Selfie, Zaman Now dan Mbah Luroh
Oleh HB. Arafat
-
Tidak hanya saya yang termasuk dalam zaman now. Ibu-ibu ternyata mengidap salah satu penderitaan zaman now, yakni selfie. Ketika sedang asik-asiknya selfie, mbah Luroh yang mestinya terhindar dari godaan zaman now memanggil saya, meminta untuk mengambil gambar beliau. Meski sebenarnya saya terganggu, lantaran nikmat mana selain selfie yang akan (pemuda zaman now seperti) saya dustakan. Namun ketergangguan saya kalah oleh etika seorang murid harus patuh dengan gurunya selama tidak melakukan kejahatan. Etika sesama manusia yang harus saling menghormati, disitulah kekalahan saya. Maka kali ini maafkan saya yang zaman now ini, tak bisa mengunggah foto-foto saya kepada engkau-engkau.
Terlepas mbah Luroh itu guru ngaji alif ba ta tsa jim, photography merupakan bidang yang saya gemari meski dengan alat jepret seadanya. Sehingga dalam keadaan terganggu pun, saya menikmati mengambil gambar beliau, apalagi beliau juga mengajak Mamak untuk berswafoto. Meski usia mbah Luroh sudah bisa dikatakan “tua”, lantaran usia beliau sudah 50 tahun lebih, ditambah lagi beliau sudah memiliki banyak cucu. Beliau tetap berpenampilan bak perawan ting-ting. Lipstiknya merah jambu menyalakan bibirnya, ditambah lagi lip glossnya yang kemilau sebagaimana pijar lampu. Di pipi beliau dipolesi bedak yang mereknya saya tidak tahu apa, di atasnya sedikit ditumpangi bedak berwarna merah muda, yang saya sendiri pun tidak tahu apa namanya. Bawah matanya digoresi eyeliner yang hitam gerhana.
Mbah Luroh dengan kecantikannya tampak sebagaimana perawan yang menanti kekasih yang tak kunjung menemuinya. Padahal beliau sudah menjadi istri seorang pemuka agama nomer wahid di desa. Konon perubahan penampilannya, dari yang mulanya cantik nature beralih menjadi cantik modif, disebabkan dua tahun lalu. Saat suaminya menikah lagi secara diam-diam—kok kayak dakwahnya kanjeng Nabi di periode awal: diam-diamnya—, dan beliau mengetahuinya dari investigasinya sendiri, bukan dari mulut suaminya. Semenjak itulah, mungkin beliau merasa tersaingi dengan istri muda suaminya, sehingga beliau berusaha tampil cantik, agar tak kalah dengan istri muda. Tapi mungkin lo ya, sebab saya tidak pernah bertanya langsung kepada beliau mengenai perubahannya.
Daripada terus menelisik musabab perubahan beliau, alangkah baiknya saya melanjutkan aba-aba “satu, dua, tiga, cekrek” sekaligus mengambil gambar beliau. “Satu, dua, tiga, cekrek” tiap mengambil gambar beliau selalu saya katakan frasa tersebut untuk memberitahu bahwa beliau dalam keadaan dijepret, sehingga bisa berpose semenarik mungkin. Maklum, beliau aslinya manusia zaman old, namun ingin sebagaimana manusia zaman now, sehingga begitulah adanya, dulur-dulur saya yang berada dalam rahmat selfie. Padahal, saya paling suka mengambil gambar dalam keadaan candid, sehingga akan lebih naturistik hasil dari sudut pandangnya. Berhubung saya manusia zaman now yang baik, maka saya harus mengikuti arus manusia zaman old, selama tidak keluar jalur zaman. Bukan soal saya yang tidak memiliki pendirian, meski belum bisa mendirikan (bangunan) rumah sendiri, namun bagi saya toleransi, tepa slira adalah kunci untuk berhubungan sosial, apalagi saya kan manusia zaman now yang dalam rahmat selfie.
Seusainya mengambil gambar mbah Luroh, Mamak, ibu-ibu lain pun tak mau ketinggalan untuk meminta saya mengambil gambar di gapura masuk menuju makam Kyai Ahmad. Satu per satu gantian saya ambil gambarnya, meski alatnya hanya smartphone—mereknya oppo ya enaknya? Setelah semua sudah diambil gambarnya, baik sendiri, bersama sahabat dekat dan saudaranya, kini saatnya saya mengambil gambar semua jamaah ziarah ibu-ibu. Setelahnya kami pun berjalan menuju makam Kyai Ahmad, yang kanan kirinya dikelilingi tetumbuhan dan bangunan dinding artistik nature. Ohya, kalau engkau ingin diambil gambarnya, engkau bisa menghubungi kontak person di instagram @arafatphotographyzone dan @rifamap. Mari menuju makam Kyai Ahmad dan diri masing-masing.
—
HB. Arafat, santri Kiai Abdul Halim Akhwan, Mejobo-Kudus
