Pertandingan Besar


Oleh HB. Arafat
-

“Kita baru saja selesai dari pertandingan kecil menuju pertandingan besar.” Seusainya pertandingan berakhir, kang Toha berujar pada saya.

“Apa pertandingan besar itu kang? Pertandingan melawan tim besar semisal Barcelona, Real Madrid kah?” Saya balik bertanya dan terperangah lantaran kang Toha tidak biasanya bertutur keren semacam itu.

“Pertandingan menaklukkan diri sendiri.” Jawabnya sembari menikmati rokok produksi Kediri.

“Bukankah saya itu hanya satu. Lalu pertandingannya bagaimana kalau tidak ada lawannya kang?” Saya mencoba nguber dengan pertanyaan agar ia kembali menjawab dengan pernyataan kerennya lagi.

“Sampeyan itu tidak hanya satu aslinya. Ada sampeyan yang ruhul idhofi. Ada sampeyan yang jasad, yang ruhul ‘aql, yang ruhun nafs. Ruhul idhofi saja ada yang bernama ruhul quds dan ruhul hayat. Kita yang berada pada zona ruhul hayat. Selain itu, ruhul idhofi juga ada yang bernama roh rabani, roh nurani dan roh rahmani.”

“Apa itu kang, kok saya baru tahu?”

“Makanya, diam. Saya belum selesai ngomongnya. Jasad saja terdiri dari tubuh dan nabatin nafs. Sementara ruhun nafs ada yang namanya roh rewani dan roh ego.”

“Tapi saya kok masih bingung kang?”

“Manusia juga memiliki 8 nafs, 8 nafs itu nafsul hayawaniyah, nafsul musawwillah, nafsul amarah, nafsul lawwamah, nafsus sufiyah, nafsun nafsyaniyah, nafsul mulhamah dan nafsul muthmainah.”

“Saya tambah bingung lo kang.”

“Kalau bingung pegangan meja kang. Hahaha. Intinya, kalau ada “Assholatu khoirum minan naum” didengar, manusia itu bisa bangun dan melaksanakan sholat, ia berhasil melaksanakan pertandingan besarnya.”

Saya anggukan kepala saja, pura-pura paham, agar lekas usai pembicaraan kami. Lantaran adzan shubuh sudah berkumandang, waktunya untuk mandi. Lalu mencitrakan diri berjamaah dengan ibu-ibu lainnya.



HB. Arafat, santri Ust. Ali Mahsun, Langgardalem-Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator