Segitiga Cinta: Telinga, Mulut dan Mata


Oleh: HB. Arafat
-

Saya tidak berani menyimpulkan tangan siapa tadi yang aromanya tak pernah saya temui dalam kehidupan saya. Sebab mata saya tertutup, mulut saya katup, telinga pun luput. Kalau Rasulullah masak iya, Rasul yang begitu suci berkenan menyalami makhluk yang selalu berusaha menjadi manusia, manusia yang selalu berusaha menjadi muslim seperti saya. Masak iya, beliau baginda Nabi Muhammad yang menyalami, bisa iya, bisa tidak. Iya dan tidaknya tidak perlu dipertentangkan dan dipertarungkan meski dalam konstelasi para calon (n)guber-nur Jawa bagian tengah. Bisa iya, kalau yang (n)guber-nur itu memiliki marwanh serta ia diganjar kemampuan menyayangi sebagaimana musthofa. Bisa tidak, kalau-kalau konstelasinya menjadi suatu kontestasi yang mencari menang dan kalah personal.

Kok malah ngelindur sampai (n)guber-nur, semoga mereka benar-benar nguber nur yang cahaya akan terpancar pada seluruh umat dan masyarakat. Nur sendiri adalah penciptaan pertama yang dilakukan Allah, umat Islam biasa menyebutnya Nur Muhammad, teori barat menyebutnya sebagai Big Bang. Maka bisa saja yang bersalaman dengan saya itu Kanjeng Nabi Muhammad, wong kalau tidak sebab Dia diciptakan oleh Dia maka tak akan ada Saya. Saya berada dalam Nur dan Nur itu berada dalam Nur Sejati. Sehingga kalau iya, Dia sedang rindu dengan diriNya sendiri, lantaran sejatinya saya tidak ada. Jangan-jangan beliau menyalami saya lantaran saya sudah berhasil meng-offkan saya dari jasad. Ah, sudahlah—frasa ini dibaca sembari membayangkan Fico di hadapanmu.

“Mas, bolehkah seorang muslim berdoa untuk kesembuhan orang lain namun dalam doanya muslim itu mempersembahkan beberapa usianya sebagai bentuk penawaran agar doanya dikabulkan.” Bisik saya pada Mas Arinal saat mahalul qiyam usai. Sementara Albab meneruskan membaca al Barjanzi bagian 4.

Piye ya, aku kok nembe krungu pertanyaan koyok ngono. WaAllahu ‘alam.” Jawabnya dalam kepasrahan, sebab aneh juga kalau kasusnya kang Dul yang saya rasai ketika mahalul qiyam tadi digelar sebagai persoalan manusia pada umumnya. “Lah ono opo kang kok ujug-ujug takok koyok mengkono?” Mas Arinal ganti bertanya pada saya. Saya jawab tidak ada apa-apa. Bukan mau menutupi kejujuran, tapi takutnya Mas Arinal keget mendengarnya. Saya menutupi rasa yang saya alami, sebab kalau saya ungkapkan akan senasib korban pabrik semen di Rembang. Mereka terus menerus menyuarakan keadilan namun pemimpinnya sudah tidak lagi mendengarkannya. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali.[1]

Tapi buta adalah anugerah agar matamu tak memandang apa-apa kecuali cahaya pada ubun-ubun pandanganmu. Tapi bisu sebagai nikmat agar engkau tak akan mengatakan apapun kecuali diam yang maha diam. Tapi tuli itu perlindangan dari segala informasi yang sumbernya kepalsuan, agar yang engkau dengar adalah hening sunyi kejujuran. Semoga saya termasuk di dalam lingkaran cinta tuli, bisu dan buta yang menyelamatkan, bukan yang menyesatkan, meski keduanya akan kembali pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Aththirillahumma raudlahus syarifi bi’arfin syadzi min sholatin wa taslim. Allahumma sholli wasalim ‘alaih. Menyadarkan kehampaan saya, bahwa bagian 4 telah selesai. Kalimat tersebut sebagai penanda pergantian bagian. Untunglah saya tidak tuli dari suara sholawat. Mata, telinga dan mulut saya perintahkan engkau selalu nguber nur, mengejar cahayu.



[1]
صم بكم عمي فهم لايرجعون (البقراه، ١٨ )ا



HB. Arafat, murid Pak Dhe Nur Hasyim.