Gajah Bukan Penunggang Gajah
Oleh HB. Arafat
-
Mbah Taib sebagai imam membaca surat al Fiil—kalau diterjemahkan artinya gajah. Dalam bayangan saya terlintas segerombolan gajah Thailand masuk ke negaramu, melewati Aceh. Tapi, bagaimana caranya gajah menyeberangi samudera Hindia? Kedalaman samudera berapa meter dan tinggi gajah berapa meter, tidak akan sebanding, kalau gajah Thailand masuk ke negaramu melewati samudera Hindia. Namun bisa jadi teknologi lorong waktu dipakai oleh mereka. Kalau dipakai oleh mereka, pak haji yang sekarang jadi wakil gubernur Jawa Barat mengapa tidak memakainya? Karena Zidane sudah melatih Real Madrid, sehingga pak Haji tidak ada partner untuk melorongi waktu-waktu.
Yang saya bayangkan bukanlah negaramu saat ini, melainkan ketika negaramu dan negara saya masih menjadi satu: Nusantara. Ketika datarannya masih sambung-menyambung, tidak sekadar dari sabang sampai merauke. Ketika negaranya bukan berupa negara kesatuan, melainkan negara persemakmuran. Negara Demak, Negara Aceh, Negara Papua, Negara Ternate, Negara Bali, Negara Palembang, Negara Banjar, Negara Palu, Negara Surabaya adalah negara perdikan-perdikan dari United Nation of Nusantara. Negara Majapahit tidak memiliki kewenangan untuk mengatur negara-negara lainnya, hanya saja otoritas kebersamaannya dikomandoi oleh Negara Majapahit. Itulah yang menyebabkan gajah-gajah Thailand mudah masuk ke negaramu, tanpa harus berenang, nanti disindir orang jawa “Gajah kok berenang”, sebab negaramu dahulu masih berupa bentangan tanah nan luas tanpa adanya laut jawa, selat sunda, selat malaka dan laut-selat lainnya.
Gajah-gajah itu masuk ke negaramu ditunggangi oleh naga-naga berdasi dari arah utara. Mereka menghancurkan rumah-rumah warga, menggusur manusia yang berada di pinggir sungai, membangun mall-mall dengan semen. Mereka mendirikan menara perekonomian yang tingginya melebihi tinggi gunung Jayawijaya, Jayapura. Ada beberapa diantara naga yang berhasil menjadi adipati di Belitung Timur. Untungnya ketika sampai di Palembang, datang segerombolan burung Garuda membawa batu akik melempari gajah-gajah itu. Sebenarnya sasarannya bukanlah gajah, namun penunggang gajah. Berhubung antara penunggang dan yang ditunggangi sudah menyatu, maka susah kalau burung Garuda membidik penunggang saja tanpa melukai gajah.
Beberapa gajah bisa selamat dan tinggal di way kambas. Beberapa penunggang gajah ada yang selamat namun gajah yang ditunggangi mati. Penunggang gajah yang selamat sebagian menjadi governor di Sunda Kelapa. Maka tidak mengherankan ada seorang pemimpin Jayakarta mengatakan “Jayakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di jayakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah madura: Itik se atello, ajam se ngeremme.”
Beberapa gajah dan penunggangnya ada yang selamat sampai pegunungan jayapura, ada yang selamat sampai di pegunungan kendeng. Ada penunggang selain naga, penunggang lainnya itu burung sam, manusia kincir angin, manusia mata satu yang di dalam matanya terdapat lambang bintang david, ada manusia bersorban, ada juga keturunan bas-wes-edan—kalau bahasa indonesia basnya sudah rusak. Maka meski penunggang terakhir itu sudah berhasil juga menyindir kolonialisme dengan kata “pribumi”, kita mesti berhati-hati dan tetap menaruh kecemasan, sebelum penunggang gajah benar-benar lenyap dari negaramu. Lantaran dari banyaknya burung Garuda ada beberapa setan yang menjelma sebagai burung Garuda. Yang dilemparkan bukan batu akik, melainkan batu emas mount Everest.
Tiba-tiba datang pemuda berkeris di punggungnya, sembari teriak “Allahu Akbar”. Ternyata Mbah Ta’ib sudah selesai membaca surat al Fill, saatnya rukuk. “Subhana Rabbiyal Adhimi wa bi hamdih. Subhana Rabbiyal Adhimi wa bi hamdih. Subhana Rabbiyal adhimi wa bi hamdih.” Maha suci Tuhan yang maha Agung dan memujilah kami kepadaNya sampai tiga kali agar Dia benar-benar mengerti bahwa betapa kami tidak memiliki kuasa untuk memerangi penunggang gajah, yang mengalibikan gajah untuk menyerang Rohingya dan tanah airmu. Dan Dia mengerti bahwa saya tidak kuasa menahan imajinasi meski dalam keadaan menyembahNya.
—
HB. Arafat, santri K. Himam Awaly, Kudus
