Tadabbur Keluarga Bangsa


Oleh HB. Arafat
-

Nang, tangi nang. Wes tekan masjid Tiban.” Bisik mbah Maskiyah sembari menepuk pundak saya agar terbangun dari tidur. Ternyata wanita yang sedang menciptakan kemesraan dengan prianya, lelaki tua yang dimaki menantunya dan saya yang sedang menyamar menjadi ustadz hanya sebuah mimpi yang terbangun dari beberapa bagian yang terpisah. Meski itu mimpi, saya akan berusaha mentadabburi mimpi, kalau menafsirkan biarkan nabi Yusuf saja yang ahlinya. Saya tidak mengenal ketiga manusia yang hadir dalam mimpi, saya hanya mengenal diri sendiri diluar tiga manusia itu.

Lelaki muda adalah simbolisme semangat yang mesti dikobarkan oleh setiap rakyat yang selanjutnya di dalam hadits disebutkan memiliki kewajiban menjaga harta orang tuanya atau yang saya tadabburi sebagai sebuah bangsa. Rakyat harus memiliki jiwa demonstran dan kritis jika bapak tidak lagi melaksanakan kewajibannya dan tidak bertanggung jawab. Selain itu, ia adalah simbol suami yang melindungi istrinya dan istri bapaknya—baik kandung maupun mertua. Ia juga memberikan nafkah yang berupa pengetahuan dan ilmu yang istrinya mesti tahu. Seorang suami bagi bangsa juga tidak melulu bicara ekonomi, persaingan global, tenggelamkan, bagi-bagi buku tulis, bagi-bagi sepeda dan kampanye uang elektronik saja. Pengetahuan dan ilmu adalah nafkah yang perlu ditanggung dan jawabi oleh suaminya bangsamu.

Lelaki tua menjadi simbolisme bangsa yang sedang tidak beres, bahwa pemerintahan yang mestinya menjadi bapak bagi seluruh rakyat bangsanya, yang berkewajiban memberikan nafkah bagi anak-anaknya, malah memberikan harta benda kepada lelaki tua chinaa, ameriki, isreal, dan barat. Sementara anak-anaknya kelaparan, bahkan istrinya, ibu bumi harus melaksanakan organismenya sendiri tanpa dibantu sang bapak pemerintah, padahal ibu sedang sakit. Lelaki tua itu atau bangsamu memang sudah tua, namun tidak memiliki kebijaksanaan dan kedaulatan atas dirinya, keluarganya dan rumah tangganya. Bahkan harkat martabat dirinya, keluarganya dan rumah tangganya. Coba engkau bayangkan, apa yang akan engkau lakukan jika bapak(bangsa)mu berlaku semacam itu? Silahkan bayangkan saya beri waktu setengah detik, kalau tidak bisa membayangkan: Tenggelamkan! Eh saya kok malah kayak bapak (presiden) bangsa.

Wanita adalah simbol kelembutan dan kasih sayang. Selain diayomi oleh bapak, seorang ibu harus menjadi pemimpin bagi rumah tangga dengan kelembutan dan kasih sayang sebagai wanita. Jangan marah-marah ya sist, cin, jeng, mbak, nok, ning dan nduk, sebab tidak semua apa yang dikatakan itu benar—tapi diam-diam saya selalu membenarkan apa yang dikatakan wanita, karena saya takut untuk mengatakan kalau mereka salah, karena saya termasuk barisan yang takut. Meski begitu, kebanyakan wanita benar lantaran mereka sudah menerapkan sistemnya menjadi kasih sayang dan kelembutan itu. Oleh sebabnya mayoritas anak diasuh oleh ibu, sejatinya ibu lah yang tepat untuk bertanggung jawab atas kedewasaan seorang anak.

Tidak seperti bangsamu, yang tidak jelas siapa ibunya, siapa bapaknya. Lebih baik engkau semua pindah ke bangsa saya, Inidinesia. Saya akan iklan sedikit mengenai bangsa saya: “Terkadang kita lupa dengan kehidupan yang kita jalani akan seperti ini. Kita lupa ada cara lain untuk hidup. Jalan mudah untuk menggapai citra. Kita lupa semua ini dapat menjadi milik kita. Aku ingin pindah ke mei-katrok.” Eh, ini kan iklan sebelah yang mengatakan bangsamu katrok dan engkau mesti pindah ke bangsa sebelah. Maaf, maaf, daripada engkau marah, mari sini temani saya ngopi dan ngudud di warung area parkir masjid Tiban di pukul 02.30 WIB sembari nonton pertandingan Manchester United. Glory, glory!


HB. Arafat, santri Kiai Aamiin Yaasin, Gebog-Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator