Dari Persaudaraan Kebangsaan dan Kemanusiaan Hingga Persaudaraan dengan Nyi Roro Kidul
Oleh HB. Arafat
-
Jadi kalau dia itu saudara setanah air dan sebangsa, yang dalam istilahnya disebut ukhuwah wathaniyyah, engkau tak akan mengaggap saudaramu itu akan makar terhadap bangsamu, anti pancasila, lalu engkau perangi dan benci sejadi-jadinya. Masak ada orang yang memiliki Tuhan dikatakan anti pancasila? Kan tidak logis toh? Kalau pun dia tidak sesuai pandangan mengenai sistem negara yang baik dan yang direstui Allah, janganlah engkau kafir-kafirkan, thagut-thagutkan, haram-haramkan, lalu engkau jauhi sebagai najis dan seolah dia itu bukan saudara sebangsa dan setanah airmu. Kalau bukan saudaramu, mengapa engkau masih menetap di tanah air dan bangsa yang sama?
Sudahlah, tak perlu saling membenci, memerangi, menjauhi, memfitnah satu sama lain. Ada hal yang lebih besar dari sekadar sudut pandang dan pemahaman yang sifatnya masih subjektifitas, yakni persaudaraan, khususnya persaudaraan kebangsaan. Persaudaraan yang berdasarkan kesamaan bahwa mencintai tanah air itu sebagian dari merawat iman. Sementara dari persaudaraan itu, kita dituntut merawat perbedaan antar individu sebagai rahmat yang tak bisa kita tolak. Gus Dur sendiri, dalam hal persaudaraan kebangsaan, bisa dikatakan melebihi dari khatam. Dari ujung Sabang hingga Merauke, semuanya dirangkul Gus Dur, bahkan saudara impor Arab dan China pun beliau rangkul. Meski dari saudara-saudara yang dirangkul Gus Dur tidak semuanya, bahkan bisa dikatakan banyak yang tidak sepandangan dengan beliau. Namun semua adalah saudaranya Gus Dur, selama ia mencintai tanah air dan bangsa.
Ukhuwah yang keempat itu adalah ukhuwah basyariyah atau persaudaraan kemanusiaan. Persaudaraan yang bersandarkan pada rasa yang sama, bahwa sesama manusia harus saling bertautan dan saling terkoneksi. Persaudaraan yang tidak memiliki batas, apa agamamu, apa sukumu, siapa nabimu, apa statusmu, siapa bapakmu, siapa tuhanmu, apa pekerjaanmu, apa partaimu, apa bacaanmu, siapa mantamu. Asalkan engkau sama-sama manusia, engkau adalah saudara saya. Persaudaraan ini adalah persaudaraan yang kesadarannya jauh lebih luas dari kesadaran persaudaraan sebelumnya. Lantaran cakupan dan muatannya harus lebih luas juga, dari sekadar NU, Islam dan Indonesia. Apalagi di dalam Qur’an disebutkan, begini terjemahannya versi saya: dan sesungguhnya Kami—Allah dan staf-stafnya— telah muliakan manusia, dan Kami tempatkan mereka di darat dan laut serta Kami berikan rejeki kepadanya dari hal-hal yang baik. Dan Kami “fadlilahi” mereka dari banyaknya makhluk yang Kami ciptakan dengan sangat “afdhol”.
Sementara Gus Dur dalam hal memuliakan saudaranya baik sesama nahdliyyin, sesama muslim, sesama warga negara dan sesama manusia sudah mbalung sumsum. Asalkan balung sumsum-nya tidak dijual saja, atau dimasak kemudian di jual di warung —ujung-ujungnya dijual kan ya?—, Gus Dur selama akan abadi dalam dada kalian. Gus Dur sudah mengkhatami laku dan nilai persaudaraan itu semua. Lebih dari itu Gus Dur sudah menjalin persaudaraan dengan sesama makhluk. Kalau belum ada definisi yang membahas persaudaran kemakhlukan, maka saya sebut saja ukhuwah makhluqiyyah sebagai istilahnya. Setuju maupun tidak setuju,engkau kan saudara saya, jadi meski tidak setuju, kita tetaplah saudara.
Ukhuwah makhluqiyyah Gus Dur bisa kita lihat bagaimana Gus Dur sewaktu menjabat sebagai presiden. Disaat rapat, Gus Dur selalu tertidur di tengah-tengah rapat. Kalau beliau tidak bersaudara dengan makhluk lain selain manusia, tak mungkin Gus Dur bisa mengetahui pembahasan dalam rapat tersebut. Minimalnya Gus Dur memiliki persaudaraan dengan angin, kalau tidak angin, maksimalnya ya Jin. Selain itu, konon Gus Dur memiliki hubungan dengan Nyi Roro Kidul. Hubungan beliau dengan Nyi Roro Kidul tidak sebagaimana tradisi Raja-raja Mataram hingga Raja Suharto, namun, hubungan sebatas persaudaraan. Bonus dari persaudaraan Gus Dur dengan Nyi Roro Kidul, beliau berhasil memakaikan kerudung di kepala Nyi Roro Kidul. Coba bayangkan Nyi Roro Kidul pakai kerudung, tapi ingat ya jangan pakai omes (otak mesum). Lantaran ya dikerudungi itu Nyi Roro Kidul asli, bukan Dewi Persik atau Julia Perez yang memerankan Nyi Roro Kidul.
—
HB. Arafat, santri Ust. Budi Utomo, Kudus
