal harus seimbang antara kanan dan kiri, antara kaya dan miskin, antara utara dan selatan, dan seterusnya. Ketauhidan dan kemanusiaan adalah Manunggaling Kawula lan Gusti.
—
HB. Arafat, santri Ust. Rifa’i, Kudus
