Qunut
Oleh HB. Arafat
-
“Sami’a Allahu liman hamidah.”
“Rabbana lakal hamdu mil ‘us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil ‘u maa syi’ta min syai’in ba’duh.”
Stop, jangan keburu takbir dan sujud dahulu. Lantaran di rekaat kedua ada do’a qunut yang mesti kita “amini” yang dilantunkan mbah Ta’ib. Do’a qunut mesti dijalankan ketika sholat Shubuh berlangsung, sebab dahulu kanjeng Nabi Muhammad juga melaksanakannya. Meski di beberapa sumber lain mengatakan, Beliau Nabi tidak melaksanakan do’a qunut dalam sholat shubuhnya. Sumber lain mengatakan, Beliau Nabi hanya melaksanakan do’a qunut ketika terjadi bencana yang melanda daerahnya. Jadi untuk engkau yang tidak do’a qunut lantaran memakai sumber lain itu atau lantaran tidak sholat shubuh, janganlah kalian mengatakan kepada kami bahwa yang kami lakukan itu salah. Jika pun yang benar adalah kanjeng Nabi tidak melakukan do’a qunut, semoga yang batal hanya do’a qunutnya saja, tidak keseluruhan sholat kami.
Jika pun yang benar adalah kanjeng Nabi hanya melakukan do’a qunut ketika terjadi bencana di daerahnya. Nyatanya di daerah kami tiap detik terjadi bencana manipulasi informasi dan kebohongan pengetahuan yang dilangsungkan secara berjamaah. Tiap menit, chatingan bagi-bagi sedekah antara fraksi A dan fraksi B, antara komisi C dan komisi D, antara kementrian E dan kementrian F, antara lembaga G dan lembaga H, tetap berlangsung tanpa ada pengadilan dan keadilan yang berlaku untuk menghukum mereka. Tiap jam, mulut dibungkam atas nama makar, tangan dirantai atas nama merongrong kedaulatan, kaki diserimpung atas nama menjaga keutuhan negara. Padahal mulut yang dibungkam, tangan yang dirantai dan kaki yang diserimpung adalah tuan rumahnya sendiri, pribumi asli. Sementara tiap hari lahir nabi-nabi baru, entah namanya hari baik, hari buruk maupun hari tanu. Yang dengan mukjizat global televisinya,
Bukankah dengan bencana semacam itu mestinya kewajiban do’a qunut tidak saja berlaku hanya di sholat shubuh saja. Melainkan tiap sholat yang engkau jalani harus disertai do’a qunut. Semoga Habib yang Rizieq, Kiai yang Sa’id, Din yang Samsudin, serta tokoh-tokoh lain berkenan bertemu untuk bermusyarawah dan merundingkan kembali hadirnya Khittah NKRI 45’. Jadi untuk engkau yang tidak memakai do’a qunut baik dikarenakan sumber yang tidak memperbolehkan maupun yang tidak sholat shubuh karena kesiangan bangunnya. Marilah dipikir ulang untuk menyalahkan kami-kami yang tiap shubuhnya memakai do’a qunut. Jika pun yang benar itu sumber yang kami pakai, bahwa kanjeng Nabi memakai do’a qunut pada tiap shubuhnya, engkau mau apa? Mau merevisi hadits kah?
Maka daripada kita terus mentradisikan luka lama orang tua kita dahulu. Sebab dahulu, ketika ada yang tidak memakai do’a qunut di dalam shubuhnya akan dimusuhi secara sosial mereka yang memakai do’a qunut. Begitu pun sebaliknya. Toh nyatanya, kita sebagai manusia-manusia milenial jaman now, tidak akan sempat mempergunjingkan dan memperdebatkan do’a qunut. Lantaran kita tiap bangun tidur selalu kalah dengan bangunnya metromini, angkota dan kendaraan umum lainnya. Jadi perdebatan do’a qunut tidak lagi relevan semenjak sholat shubuh tidak ngetren lagi.
Saya mencoba sedia payung sebelum hujan, sedia teduh setelah payung alias payung teduh, sedia hujah sebelum datang hujat. Karena di beberapa wilayah mulai lahir Gerakan Shubuh Berjamaah. Kalau gerakan itu ngetren, mungkin perdebatan do’a qunut akan ikut ngetren juga. Ngetren sih enggak apa-apa asal jangan paytren dan ayam tiren. Engkau tahu kan betapa kedewasaan masyarakat hari ini, hal-hal semacam itu tidak lagi penting untuk memicu pertengkaran. Yang masih belum dewasa adalah yang nikung reklamasi, nikung meikarta dan nikung LRT, MRT lainnya. Sudah tahu itu haknya masyarakat pribumi, masih saja ditikung. Jadi kalau nanti ada ribut-ribut, ricuh-ricuh karenamu, saya tidak ikut-ikut.
“Allahu Akbar.”
—
HB. Arafat, santri Kiai Sumadi, Kudus
