Kasih Sayang Takbir [1]
Oleh HB. Arafat
-
“Allahu akbar” sesungguhnya Allah lah yang besar. Saya dan dunia teramat kecil dari Akbarnya Allah, sehingga kalau saya tidak sholat betapa bodohnya saya yang masih berkutat dengan hal-hal yang kecil, sementara besarnya Allah saya lupakan. Begitupun kalau engkau takbir, namun dalam hatimu belum bisa membesarkan Allah, sama halnya engkau sedang menistakan Allah—melebihi mantan gubernur yang katamu menistakan agama saja. Akbarnya Allah tidak bisa diukur dengan timbangan bakul buah, bakul ikan, bakul penganan, lantaran besarnya Allah tidak terletak pada berat material, letaknya pada seberapa engkau merasa tak berdaya dan tak bisa apa-apa.
Kebesaran Allah adalah “Bismillahirrahmanirrahim”, dengan pemahaman Allah yang penuh kasih sayang. Maka permulaan dari kebesaran Allah dan puncaknya adalah engkau mesti memahami kasih sayang terlebih dahulu. Kasih sayang bukan sebatas lelaki menyayangi wanita, wanita mengasihi lelakinya saja, namun kasih sayang kepada semua makhlukNya. Hubunganmu dengan sesama makhlukNya haruslah bersandar pada kasih sayang. Lalu “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin”, syukur yang tanpa tepi kepada Allah yang penuh kasih sayang pada semesta raya. Ada yang mesti engkau pahami, bahwa ada perbedaan Rabbun, Malikun dan Ilahun. Meski memiliki makna yang sama-sama Tuhan, namun kapasitas Rabbun adalah Tuhan yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang. Oleh sebabnya syukur adalah ruang manusia untuk memendarkan cahaya kasih sayang dan ‘alamin atau semesta raya adalah kasih sayang yang nyata.
“Arrahman Arrahim”, kembali ditegaskan untuk memperkuat takbirmu, bahwa kebesaran tidak sebatas pada teriakan lantang di jalan-jalan ibukota sembari berdemonstrasi katanya membela haknya Allah. Sejak kapan haknya Allah perlu dibela oleh manusia? Kalau pun ada ayat Allah sedang meminta pertolongan, itu hanya romantisme antara Khaliq dan makhluk untuk saling menemukan pertolongan dan memberikan pertolongan. Apalagi dalam demonstrasi itu ada ujaran dan teriakan “si anu babi, si ahu anjing, si joko celeng”. Apakah itu yang dinamakan takbir yang mesti penuh kasih sayang?
Kasih sayang sendiri tidak harus berupa kelembutan dan kesantunan. Terkadang perlu manusia menunjukkan kebesaran Allah yang penuh kasih sayang itu dengan “Maliki yaumid din”, ketegasan bahwa engkau akan membalas jika ada yang berani melanggar janji, menganiayamu serta mengancammu. Engkau punya hak untuk membalasnya, sebab itulah Dia menyebut dirinya sebagai Malikun. Maka jangan mencela jika ada yang bernama Malik apalagi kalau namanya Abdul Malik sukanya mencela kesana-kemari, sengak, tegas, sedikit kasar dan ngamukan. Sesungguhnya ia sedang mempraktikkan kasih sayang dan menunjukkan kebesaran Allah dalam wujud Malikun. Tetapi mestinya, sebelum “Maliki yaumiddin”—bukan Din Syamsudin atau “din, sam soe, din”— , manusia mestinya “Allahu Akbar” sembari berniat merohanikan materi, menanggalkan dunia, membelakangi dunia(adalah masa lalu bagi manusia yang sadar ia sesungguhnya manusia akhirat dan surga), dan “Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Arrahman Arrahim.”
—
HB. Arafat, santri Ust. Komari, Kudus
