Jomblo dan Gerakan Shubuh Berjamaah
Oleh HB. Arafat
-
Di rekaat kedua, mbah Ta’ib membaca surat Al Insyiroh seusainya al fatihah. Lupakanlah shaf dan LGBT sebelumnya, lantaran sebelah kanan saya, mbah Ali dan sebelah kiri saya, kang Toha. Mereka berdua tidak memiliki rekam jejak perLGBTan atau perbungaan, baik ketika di pesantren maupun di kampung. Meski kang Toha masih memiliki kecenderungan untuk dikatakan bagian dari LGBT, lantaran di usia yang siap nikah, ia belum menikah. Oh ya, saya kan senasib. Jangan-jangan saya juga. Maka baiknya saya tidak berpikir soal LGBT, kalau-kalau ada yang mendengar dan mengetahui akan mempertegas kejombloan saya.
Definisi jomblo tidak sebatas pada ketidakmemilikinya kekasih atau pacar saja. Lebih dari itu, meski saya memiliki kekasih atau pacar, selama saya belum berani membelikannya cincin dan menaruhnya di jemari manisnya. Lalu dalam tempo selekas-lekasnya memberi undangan kepada pak Naib untuk mencatat kami berdua sebagai sepasang suami dan istri. Maka bisa dikatakan saya termasuk jomblo, namun tidak termasuk dalam zona jomblo akut. Sementara jomblo akut ialah engkau-engkau yang masih menikmati kesendirian, bahkan untuk berkenalan—biar tampak religius sebut saja ta’aruf— dengan wanita engkau tidak berani. Sungguh kiamat semakin dekat ketika populasi jomblo semakin membludak, padahal banyak wanita yang menantimu untuk engkau kenali dan nikahi. Sungguh malang nasibmu mblo. Meski malang, saya sarankan jangan sampai engkau mendirikan IJNU (Ikatan Jomblo Nahdlatul Ulama’), karena nanti Gus Dur akan menghampirimu sembari bilang “gitu saja kok repot”.
Daripada engkau meratapi nasibmu sebagai jomblo dan jomblo akut. Rapatkanlah shaf bersama kami—asal tidak sebagai organisasi diatas— untuk mendekat dengan Pemilik para wanita—yang tentunya jomblo. Kalau istrinya orang, engkau akan kemana mencari perlindungan jika bojonya tahu engkau merebut bojonya. Sebab tidak memungkinkan Allah memintamu untuk nikung bojo. Apalagi kalau bojo itu, bojonya temanmu—. Syukur-syukur sehabis salam kedua, engkau diberikan gambaran calon bojomu ketika engkau menengok sebelah belakangmu. Tapi dalam jamaah kami yang ada hanya ibu-ibu yang masih menjadi bojonya orang serta janda. Ataukah engkau mau janda? Menikahi janda itu sunnah rasul lo. Kalau engkau tidak berkenan, silahkan cari masjid lain yang sekiranya banyak gadis yang belum dipersunting pria mana pun mblo.
Barangkali begitulah muasalnya terlahir Gerakan Shubuh Berjamaah. Meski sebenarnya sudah puluhan tahun kiai-kiai pesantren memulainya di pesantren dan langgarnya tanpa pamflet, baliho, broadcast dan sebaran-sebaran sosmed lainnya. Yakni kegelisahan antar pria jomblo yang saling bertemu dalam rangka belum menemukannya wanita sholehah. Padahal wanita sholehah sejatinya tidak ada selama kalian para pria belum bisa menjadi pria sholeh terlebih dahulu. Maka engkau yang berpikir sholeh hanya sebatas pada rajinnya sholat berjamaah, terlebih sholat shubuh, dengan semangat 45’—apa hubungannya sholat shubuh dan tahun 45’ ya? Coba kita tanya pada sajadah panjang yang digelar— berkoar-koar di sosmed untuk satu tujuan Gerakan Shubuh Berjamaah (Demi Mendapat Wanita Sholehah).
Jadi engkau tahu sendiri kan sebenarnya siapa yang shubuhnya lillahi ta’ala dan siapa yang shubuhnya liwanita sholehah. Meski begitu kita patut bersyukur, lantaran mereka sudah berusaha berjuang untuk tidak tidur dan bangun di udara yang dingin dan berkabut. Bukan begitu kang Ridlwan Kamil? Ah sudahlah kang Emil, mending kita ke Bandung saja, lantaran disana adalah lautan api. Jadi kan hangat, meski di waktu shubuh. Bersyukur pula mbah Ta’ib membaca surat al insyirah, mblo. Lantaran di surat itu menegaskan bahwa kesusahan selalu hadir bersama dengan kemudahan. Tidak ada mudah-mudah saja, tidak pula susah-susah saja. Sebab susah dan mudah itu satu paket yang mesti engkau jalani sebagai ritus untuk menemukan wanita sholehah, ups, maksud saya kehidupan sejati.
“Allahu Akbar”
“Subhana Rabbiyal ‘Adhimi wa bihamdih. Subhana Rabbiyal ‘Adhimi wa bihamdih. Subhana Rabbiyal ‘Adhimi wa bihamdih."
—
HB. Arafat, santri Kiai Musyafa’ Durri, Singocandi-Kudus
