Pritttt, Pertandingan Berakhir


Oleh HB. Arafat
-

Disaat ibu-ibu sedang melanjutkan istirahatnya, menunggu waktu shubuh tiba, saya dan kang Toha menikmati rokok, kopi dan tempe goreng sembari menyaksikan pertandingan mendebarkan antara Manchester United Vs Fc. Basel. Tentunya cara nonton kami tidak seperti orang jadul yang hanya nonton via televisi. Kami harus mencari alamat “url”—cara bacanya “url” saja atau “u-er-el” kami masih bingung— yang siap menanyangkan pertandingannya. Kang Toha sepertinya mengalah untuk tidak memilih pertandingan, ia manut dengan pilihan saya. Lantaran gadjet yang dipakai itu milik saya. Selain itu, barangkali kang Toha tidak memiliki klub kebanggaan yang perlu untuk ditonton. Asalkan sudah nonton bola, nikmatlah hidup.

Begitu yang saya tangkap dari kang Toha dan beberapa manusia yang saya kenali. Kebanyakan manusia Inidinesia adalah manusia yang tidak sampai mendewakan tim sepak bola sebagaimana suporter-suporter eropa, yang sampai kenashranian, keyahudian, keagamaannya akan sirna diganti keliverpoodlian, kemanchunian, keultrasan, kemilanistiannya. Dalam hati mereka yang ada hanyalah tim pujaannya, sampai-sampai Tuhan Allah, Yesus tergantikan oleh dewa yang namanya feminim, yakni Dewi Fortuna, bukan Formula 1 atau Fortuner ya. Hanya saja soal persepakbolaan, dewanya bangsamu kalah bersaing dengan dewa-dewa tim sepak bola eropa. Sebab di bangsamu sepertinya sudah hilang kosa kata “dewa” dalam benak hatinya, sebagaimana bangsa saya.

Di Malang, tempat kami menonton streaming Manchester United Vs Fc. Basel ada tim sepak bola bernama Arema. Suporternya namanya Aremania. Kalau engkau mau melihat mereka, akan tampak jauh berbeda dengan suporter eropa. Aremania—meski saya juga Aremania, saya akan mencoba obyektif memandangnya— adalah salah satu suporter sepak bola yang pernah mengadakan sholawatan, pengajian, sinau bareng sebagai agenda mereka untuk mendoakan tim sepak bolanya, Arema. Bahkan dalam yel-yel mereka ada satu yang dengan lantang menyebut nama Tuhan. “Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, kabulkanlah doa dari kami. Kami Aremania pendukung singo edan, jadikanlah Arema Juara.”

Sejatinya mereka tidak sekadar mendukung tim sepak bola, lebih dari itu mereka lebih mengedepankan silaturrahim, maka lahirlah paseduluran tanpa ikatan darah menyatu pada Aremania. Arema hanya jalan untuk meneguhkan silaturrahim, ukhuwah diantara mereka. Meski menang atau kalah mereka tetap mendukung Arema, karena Arema hanya jalan menuju salam satu jiwa. Itulah kesadaran yang amat tinggi dari satu contoh suporter di bangsamu, Indonesia Raya. Jadi di bangsamu, Tuhan sangat melekat dalam darah suporternya, meski di lapangan, para suporter tetap ingat Tuhannya. Arema dibawa menghadap keharibaanNya agar diridloi sebagai juara dalam persatuannya.

Bicara suporter sepak bola, kita akan diingatkan oleh tragedi yang masih hangat sebagaimana tai ayam yang baru “cur” atau “crut” dari duburnya. Yakni perlakuan negeri jiran yang berani membalikkan bendera bangsamu. Sebenarnya itu bukanlah hal yang mengerikan sebagai pencemaran negara, lantaran negaramu sudah sejak lalu dicemari oleh tindak koruptif, tindak kesewanang-wenangan manusianya sendiri, yakni saudara sebangsa dan setanah airmu. Jadi tenanglah, keep calm! Jika pertandingan atau pertarungan antara negeri jiran dan bangsamu harus dilaksanakan, tolonglah buat pertandingan yang elegan tidak sebagaimana jihad yang berkumandangkan takbir sembari wajah kusam tidak basam. Engkau cukup panggil satu aremania, mereka akan berujar “aiysalam”, lantaran di Malang, kata “mas” bisa menjadi “sam”, kata “rek” bisa menjadi “ker”, bukan begitu wahai saudara saya, sesama bedhes. Jadi tidak perlu kita mempertandingan tuhan kita melawan tuhan mereka, toh Tuhan kan cuma satu. “Qulhuwa Allahu Ahad” bukan “Qulhuwalek”.

Bicara Arema dengan Aremania dan birunya, engkau akan teringat Persebaya dengan Bonek Mania dan hijaunya. Lantaran mereka satu paket penciptaan suporter di tanah Jawa Timur. Allah sengaja menciptakan mereka dengan kurun waktu yang berdekatan agar tercipta sedikit pertengkaran untuk terwujud kemesraan. Kalau pun ada sedikit pertengkaran, ya namanya anak-anak kan ya wajar, untuk mengasah ketajaman dalam bertanding jika “aiysalam” macam-macam lagi. Untuk berjaga-jaga kalau nanti londo, cinaa, amerikai, portugis, injlis, isreal bangkit dan menghantam kita, sementara TNI kurang dipenuhi kebutuhannya oleh pak dhe Joko. Sebagaimana hubungan, tidak akan terjalin mesra yang begitu nikmat jika dalam perjalanannya tidak hadir sedikit “cek-cok” yang menggemaskan.

Saya malah teringat, hijaunya NU dengan birunya Muhammadiyah yang dahulu kala pernah bertanding menyoal ide kreatifitas (baca saja bid’ah). Jangan-jangan sejarah bangsamu membuktikan hijau dan biru tidak bisa bersatu, sebagaimana yin dan yang dalam filosofi orang korea yang bukan k-pop ya. Tapi nyatanya liga gojek lambangnya hijau dan biru. Oh, itu kan karena bangsamu hari ini dikuasai merah—hati-hati bahaya laten merah—, makanya bisa bersatu. Sebagaimana merah yang berkuasa di bangsamu, Setan Merah pun menang melawan Fc. Basel dengan skor pertandingan 3-0. “Pritttttt” artinya pertandingan sudah usai 90 menit dilangsungkan dalam 2x45menit.



HB. Arafat, santri Kiai Noor Chamim, Colo, Dawe-Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator