Masjid dari Bangsa Jin
Oleh HB. Arafat
-
Dalam perjalanan berkeliling di tiap sudut ponpes Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rohmah, —kemudian saya singkat PP. SBBAFR, meski sedikit lebih rumit dari nama tim sepak bola negaramu antara lain PSMS, PSMP, Persekabpas, PSIR, PSPS, hingga PS TNI. Namun apalah daya daku, sebab bukan tukang akronim— saya dan kang Toha sempat menggunjingkan pesantren yang secara arsitektur modern mestinya membutuhkan biaya anggaran yang besar dan butuh SDM yang sangat banyak. Lalu apa saja yang kami gunjingkan selama mengelilingi PP. SBBAFR, mari simak ulasan saya yang agaknya lebih cenderung pada pengawuran. Meminjam frasanya mbah Tejo, “Ngawur karena Benar” yang saya dan Toha lakukan. Cekidot, mari simak:
Pertama, menurut penuturan penjaga pintu masuk, PP. SBBAFR, bukan masjid yang diyakini masyarakat sekitar, melainkan pondok pesantren salaf sebagaimana ponpes salaf lainnya. Kalau memang benar pesantren salaf, kok sepanjang kami mengelilingi PP. SBBAFR tidak menjumpai satu pun santri atau kamar-kamar santri, padahal waktu menunjukkan belum jam 07.00 WIB. Artinya, kalau ponpes tersebut mayoritas santrinya pelajar, maka jam-jam tersebut mestinya waktu para santri nampak di permukaan. Kedua (tetap bagian pertama), kalau pun ponpes tersebut salaf tanpa ada pendidikan formalnya, tentu biasanya ada kegiatan pagi sehabis ngaji shubuh, diantaranya ro’an atau bersih-bersih pondok.
Kedua, sebagaimana penuturan masyarakat bahwa PP. SBBAFR itu masjid, mengapa tidak dilaksanakan sholat jum’at disini. Serta mengapa kami tidak diperkenankan sholat shubuh berjamaah disana oleh masyarakat sekitar. Apa itu masjid swasta, sehingga masyarakat sipil tidak diperkenankan seenaknya masuk, apalagi kami kan masyarakat swasta yang tidak memiliki saham pembangunan masjid tersebut. Sehingga untuk akses masuk, hanya terbatas pada jam-jam tertentu, karena Tuhan sangat sibuk untuk meladeni kita yang banyak hutangnya. Paling-paling kalau sholat ada pamrihnya. Sementara pemilik masjid tersebut dengan sukarela membangunkan rumah untuk Tuhan, sampai 10 lantai dengan fasilitas komplit, meski swasta. Apa kalau masjidnya negeri, kami pun bebas akses masuk? Tentu tidak. Di masjid negeri, akses bebas masuk keluar seenaknya adalah romo kiai haji setnov al golkary dan romo gayus tambunan, BH.(ge)De. Jadi tak ada bedanya antara swasta dan negeri ya? Tentunya ada perbedaan antara swasta dan negeri menyoal peribadatan, yakni siapa yang punya modal besar dialah yang punya akses bebas sesuka hatinya untuk sembahyang.
Ketiga, konon PP. SBBAFR yang membangun adalah jin. Sehingga ponpes atau masjid tersebut sering dikenal masjid jin. Masak iya yang membangun bangunannya itu jin? Padahal di dekat makam Kyai Ahmad ada tulisan bahwa ponpes ini tidak bisa dimasuki oleh jin. Kedua (dalam bagian ketiga), jangan sampai bekerjasama dengan jin, lantaran jin akan meminta balasan pada diri kita yang bekerjasama dengannya atau kalau tidak anak cucu kita yang akan menanggung kerjasama yang menguntungkan kita saat ini. Jangan-jangan bangsamu juga hasil kerjasama dengan jin: jin cina, jin belanda, jin amerika, jin israel. Sebab anak cucu bangsamu banyak menanggung hutang yang diinisiasi bapak-bapak bangsamu.
Ketiga (masih bagian ketiga), Masak iya yang membangun bangunannya itu jin? Kalau iya, masak yang membangun tidak bisa masuk ke dalam bangunan yang dibangun, sesuai tulisan 3D di di sekitar makam Kyai Ahmad. Tidak logis kan? Kalau logistik sih enggak apa-apa. Tapi menurut penuturan masyarakat, hadirnya masjid tersebut dengan 10 lantai itu sangat mengejutkan. Sehingga mereka meyakini bahwa arsitek, tukang bangunan, tukang perencanaan, tukang batu, bahkan insinyurnya itu jin. Masak iya yang membangun bangunannya itu jin? Kalau memang benar itu jin, mbok ya, Kyai Ahmad sedikit menyumbangkan jin itu untuk Bapak Joko, Bapak Anies, Bapak Ganjar dan bapak-bapak, ibu-ibu semua yang ada disini, mari bergoyang. Kok malah bergoyang. Mbok ya, Kyai Ahmad menyumbangkan sedikit jinnya, sepuluh jin, maka proyek MRT, LRT, Trans Sumatera, Trans Sulawesi, Trans Papua, dan Trans Mart pun sesingkat-singkatnya akan jadi. Sebagaimana Jinnya Nabi Sulaiman yang dalam sekejap bisa memindahkan Borobudur di hadapan ratu Boko’, dari Sleman menuju Magelang atau dari Wonosobo menuju Magelang. “Magelang, Magelang, Magelang” barangkali begitulah mantra jin yang diutus Nabi Sulaiman.
—
HB. Arafat, santri Ust. Abdul Aziz, Kudus
