Shaf, LGBT dan Setan
Oleh HB. Arafat
-
Di rekaat kedua, konsentrasi saya mulai goyah. Kekhusyukan saya agaknya mulai rapuh oleh khayalan, imajinasi, bayangan dan teman-temannya. Meski shaf sudah dirapatkan, ternyata masih ada setan yang berhasil masuk tiap sel-sel, nadi, urat, saraf, aliran darah saya. Sehingga, terkadang kalau ada imam sholat berujar “jamaah sekalian, tolong shafnya dirapatkan” dengan tujuan agar kekosongan itu tidak diisi oleh setan perlu ditinjau ulang oleh sang imam. Lantaran yang sebenarnya perlu dirapatkan bukan shaf materil berupa barisan jamaah yang tumit kakinya saling bersentuhan. Kalau engkau merasakan gesekan kulit sesama lelaki, apa yang engkau bayangkan selain LGBT? Sudahlah engkau jangan berimajinasi terlampau jauh, sebab untungnya di desa saya tidak pernah terjadi imam yang berlaku sebagaimana imam tadi dan saya sendiri belum pernah mengalami tumit kaki saya bergesekan saat sholat. Kalau kelak saya mengalami itu, bisa jadi tidak segan-segan saya akan injak langsung kaki sebelah saya yang berani-berani menyentuh kaki saya.
Di rekaat kedua, yang mestinya sholatnya manusia harus semakin khusyuk dan istiqomah, saya malah mengalami nasib yang sebaliknya. Pikiran saya terbayang oleh kejadian saat masih di pesantren. Waktu itu, kami sedang puasa ramadlan. Sebab puasa ramadlan, jadwal ngaji yang biasanya bakda shubuh ada, ditiadakan, lantaran jadwal ngaji sehabis isya’ ekstra sampai jam 12 malam. Malah terkadang sampai jam 2, kalau kiai sedang asik baca kitabnya dan lupa pada waktu. Meski begitu santri tidak berani menegur kiai dan santri menikmati apa yang disampaikan kiai. Kembali pada ba’da shubuh di sebuah kamar saya. Kamar saya itu sudah terkenal dengan populasi bunga—barangkali di pesantren lain ada yang menyebutnya amrod, meiril, dll— yang tiap tahun selalu diisi bunga-bunga baru yang lebih menyegarkan. Sehingga tak jarang kang santri yang lebih senior kamar lain sonjo/berkunjung ke kamar kami.
Waktu itu, sehabis jamaah shubuh, saya mau melanjutkan tidur yang sempat terganggu dengan waktu sahur dan jamaah shubuh. Ketika mata masih kriyap-kriyep datanglah mbah Yasin dan mbah Tiwul—nama disamarkan lantaran saya tidak mau mencemarkan nama baik mereka. Mereka langsung mendekap Ali—yang didekap mbah Tiwul— dan Gendon—yang didekap mbah Yasin. Mereka melakukan gerakan sebagaimana hubungan suami istri di ranjang, namun mereka tidak melakukan aksi buka baju dan sarung. Hanya sekadar nyempet. Untunglah waktu itu, saya sudah pernah menonton situs p*rnhub dan situs sebagainya, meski tidak selengkap saat ini mengenai situs anu itu.
Entah, mereka keluar anunya atau tidak saya tidak tahu, meski di kamar hanya ada kami berlima saja. Pertama, lantaran keadaan kamar lampu sedang dimatikan, sementara hari belum benderang. Kedua, saya dengan waktu beberapa menit saja langsung tertidur. Sehingga saya hanya tahu proses pendekapan saja. Kalau saya tidak langsung tidur, takutnya jam 6.30 saya harus bangun untuk mandi lalu berangkat ke madrasah. Padahal, meski sampai di madrasah lebih dari jam 7.00 tidak akan membuat nama baik saya di madrasah terganggu, namun waktu 30 menit itu waktu yang teramat singkat untuk antri mandi dengan santri lainnya.
“Aamiin” suara jamaah lain menyadarkan khayalan masa lalu saya. Lalu saya ikuti “Aamiin”
Maka daripada manusia yang melaksanakan sholat disinyalir sebagai manusia pelaku LGBT, lebih baik jangan katakan “jamaah sekalian, tolong shafnya dirapatkan”. Lantaran kalau engkau belum bisa merapatkan shaf di dalam dirimu, meski shaf sholatmu sudah rapat, engkau tetap saja akan mudah dimasuki setan. Sehingga rapatkan shaf-shaf antara sel-sel, nadi, urat, saraf, aliran darahmu agar tidak gampang masuk angin, masuk setan. Sebagaimana saya juga. Oh ya, tapi sebenarnya setan sudah bosan menggoda kita kok, lantaran mereka sudah sibuk pakai dasi di kementrian-kementrian, di parlemen-parlemen, di parpol-parpol. Semoga mereka tidak memasuki wilayah ormas-ormas.
—
HB. Arafat, santri Kiai Subhan, Kudus
