Datang Perginya Sholeh
Oleh HB. Arafat
-
Sahabat saya seorang supir rental mobil di Semarang, Sholeh namanya, tiba-tiba datang di hadapan saya, kemudian saya tanyai. “Leh, kok tumben tidak narik?” Ia pun menjawab, “Emange robot.” Jawabannya kalau dikaji secara ilmiyah dan tinjauan akademik bukanlah jawaban yang tepat untuk mendapatkan nilai A atau B. Tapi begitulah komukasi masyarakat jawa, yang hidupnya sudah diatas linier, sudah melewati batas statis, sehingga secara ilmiyah dan tinjauan akademik instansi pendidikan manapun tak akan bisa mengikuti budaya komunikasi leluhurnya.
Alih-alih merasa belum sampai pada tingkatannya, instansi pendidikan yang tidak dilahirkan dari budaya bangsanya malah ngecap bahwa komunikasi kami atau jawaban dari Sholeh adalah kesalahan menjawab dalam berkomunikasi. Sebagaimana anak-anak TK yang tahunya hanya huruf, angka akan kebingungan ketika mengetahui hubungan intim antara bapak dan ibunya di atas ranjang. Oleh sebabnya, masyarakat kita selalu menjaga agar informasi mengenai ranjang agar tidak sampai didengar oleh anak-anak. Bukan sebab masyarakat kita tak ingin anak cucunya menjadi cerdas, melainkan prioritas utama bagi masyarakat kita adalah moral. Jika moralitasnya terjaga, kemungkinan besar kecerdasannya akan mudah diterima akal pikirannya. Sementara komunikasi bagi masyarakat kita bukanlah hal yang kaku, statis dan linier. Asalkan subtansi dari komunikasi yakni paham satu sama lain sudah dilaksanakan, itu cukup untuk menggugurkan kaedah komunikasi yang dirancang instansi pendidikan.
Tiba-tiba ada anak kecil—kira-kira usianya baru 5 tahun— datang dari kanan menghampiri saya, sembari bertanya “Mas Pasword wifinya apa?”. Lalu saya jawab sepengetahuan saya. Namun ia mengatakan bahwa smartphonenya tidak bisa koneksi ke wifi. Kemudian saya lihat penulisannya, dan tidak sesuai dengan yang saya katakan. Kemudian saya ejakan perlahan paswordnya, ia menuliskannya. Ia tetap ngeyel kalau paswordnya bukan itu. Saya membuka smartphone saya, mengkoneksikannya, ternyata bisa. Saya pinjam smartphonenya, saya lihat ternyata huruf yang ia tulis salah. Pantas saja tidak bisa. Sembari njerit dalam dada, saya berikan smartphone anak kecil itu. Saya heran dengan kids zaman now, untuk menulis pasword: garudaindonesia saja tidak bisa, namun untuk mengoperasikan smartphone bisa. Begitulah kids zaman now, yang katanya harapan bangsa dan negaramu.
Anak itu masih duduk santai di sebelah saya, memainkan smartphonenya. Anehnya, ia tidak mengucapkan kata “terima kasih” atau “thanks you” atau “matur suwun” kepada saya. Saya lihat ia membuka youtube, menonton cara memainkan suatu game yang tidak saya ketahui namanya. Seusai menonton, ia membuka aplikasi game tersebut untuk dimainkannya. Begitulah kids zaman now, yang katanya harapan bangsa dan negaramu. Tidak usah berterimakasih kepada penolong dan pemberi tahu pasword wifinya. Begitulah kids zaman now, yang katanya harapan bangsa dan negaramu. Anak-anaknya pandai memainkan teknologi namun tidak bisa menuliskan huruf-huruf yang mestinya sudah familiar di dada dan kepalanya.
Maka dari itu, mestinya kemenkominfo dan kemenperindag mengintruksikan produsen smartphone untuk menuliskan peringatan di kardusnya dengan tulisan “hanya untuk manusia dewasa”. Sebagaimana kultur manusia pribuminya, yang menutup rapat bahkan tabu ketika anak-anak tahu ilmu peranjangan. Kedua, semoga bapak presidenmu tidak lagi bagi-bagi buku tulis kepada anak kecil, sebab tidak mendidik anak untuk bisa membaca. Kalau bapak presidenmu berasumsi agar anak masa depan bangsanya pandai menulis. Bantahlah dengan tutur yang lembut, bahwa menulis itu adalah efek dari seseorang yang membaca, meski tidak semua pembaca akan menjadi penulis. Akan lebih baik jika bapak presidenmu itu memberikan buku bacaan agar anak-anak semakin rajin membaca.
Oh ya, bapak presidenmu kan sejak awal memiliki jargon revolusi mental. Sementara mental merupakan satu diantara moralitas. Kalau membaca dan menulis garudaindonesia saja tidak bisa, lalu bagaimana moralitasnya. Moralitas adalah modal untuk menapaki jenjang pengetahuan. Antara moralitas dan pengetahuan, hal yang paling sulit untuk dicapai subtansinya adalah moralitas. Karena sulit membentuk moral pada anak, maka masyarakat kita mendidik moral pada anak-anaknya intens dan sejak dini. Agar anak-anak terbiasa dengan moral yang baik. Kalau moralitasnya baik, di usia dewasa dengan waktu singkat seorang anak mungkin dengan mudah menerima pengetahuan dari pucuk Amerika hingga ujung Australia. Sementara teknologi adalah buah dari pengetahuan yang sudah diijtihadi dari moral. Kalau moral pembuat teknologi itu baik maka kemungkinan teknologi itu bermanfaat dan berkah. Begitu pun sebaliknya.
Jadi, yang bapak presidenmu lakukan selama ini, bukan merevolusi mental, melainkan merevolusi infrastruktur. Sebab mental itu bisa kokoh jika dibangun sejak usia anak-anak dan hidayahnya Allah. Jadi tidak mungkin dalam waktu singkat, apalagi lima tahun, bapak bisa merevolusi mental. Tapi ada satu yang mungkin sedikit bisa membantu dalam perubahan mental anak-anak bangsamu pak. Yakni ketika engkau memberikan pertanyaan dan tiap yang engkau tanyai engkau beri sepeda. Itu sedikit membantu mengatasi global warming pak. Tapi Sholeh kemana ya pak, kok mendadak tidak ada di hadapan saya. Gara-gara kids zaman now bangsamu, ia hilang mungkin pak.
—
HB. Arafat, santri Kiai Ahmad Salim, Kudus
