Seusainya Malang, Sesampainya Jombang
Oleh HB. Arafat
-
Seusai berkeliling di pondok pesantren yang didirikan Kyai Ahmad, kami kembali menuju parkiran bus. Di jum’at pagi yang semoga mabruk, sebagaimana penjaja buah apel Malang yang riang menawarkan dagangannya yang ada tulisan “Rp. 10.000,-”. Sebagian ibu-ibu membelinya, sebagian lainnya terus berjalan menuju parkiran. Saya menemani kang Toha menanyakan harga pasar, lokasi dan hal-hal mengenai usaha buah yang ditekuni penjaja itu. Sementara itu, saya memegang-megang buah apel yang hijau muda kulitnya. Saya tidak membelinya, lantaran sisa uang saku, saya simpan untuk menuntaskannya di Jombang dan Tuban. Selain itu, saya tadi sudah membeli kripik apel yang murah harganya, 10.000,-dapat empat bungkus sedang. Namun mengecewakan lantaran isinya hanya beberapa potong per bungkusnya.
Seusainya bertanya-tanya, kami pun bergegas menuju parkir bus. Jam smartphone menunjukkan pukul 07.45 WIB, bus berjalan meninggalkan parkir PP. SBBAFR. Sebagaimana perjalanan sebelumnya, karaoke menjadi pilihan untuk menghibur diri daripada mabuk perjalanan. Di dalam bus, saya nyanyikan lagu rindu, sebab engkau tak ada di samping saya. Sepanjang perjalanan saya nikmati lagu-lagu dangdut dengan microphone wireless, menyanyikan rindu, bergantian dengan kang Toha. Sampai pada akhirnya, sebagaimana yang hidup akan mati, yang sehat akan sakit, yang menang akan kalah, yang kuat akan lemah, kami pun tak sanggup melanjutkan diri untuk bernyanyi. Bukan berarti kami lemah, lantaran sebelum kami kalah oleh rasa kantuk, ibu-ibu yang hanya mendengarkan suara kami sudah kalah oleh kantuknya di dua hingga lima lagu yang kami nyanyikan. Jika pun harus dikatakan kami lemah, setidaknya rasa kantuk saya dimulai diakhir, saat semua ibu-ibu sudah tertidur. Di Sidoarjo, kami pun tertidur.
Seusainya saya tertidur, tanpa dirasa bus sudah sampai di Jombang, tepatnya area pakrik Makam Gus Dur. Bersamaan itu pada pukul 11.30 WIB, saya dibangunkan kang Toha untuk menuruni bus. Saya turun menemui Mamak, memintakan beliau makan siang. Maklum sejak pagi di Malang, saya belum makan. Kalau pun harus makan di dalam bus, bagi saya lebih baik tidak. Lantaran makan di dalam bus itu bagai makan di tengah-tengah tanggul daerah Demak. Engkau tahu belum bahwa tanggul di daerah demak terkenal dengan tumpukan emas yang konon najis kalau dipegang. Oh ya, di Demak saat ini sedang gencar kampanye “Ojo Ngising Sembarangan!! Ayo Ngising Nok Kakus (WC)”—artinya imbauan jangan berak secara sembarangan tanpa ada modul dan teknik dalam perngisingan. Dan imbauan untuk buang air besar di dalam Ka(s)kus atau situs media sosial sebelah itu lo—. Lalu di pamflet itu ada tulisan “Menuju Demak (enter) Bebas Buang Air Besar”, silahkan diartikan sendiri ya guys. Begitulah kabupaten kebanggaan kami dengan bupati semacam itu. Padahal dahulu merupakan kerajaan besar.
Sesampainya saya bertemu Mamak, saya minta bekal makanan yang beliau punya untuk mengganjal perut kosong sejak tadi malam di Makam Maulana Ibrahim AsSamarkand. Ternyata beliau hanya memiliki permen saja, bekal makanan sudah habis tadi malam. Tak lama kemudian, ada pedagang minuman dan makanan yang menjajakan. Tanpa pikir panjang, langsung saya beli nasi rames dan es teh, untuk melawan kelaparan yang saya alami. Kelaparan dan kekenyangan itu tidak baik, yang baik itu lapar. Berhubung saya kelaparan, maka perlu lah saya makan. Selain itu, suhu parkir bus Makam Gus Dur, teramat panas, maka kesegaran es teh akan meredakan panas panas dari luar diri. Meski sejatinya, panas yang datang dari luar diri manusia sanggup disegarkan manusia sendiri tanpa mendapat kesegaran dari luar diri manusia.
Sesampainya kenyang tiba pada tubuh, pikiran, hati dan syaraf-syaraf pun terkoneksi secara kompatible. Efeknya kesadaran saya pun hadir. Saya teringat, ini kan hari jum’at yang mestinya jum’atan, kenapa kami tidak shalat jum’at. Saya pun mengajukan pertanyaan kepada mbah Ali. Berhubung populasi dari jamaah dalam bus lebih banyak wanita daripada laki-lakinya, maka shalat jum’at diganti shalat dhuhur yang akan dijama’kan dengan shalat ashar di waktu ashar. Hal tersebut sebagai toleransi agar ibu-ibu merasa aman ketika ada laki-laki yang membersamainya. Begitulah kira-kira yang mbah Ali sampaikan. Kedua, kenapa kami kok masih menunggu di terminal, tidak langsung menuju area Makam. Beliau pun menjelaskan bahwa shalat jum’at sedang berlangsung, demi menghormati dan menghargai yang sedang beribadah, kami mesti menghindar dari kerumunan jamaah shalat jum’at.
Sesampainya pada pukul 13.00 WIB, yang kami rasa shalat jum’at pasti sudah selesai. Kalau khotibnya menghargai kesibukan jamaah, maka biasanya khotbah jum’at tidak akan panjang, lebar dan tinggi. Namun kalau khotibnya kebangetan ya, akan berpanjang-panjang, sepanjang air matamu menangisi kenangan, sepanjang sungai kenangan mengalir di ingatanmu, dan berlama-lama, selama engkau meratapi mantan-mantanmu dan tidak lekas move on. Sesampainya pada kemungkinan yang menjelaskan bahwa sholat jum’at sudah usai, kami bergegas jalan kaki menuju makam. Sesampainya di makam ternyata Makam Gus Dur belum di buka. Terpaksa kami menunggui terbukanya pintu diantara para pedagang.
—
HB. Arafat, santri Ust. Mudlofar Hasyim, Kudus
