Nasi Kucing, Gorengan, dan Semesta Pengetahuan

Esai Angkringan

Sebagian mahasiswa percaya bahwa kuliah yang sesungguhnya terjadi tidak dalam kelas, melainkan di luar. Kuliah dalam kelas hanya serupa pintu-pintu. Hanya membuka, memantik pengetahuan. Di luar kelas, eksplorasi pengetahuan tersedia di mana-mana, sebanyak-banyaknya.

Salah satu medium eksplorasi pengetahuan yang populer adalah Angkringan. Tempat yang akrab dengan nasi kucing dan gorengannya.

Angkringan menjadi tempat istimewa di hati para pecintanya. Sambal pedas yang memaksa dahi berpeluh gairah, ditambah gorengan yang renyah-kriyuk-gurih saat dikunyah, menjadi ritmis dengan sepoi angin malam yang membelai tubuh mesra. Luruh menetes segar, bersama glek-glek es teh manis yang ditenggak secara sporadis-memesona.

Belum lagi jika didampingi secangkir kopi, yang aromanya selalu saja memantik diskusi. Wueeess pokoknya tooppp markonahh, eh, markotop! (Tetapi perlu anda percaya, bahwa saya tidak sedang endorse atau promosi apapun. Karena angkringan, nyatanya emang ngangenin!)

-

Bungkus Pemersatu

Saya tidak akan membahas diskusi-diskusi ‘liar’ yang ada di angkringan. Teramat berat bagi pencernaan otak saya. Saya hanya akan membahas yang kecil-kecil, yang sepele, yang sesuai dengan kapasitas otak saya. Tidak lain tidak bukan adalah tentang hikmah, kebijaksanaan dalam pernasi-kucing-an dan per-gorengan-an. (Jangan dibaca dengan tegap. Ingat UU ITE)

Kita tahu, dibalik rasa-rasa nasi kucing, terdapat bungkus yang sama di luarnya. Ini bisa saja merupakan propaganda kontemplatif. Bisa saja: rasa-rasa nasi kucing menjadi masyarakat multikultural, bermacam-macam ragam, dan bersatu padu dalam identitas ‘bungkus’ yang sama dan satu. Persatuan bungkus nasi kucing. Tentu saja ini tafsir pribadi. Jika tidak sesuai, silakan bikin sendiri yang sesuai, sesuka anda. Penting bahagia.

Kemudian ada semacam mekanisme politik yang sinergis satu sama lain. Yaitu sosok gorengan. Kriyuk-gurih-memikat yang dikandungnya berhasil menarik simpatisan nasi kucing agar berjalan beriringan. Tidak ada niat merugikan, pun mengintimidasi. Gorengan, meskipun tidak berada dalam bungkus, tetap merasa dirinya bagian dari persatuan tersebut. Nasionalisme gorengan membuatnya selalu ada di setiap perjuangan nasi kucing dalam eksistensinya.

-

Sebagai pemersatu, sang bungkus tidak tampil secara kaku. Ia bergerak dinamis, kondisional, dan proporsional. Ada kalanya bungkus tampil dalam wajah kertas koran, ada kalanya kertas ujian anak-anak, ada kalanya kertas administrasi, dst dst.

Bahkan, ada kalanya tampil dalam wajah kertas skripsi. Saya ulangi, kertas skripsi. Artinya, duka-duka (karena memang jarang ditemui ‘suka’ dalam revisi, dan kebetulan, belum pernah saya jumpai orang yang menari-nari bahagia dan sentosa ketika skripsinya berhasil direvisi) mengerjakan skripsi berakhir sebagai peristiwa transformasi bungkus nasi.

-

Pengabdian? Ah, Cuma Sudut Pandang

Ini memang sedikit memicu kontroversi, tetapi mungkin bisa menjadi sumber inspirasi. Yaitu tentang kewibawaan sang bungkus pemersatu. Ada beberapa poin terkait hal ini.

Pertama, meskipun seringkali berminyak, seperti sarkasme orang-orang yang mengatakan, “Wajahku berminyak. Ha? seperti bungkus goreeengaaan?” tetapi masih saja sang bungkus memberi pengetahuan. Masih berwibawa dengan berbagai informasi yang dibawanya.

Bahkan, konon ada orang yang luas wawasannya hanya dengan membaca informasi yang dibawa oleh bungkus nasi kucing.

Minimnya fasilitas pendidikan bagi rakyat kecil menjadikan bungkus nasi kucing maupun gorengan cukup ampuh dalam memberantas kebodohan. Karena, dari pengalaman saya, beberapa koran meskipun sudah online, juga kerap masih meminta untuk ‘berlangganan’ dengan biaya tertentu agar bisa dibuka. Sehingga, sebenarnya, secara tidak sadar, bungkus nasi kucing maupun gorengan turut menjadi agent of change dalam aspek keterbacaan pengetahuan kita, kaum-kaum masyarakat terasing.

Dan, tentu saja, penulis yang terlibat dalam bungkus gorengan saya rasa patut berbangga. Karena karya-karyanya menjadi tepat sasaran. Dibaca segenap lapisan masyarakat. Mulai dari pengemis sampai aktivis, dari pengamen sampai mantan parlemen, dst. Ini merupakan suatu prestasi tersendiri, suatu pengabdian yang sunyi. Tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Tetap turut mencerdaskan bangsa tanpa teriak-teriak minta perhatian negara.

-

Kedua, tidak ada. Karena pikiran saya mendadak berubah seratus-delapan-puluh derajat. Dan muncul serangkaian pertanyaan: Apa benar begitu adanya? Bagaimana kalau sebaliknya? Bungkus gorengan yang berminyak itu hanya menjadi tisu, yang usai digunakan lap tangan lalu dibuang? Haruskah saya tetap berandai, membawa hasil revisi ke wilayah bungkus nasi kucing dan gorengan dengan dalih pengabdian, dan tetap berbangga?

Mungkin suatu saat, jika yang saya pikirkan itu benar-benar terjadi, saya akan lepas kendali sembari mengatakan, “Mas yang barusan buang bungkus, yang kamu lakukan ke tulisan saya itu jahat.”

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Kebhinnekaan Angkringan, Pemersatu Umat Manusia

Perubahan Budaya adalah Koentji