Kacamata Cinta

Esaimini

Hati-hati memakai kacamata cinta. Kacamata ini hanya akan menjadikan wajah anda biasa-biasa saja. Bahkan cenderung datar.

Meskipun kacamata cinta tidak membuat orang lain benci, tetapi tentu tidak juga serta merta membuat orang lain mencintai anda.

-

Di zaman yang serba tren ini, viral menjadi syarat utama agar anda tetap bisa berbincang, bersosialisasi, maupun bertukar pikiran dengan lainnya. Memakai kacamata cinta hanya akan membuat anda kuno.

Embel-embel seretoris cinta hanya akan menunjukkan kalau anda masih remaja, belum waktunya masuk dan ikut larut dalam setiap perdebatan.

-

Kacamata cinta sangat tidak mashoook untuk perdebatan masa kini. Ekstase seperti jadi paling benar dan 'menang' tak akan terjadi. Padahal keduanya itulah puncak kenikmatan setiap perdebatan.

Memakai kacamata cinta juga hanya akan memunculkan hal yang itu-itu saja, dan, tentu saja, membosankan. Kasih sayang, kedamaian, ketiadaan curiga, kompromi, dst dst., tidak akan menumbuhkan gejolak muda yang gathuk untuk gelut badan maupun pikiran seperti kita-kita ini.

Kenapa? Karena cinta selalu identik dengan sikap pelayanan. Melayani tanpa pamrih. (Sikap apa ini? Menyusahkan dan sia-sia saja. Merawat kucing saja, kalau bisa, punya imbal-balik. Setidaknya bisa bikin orang lain gemes lalu iri kepada kita, pemiliknya.)

-

Yang paling menjengkelkan, kacamata cinta selalu terlampau cepat kalau menyelesaikan persoalan. Hanya seputar "kita sebaiknya memaafkan, kita sebaiknya berbaik sangka, atau (paling banter) sebaiknya memaklumi dan introspeksi diri sendiri." Sudah. Selesai.

Solusi macam apa ini? Mana ada obrolan yang sedang hangat-hangatnya membicarakan bahwa si A 'sesat', si B apalagi, lalu tiba-tiba ditanggapi dengan kalimat-kalimat seklise "berbaik sangka, memaafkan, dan introspeksi diri sendiri." Tentu bahan debat yang sudah kita siapkan jauh-jauh hari terbuang percuma. Lha wong setelah itu pasti selesai persoalan.

Jadi, hati-hati memakai kacamata cinta. Kalau tetap ngeyel memakai kacamata ini, tanggung sendiri akibatnya.

Bisa-bisa, anda akan hilang dari pergaulan, bahkan peradaban masa kini. Atau yang paling sederhana, ekspresi bosan-bosan-heleh dan ongap-angop akan menghiasi akhir perjumpaan obrolan anda. Saat itu juga.~

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator