Teman Imajinasi dan Sajak Sebatang Lisong
Banyak orang memiliki teman imajinasi. Teman yang tidak ada kemudian diada-adakan untuk menemani. Baik sekadar bermain, maupun membantu berkarya. Teman imajinasi sangat membantu terutama bagi pribadi-pribadi yang gemar menyendiri.
Tentu saja tidak semua orang punya teman imajinasi. Tapi saya yakin semua orang pernah memikirkannya, baik ketika masih kecil maupun sampai remaja. Tentang pribadi yang suka menyendiri, teman imajinasi menjadi pilihan yang teramat kuat. Tingkat ke-ada-annya berbeda setiap orang. Ada yang sekadar berbicara dengan diri sendiri sebagai refleksi, ada yang sampai mempercayai dalam skala nyata.
Yang menarik adalah yang kedua. Teman imajinasi yang mendekati nyata. Terutama dalam dunia tulis menulis, yang kedua ini kerap kali menjadi titik tumpu. Teman imajinasi menjadi tokoh yang responsif terhadap persoalan utama, sehingga tulisan seolah hidup dengan adanya komunikasi dua arah. Ini hanya pengamatan saya pribadi, tentu saja.
Penulis yang terbiasa menggunakan muse atau karakter imajinatif sebagai tokoh dalam tulisan-tulisannya cenderung bebas berekspresi. Jika ada yang mengkritik, tinggal bilang saja ia sedang bercakap. Jadi lebih terkesan 'aman' atas fakta-fakta tertentu. Ha wong emang cuma ngobrol. Kalau ada yang tidak sesuai anggap nggosip. Sudah. Begitu saja. Selesai.
Yang menarik selanjutnya dari teman imajinatif ini adalah respons pembaca. Kalau karakternya kuat, esensi tanggapannya reflektif bagi pengalaman banyak orang, pembaca akan banyak bertanya siapa sebenarnya tokoh itu. Mereka akan bertanya-tanya tentang identitas sebenarnya tokoh tersebut. Apakah memang hanya sekadar imajinatif atau memang ada di kehidupan nyata dengan nama yang berbeda.
Kondisi seperti ini sebenarnya tidak hanya di teman imajinatif. Tokoh dalam cerpen pun ketika karakternya kuat dengan setting yang nyata sedemikian rupa, tentu akan banyak dicari. Ini saya sarikan dari cerpen Gus Mus (sapaan akrab dari Kiai Musthofa Bisri) 'Kiai Tawakkal', yang salah seorang tokohnya berhasil memukau pembaca. Tokoh yang berwibawa dan memberi banyak kemaslahatan bagi umat, sehingga banyak yang bertanya apakah tokoh tersebut benar-benar nyata: diambil dari figur seseorang di dunia nyata.
-
"Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik."
Kalimat tersebut sepertinya cocok dengan pembahasan teman imajinatif. Ya. Cocok, jika seorang penulis terbawa oleh karakter teman imajinatif yang dibuatnya sendiri. Kondisi ini memiliki konstelasi dengan kehidupannya di dunia nyata.
Seseorang yang terlalu berlebihan meyakini teman imajinatifnya ada, akan semakin mengurangi interaksi sosialnya di dunia nyata. Tentu saja ini tidak baik. Karena bagaimana pun, seperti yang dikobarkan Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong andalannya, secara kontekstual menyiratkan: sepandai apa pun seorang penulis memukau pembaca dengan teman imajinatifnya, tidak akan berguna ketika ia merasa asing dengan lingkungan sosialnya sendiri.
