Sebagaimana Baginda Sulaiman Mendengar Cinta Ratu Bilqis, Saya Mendengar Cintamu dengan Air Wudlu


Oleh HB. Arafat
-

Masih saya dengar segala dosa dan salah, masih terdengar juga suara pujian, rayuan, dan gunjingan yang kebenarannya masih samar-samar. Sebab itulah saya basuh telinga agar kejernihan dan kejelasan di terimanya lalu disampaikan pada memori kenangan dan disimpannya secara baik. Selain itu saya berharap yang paling jernih dan jelas adalah segala kenangan tentangmu. Kejernihan merupakan informasi langit yang detailnya terus dijaga oleh para malaikat muqorrabin di sekitar kita. Meski saya sendiri belum tentu jernih oleh pemikiran semacam ini.

Engkau tentu tahu nabi Sulaiman 'alaihis salam bisa berkomunikasi dengan makhluk selain manusia. Mulai dari jin, dhemit, genderuwo, coro, tikus, vampir, drakula, kinjeng, udara, air, tanah, aang, luffy, naruto, boruto, gelombang, frekuensi, listrik serta makhluk-makhluk yang tidak mungkin saya sebut semuanya. Baik itu jarak dekat maupun jarak jauh, asalkan mengalami percintaan dengan baginda Sulaiman. Sebab beliau termasuk manusia earphome, manusia yang setia dalam mengasah pendengaran dari lingkarannya. Efek sampingnya ia diberikan tambahan amat dari Allah sebagai khalifah/raja/presiden/pemimpin yang kapasitas tambahannya yakni manusia michrophone.

Menjadi manusia earphone saja itu baik, menjadi manusia michrophone juga baik. Yang tidak baik itu ketika telinga dan mulut kita gunakan mendengar dan berbicara yang tidak baik. Kedua peran tersebut memiliki pos yang berbeda, earphone adalah pos penerima, sementara michropone adalah pos pemberi. Namun biasanya, manusia sebelum bisa mencapai pos michropone, ia menempuh pos earphone dengan matang. Hanya saja di negeri inidinesia, earphone tidaklah amat penting, yang terpenting bagaimana suara gue terdengar elu elu pade dengan michropone yang gue beli dengan uang gue. Elu elu pade yang tidak punye uang diem aje. Makanye banyak berdiri Inil.Vista, Lokis, Mastepus Ahmad Dhono, serta karaokean lokal di negeri ini.

Eh ladalah, kok saya tiba-tiba jadi orang sana ya. Orang sana tak apa asal bukan orang sina. Sebab sana itu bagian dari desa saya, sementara sina itu makhluk yang sukanya jadi manusia michrophone saja. Arogan, semau-mau udelnya sendiri, sipit lagi. Kembali ke Borobudur, eh salah, baginda Sulaiman.

Baginda Sulaiman sudah memulai, belajar, melatih, mengasah, istiqomah menempuh kemampuan mendengarnya sebelum ia diamanati berbicara. Jadi tidak heran kalau ketajamannya dalam berbicara membuat tunduk Ratu Bilqis, hud-hud, jin-jin, bahkan angin, cahaya pun tunduk dalam perintah pemindahan kekuasaan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Sebab ada proses penghayatan dan pengamalan pancasila pendengaran. Hal itu persis dengan apa yang dilakukan sesepuh bangsa Nuh Santara. Manusia-manusianya melakukan ketajamannya dengan cara bersemedi, bertapa, menyepi; di laut, di gua serta di tempat-tempat yang sunyi.

Kalau saya menempuh laku semacam itu bisa jadi saya tak akan sempat menemuimu sayang. Maka saya hanya sanggup berikhtiar dengan laku penjernihan dalam wujud membasuh telinga ketika prosesi wudlu saja. Tidak wukuf di padang Arafah, tidak semedi di gua Hira', tidak bertapa di gunung Lawu, tidak menyepi di Parangtritis. Sebab hal-hal semacam itu memberatkan pemuda modern seperti saya. Hal yang paling penting yakni saya bisa mendengar dengan jelas suara cintamu yang tak terucap dengan kata, yang masih namaku dalam doamu. Salam Mesra.

-

HB. Arafat, murid Bapak Hadi Mulyono

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Merindukan Pemimpin yang Orator

(Mat)Realisme Rizki