Kepada Engkau di Duduk Tasyahud


Oleh HB. Arafat
-

Allahu Akbar” seusai sujud, duduk iftorsy dan sujud. “Attahiyatul mubarakatus sholawatut thayyibatu lillah, assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh, assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis sholihin. Asyhadu an laailaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama shollaita ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, kama barakta ‘ala sayyidina Ibrahima wa ‘ala ali sayyidina Ibrahima fil ‘alamina innaka hamidum majid. Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabil qobri wa min ‘adzabin nar wa min fitnatil mahya wal mamat wa min fitnatil masihid dajjal, Allahummagfirly ma qoddamtu wa ma akhkhortu wa ma asrartu wa ma a’lantu wa ma asraftu wa ma anta a’lamu bihi minni antal muqoddimu wa anta muakhkhiru ya muqallibal qulubi tsabbit qolby ‘ala dinika wa ‘ala tha’atika innaka ‘ala kulli syai’in qodir.”

Segala kehormatan, kebaikan, kebahagiaan, kebaikan hanya bagi Allah. Salam sejahtera padamu wahai para Nabi dalam rahmat Allah dan berkahNya. Salam sejahtera untuk kita semua dan untuk para pengabdi yang baik. Saya bersaksi bahwa tiada Dia kecuali gusti Allah dan saya juga bersaksi bahwa kanjeng Muhammad itu utusan Allah. Duh gusti Allah, limpahkanlah kemuliaan atas tuan kami Muhammad beserta keluarganya. Sebagaimana kemuliaan yang engkau limpahkan pada tuan kami Ibrahim beserta keluarganya. Duh gusti Allah, curahkan keberkahanMu atas tuan kami Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada tuan kami Ibrahim dan keluarganya dalam pengetahuan kami dan sesungguhnya Engkau Maha Terpuji juga Maha Tinggi.

Duh gusti Allah, sesungguhnya hanya Engkau tempat kami berlindung. Maka lindungilah kami dari siksa kuburmu, siksa nerakamu, fitnah kehidupan, fitnah kematian dan kejahatan al Masih Dajjal. Duh gusti Allah, leburkan dan hapuskanlah dosa kami baik yang belum terlaksana maupun yang telah menjadi peristiwa. Leburkanlah dosa yang kami rahasiakan dari rakyat-rakyat Inidinesia dan yang kami kabarkan di medsos, televisi, konferensi pers dan surat-surat yang telah kami tandatangani. Hapuskanlah dosa kami yang berupa sikap berlebih-lebihan, baik berupa gampangan marah, gampang menuduh, gampang mengkultuskan tokoh dan berlebih-lebihan lainnya yang selalu hadir dalam pikiran. Dan hapuskanlah dosa kami yang tidak kami ketahui, namun Engkau menganggapnya sebagai dosa.

Engkau itu al Muqaddim dan al Muakhir. Engkau lah yang sanggup menentukan momentum yang kontemplatif bagi kehidupan agar satu sisi memandangnya terstruktur, satu sisi memandangnya dinamis, satu sisi lain memandangnya urakan. Engkau itu al Muqaddim, yang berhak menentukan siapa yang layak terdepan, asalkan bukan yamaah. Engkau itu al Muakhir, yang berhak menentukan siapa yang layak di belakang. Di depan dan di akhir bukan lah padanan menang dan kalah sebagaimana pertandingan balapan. Di depan bisa merupakan awalan yang tentu membutuhkan akhiran dan di akhir bisa merujuk pada akhiran yang tentunya membutuhkan awalan. Engkaulah Gusti yang mengenalkan diri sebagai al Muqaddim al Muakhir.

Duh, Engkau yang sanggup membolak-balikkan hati, yang mampu menautkan pagi pada khodijah, mengubahnya aisyah pada siang, menjadikan aminah dikala sore. Engkau yang sanggup membolak-balikkan hati, Engkau tentu bukan penjual martabak yang membolak-balikkan martabak, namun tentu Engkau bisa merupa sebagai penjual martabak. Duh, Engkau yang maha membolak-balikkan hati, satu menit engkau ciptakan bumi datar, menit kedua engkau balikkan menjadi bumi bulat—asalkan tidak tahu bulat saja Gusti, karena akan mudah lenyap di makan mulut rakus kami.

Duh, Engkau yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami pada jalan menujuMu dan pada ketaatan hanya kepadaMu. Sesungguhnya, Engkaulah yang memiliki kuasa atas segala-galanya.

Assalamu’alaikum wa rahmatullah



HB. Arafat, santri Kiai Nafian Mustika Dawud, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator