Cinta Not Citra


Oleh HB. Arafat
-

Citra itu sangat penting jika engkau ingin menjadi seorang politisi. Lantaran kalau engkau menjadi politisi hanya dengan kejujuran dari kehidupanmu yang biasa-biasa saja—bahkan mungkin saja ada kebohongannya— engkau tidak akan laku dalam pemilihan umum nanti. Praktik citra politisi sebenarnya sudah dipraktikkan oleh ekonom muda bangsamu dengan mengemas cantik gorengan harga seribu yang biasa dijual nyai Suki dengan harga dua ribu hingga dua ribu lima ratus. Selain itu, dengan pengemasan, tingkat jual akan semakin tinggi daripada ditaruh loyang, nampan, papahan dan alas lainya oleh nyi Suki. Makanya, banyak politisi yang berangkat dari teori market citra, yang mulanya batu kerikil yang berlumut dicat serupa emas dan berlian. Mereka akan diam, sebab kalau mereka bicara akan melakukan kebohongan ganda—setelah memalsukan batu kerikil berlumut sebagai emas dan berlian.

Namun setelah beberapa tahun, banyak pembeli, banyak rakyat yang merasa dibohongi dengan praktik citra batu diserupakan emas. Sehingga praktik citra tidak lagi berkiblat pada teori market citra, melainkan pada teori akhlaqul citra. Pemenang pemilihan umum bukan lagi batu kerikil yang diserupakan emas dan berlian, namun batu kerikil yang mengaku sebagai batu kerikil. Lalu dengan kejujurannya itu si batu membaur bersama rakyat, blusuk kesana kemari, tidak mau dikawal dan kadang-kadang gluweh. Namun kita tidak tahu sebenarnya batu kerikil hanya umpan, hanya bahan lemparan saja. Kita gagal mengetahui siapa pelempar batu kerikil yang mengenai kaca jendela rumah kita. Pada akhirnya rumah kita masuk angin, kesakitan, sering-sering sakit, semoga akhirnya sembuh dan tidak mati terkapar ditertawakan angin dari negeri naga utara.

Paginya Malang memang tidak nyaman jika—saya yang terbiasa dengan panas— harus mandi, apalagi jam smartphone masih menunjukkan 04.30 WIB. Tapi citra mesti ditegakkan dimata manusia—khususnya ibu-ibu jam’iyyah yang beberapa ibu masih memiliki gadis yang lajang—, apalagi ibu-ibu yang tua saja berkenan mandi, saya yang masih muda kok tidak berani mandi. Kan wagu kalau sampai itu terjadi. Entah itu namanya citra atau sekadar menghargai kejadian, saya tidak bisa memastikannya jika harus memakai kaedah umum, kalau saya menyebutnya sebagai penghargaan cinta atas kejadian yang dilaksanakan ibu-ibu. Sebab aslinya saya tidak senang kalau harus mandi pagi, tapi saya beruntung ketika kecil sudah dibiasakan Mamak dengan mandi sebelum sholat shubuh lalu ngaji. Dengan mandi pagi, syukur-syukur nanti anak gadisnya yang lajang dihadiahkan pada saya. Syukurlah juga kalau kalian tidak baper wahai para jomblo yang kurang kasih sayang.

Aslinya pula saya tidak senang melaksanakan sholat, puasa, zakat dan haji. Pertama, kalau sholat, meski melakukannya cukup lima menit saja waktunya—bahkan kalau pakai paket kilat bisa dua menit— namun akan sangat mengganggu waktu kerja saya. Engkau tahu kan time is money not time is pray and not time is mani. Kedua, puasa itu membuat saya lapar dan haus, efek lapar dan haus menjadikan saya ngantukan dan tidak konsentrasi dalam bekerja, sehingga kerja saya tidak maksimal. Engkau tahu kan professionalitas pekerjaan harus diutamakan. Ketiga, berzakat itu akan mengurangi uang dan harta yang saya miliki, padahal saya sudah bekerja keras menabung dan menyimpan uang dan harta itu. Engkau tahu kan hemat pangkal kaya, bukan zakat pangkal kaya. Keempat, kalau haji saya belum pernah mengalami, namun katanya butuh puluhan juta untuk bercapek-capek mengelilingi tumpukan bata bernama Ka’bah, berlari-lari dari safa dan marwah, berpanasan seharian di padang Arafat, dan kegiatan melelahkan lainnya. Engkau tahu sendiri kan bahwa diluar pekerjaan mestinya kita bertamasya

Meski begitu merugikan, saya tetap menjalankannya, kecuali haji lantaran belum diberikan rizki. Saya menjalankannya sebab cinta yang menggerakkan saya melaksanakannya, meski aslinya saya tidak senang melakukannya. Bukankah dalam hidup, pencapaian tertinggi manusia adalah melaksanakan kejadian yang muatannya cinta dan sebab cinta. Bukankah hidup untuk cinta dan cinta untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Bukankah kerja untuk hidup dan uang untuk hidup, bukan hidup untuk kerja dan uang. Uang dan pekerjaan sebatas sarana menuju hidup yang cinta dan cinta yang hidup. Sebab Nabi Muhammad menjalankan sholat, zakat dan puasa, maka saya menjalankannya pula, lantaran saya mencintainya. Sebab Allah memerintahkannya, maka saya menjalankannya, lantaran saya mencintaiNya. Demi cinta lah, saya terus bertahan dengan hal-hal yang saya pribadi tidak menyenangi, agar engkau bertahan menyayangiku.

Dari pada bicara cinta-cintaan, engkau akan semakin baper, lantaran musim jomblo masih bertahan menghinggapimu. Ditambah hujan perlahan sudah mulai membasahi bumi yang engkau pijak, bisa saja nanti semakin deras, sementara engkau belum punya selimut (hati). Baper mana lagi yang akan engkau pertahankan? Maka lebih baik sudah saja saya bicaranya soal cinta di dingin Malang sehabis mandi citra, eh mandi cinta, demi menghargai ibu-ibu yang sudah mandi. Mari ikut saya sholat shubuh berjamaah bukan sebab 27 derajat namun sebab cinta. Kok malah cinta lagi guys, maafkan saya ya.



HB. Arafat, santri Ust. Suwanto, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator